Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Pemerintah terus melakukan pengetatan anggaran dengan efisiensi subsidi. Tahun 2016 mendatang beberapa langkah dipilih agar belanja subsidi lebih tepat sasaran, seperti pemberian subsidi secara langsung.
“ Untuk subsidi listrik kita ingin memberikan subsidi langsung untuk pelanggan rumah tangga miskin dan rentan yang mempunyai daya 450 VA,” ujar Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, seperti dikutip dari laman situs Kementerian Keuangan, Kamis, 4 Juni 2015.
Sementara itu, lanjutnya, bagi pelanggan listrik 900 VA, subsidi akan diberikan secara lebih selektif. Hal ini dilakukan mengingat banyak pelanggan listrik 900 VA yang ternyata tidak termasuk rumah tangga miskin dan rentan, sehingga tidak berhak memperoleh subsidi.
“ Yang 900 (VA) kita berikan subsidi sampai dengan KWH tertentu untuk pelanggan rumah tangga miskin dan rentan. Jangan lupa, di 900 VA ini kadang-kadang yang masuk bukan rumah tangga kecil atau rumah tangga miskin, tapi apartemen, dan itu sebenarnya tidak layak untuk dapat subsidi, karena itu kita ingin perbaiki sistem subsidinya,” tegas Bambang.
Selain itu, pemerintah juga akan memperbaiki sistem pemberian subsidi nonenergi, terutama subsidi pangan dan pupuk agar lebih tepat sasaran. Untuk subsidi pangan, pemerintah masih akan menyalurkan beras untuk keluarga miskin (raskin) dengan perbaikan pada akuntabilitas dan pengelolaannya.
Sementara itu, untuk subsidi pupuk, pemerintah akan mengubah secara bertahap skema penyalurannya, dari subsidi harga menjadi subsidi langsung kepada petani yang termasuk dalam rumah tangga miskin dan rentan.
“ Karena selama ini subsidi pupuk yang jumlahnya cukup besar, sekitar Rp30 triliun itu sering salah sasaran. Artinya bukan dibeli oleh petani yang membutuhkan, tetapi dibeli oleh perkebunan, tapi dengan harga subsidi. Nah ini yang akan kita bereskan,” pungkasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya