Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pelaku Koperasi Meminta Pemerintah Untuk Memperkuat Koperasi Produksi Dan Orientasi Ekspor. (Foto: Merdeka.com)
Dream – Pemerintah harus membangun sektor riil untuk mengatasi pelemahan rupiah dalam jangka panjang. Salah satunya sektor riil yang melibatkan koperasi dan usaha kecil menengah (UKM).
“ Jika pembangunan koperasi berjalan lancar, koperasi yang berbasis sektor riil akan hidup dan fundamental ekonomi akan kuat,” kata Ketua Umum Asosiasi Manajer Koperasi Indonesia (AMKI), Sularto, di Jakarta, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Kamis, 5 September 2018.
Dia menilai ada yang keliru dalam penanganan nilai tukar rupiah yang sudah terjadi sangat lama. “ Saat ini, pelemahan rupiah hanya didekati dari sisi moneter,” kata Sularto.
Sularto menilai fundamental ekonomi yang kuat harus digerakkan dengan membangun industri. Industri yang dimaksud pun bukan hanya industri pemenuhan kebutuhan dalam negeri, tetapi juga berorientasi ekspor.
“ Saat ini, nyaris tidak ada koperasi yang mampu bergerak di sektor riil, apalagi yang menyumbang ekspor,” kata dia.
Sularto menyarankan pemerintah giat membangun koperasi agar lebih kuat dalam tata perekonomian saat ini. Menurut data anggota koperasi Indonesia pada Desember 2017, jumlah koperasi aktif di Indonesia ada 153.171 unit dan anggotanya 26,53 juta orang.
“ Kami mencatat, dari sekian ribu koperasi di Indonesia, koperasi yang bergerak di sektor riil, apalagi berkontribusi pada ekspor, masih bisa dihitung jari. Ini adalah ironi di tengah usia koperasi Indonesia yang sudah (berumur) 71 tahun lebih,” kata dia.
Sekadar informasi, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah mencatat kontribusi sektor koperasi terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) per triwulan III 2017 mencapai Rp452 triliun atau 4,48 persen dari PDB yang mencapai Rp10.096 triliun.
“ Kami menyakini, jika koperasi sektor produksi dan berorientasi ekspor dibangun dengan baik, kontribusi koperasi terhadap PB akan naik,” kata dia.
Dream - Tahun ini, rupiah termasuk salah satu mata uang yang kinerjanya jeblok di kawasan regional. Analis menyebut “ kekacauan” di pasar berkembang disebabkan oleh krisis lira Turki.
“ Kepemilikan asing yang tinggi pada obligasi ditambah dengan utang dolar AS perusahaan Indonesia yang meningkat juga membuat (rupiah) cenderung lebih lemah,” ujar Kepala Ekonomi dan Strategi di Mizuho Bank, Vishnu Varathan.

Porsi utang pemerintah dalam dolar AS mencapai 41 persen. Jika rupiah semakin tergerus, utang akan lebih mahal untuk dibayar kembali.
“ Kalau kenaikan utang di negara berkembang meningkat dan harga minyak naik menjelang sanksi Iran, risiko tembus Rp15 ribu jelas di depan mata,” kata Vishnu.
Dream - Ekonom DBS, Radhika Rao, mengatakan, otoristas telah melakukan intervensi terhadap pasar. Namun, kata dia, intervensi ini tidak efektif.
“ Di tengah-tengah penurunan yang lebih luas dalam mata uang regional, upaya intervensi membantu untuk memperlancar downdraft, tetapi akan menjadi tantangan untuk membalikkan arah,” kata dia.

Rao mengatakan, BI melakukan beberapa langkah untuk memperkuat rupiah, seperti membatasi impor dan menaikkan suku bunga BI.
“ Untuk saat ini, pasar melihat Indonesia bekerja keras untuk menjaga stabilitas makroekonomi, misalnya menaikkan suku bunga lebih untuk menangkis volatilitas, nilai tukar, dan mempertahankan konsolidasi fiskal,” kata dia.
Dream - Pakar mengingatkan pemerintah untuk waspada terhadap dolar AS yang berpotensi menembus Rp15 ribu. “ Mungkin saja, tetapi belum akan memicu krisis,” kata Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal, dilansir dari Merdeka.com.

Fitra mengatakan pelemahan rupiah ini akan memicu psikologi pasar dan masyarakat. Dua pihak ini akan membandingkan dengan pelemahan rupiah yang juga tembus Rp15 ribu. Walaupun keadaan makroekonominya berbeda, psikologi pasar dan masyarakat akan terguncang.
“ Kita harus waspada terhadap faktor ekspektasi yang semakin liar ketika itu masuk ke level psikologis 15 ribu. Iya betul (seperti tahun 1998),” kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya