7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ilustrasi
Dream - Perlambatan ekonomi memang tengah melanda dunia. Namun sepanjang tahun ini, hampir setiap pekan Cina mampu melahirkan miliarder baru. Laporan terbaru dari UBS AG dan PricewaterhouseCoopers mengupas fenomena tersebut.
James Chang, managing partner konsultasi jasa keuangan di PwC China, mengatakan pertumbuhan yang cepat dari miliarder China dipicu booming Internet dan industri internet mobile. Tumbuhya pasar modal di negara tersebut juga ikut menambah jumlah orang kaya di Negeri Tirai Bambu tersebut.
Selama ini Cina memang mendorong masyarakat untuk membangun bisnis sendiri dan dituntut lebih inovatif. Hal ini memicu lebih banyak orang muda untuk mendapatkan kekayaan sendiri.
" Self-made miliarder baru muncul dari industri yang sedang berkembang yang menggabungkan internet mobile, big data dan teknologi awan dengan sektor tradisional, termasuk obat-obatan, mobil dan jasa keuangan," kata Chang.
Miliarder Cina sebelumnya sebagian besar terkonsentrasi di sektor seperti konsumen, manufaktur dan real estate. Kini semakin banyak yang muncul dari industri keuangan dan teknologi tinggi, katanya.
Karen Chen, presiden UBS Ltd Cina, mengatakan terjadi pertumbuhan miliarder yang lebih luas di Asia. Semua itu terkait dengan kekuatan ekonomi Cina, kemajuan urbanisasi dan peningkatan harga rumah yang cepat.
Hampir seperlima dari miliarder mandiri di Asia, dengan kekayaan rata-rata US$ 3,2 miliar, bekerja di sektor konsumen. Sementara 12,9 persen, dengan kekayaan rata-rata US$ 2,7 miliar, bekerja di sektor properti di kawasan itu.
Chen mengatakan banyak miliarder di Asia telah mengembangkan kekayaannya dengan melakukan bisnis dengan Cina, meskipun persentase miliarder negara ini masih kecil secara global.
Namun, dia mengharapkan akan melihat pertumbuhan self-made miliarder di Cina dan negara Asia lainnya, meskipun mereka akan menghadapi tantangan ekonomi BRICS yang melambat.
Laporan ini dihasilkan dari survei terhadap 1.300 miliarder di seluruh dunia dengan total kekayaan US$ 5,4 triliun. Dari mereka, 917 adalah self-made miliarder, yang menciptakan kekayaan lebih dari US$ 3,6 triliun selama 19 tahun terakhir.
Amerika Serikat dan Asia telah menjadi pusat utama pencetak kekayaan di dunia selama dekade terakhir. Sekitar 47 persen self-made miliarder kini berbasis di AS, 36 persen ada di Asia dan 17 persen berasal dari Eropa.
Laporan itu mengatakan Asia akan mengambil alih posisi AS sebagai pusat utama pencetak miliarder dalam 5 sampai 10 tahun ke depan. Hal ini akan menyebabkan populasi miliarder memiliki lebih banyak ragam budaya dan usia yang lebih muda, termasuk kaum wanita.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?