Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (upload.wikimedia.org/)
Dream - Pertumbuhan yang pesat dalam waktu satu dekade terakhir, dengan PDB yang berkembang hampir dua kali lipat, mengakibatkan kerusakan bagi lingkungan hidup dan Sumber Daya Alam di Indonesia.
Menurut Managing Director Bank Dunia Sri Mulyani Indrawati, Indonesia membutuhkan perubahan sesegera mungkin untuk dapat mempertahankan pertumbuhan yang berkelanjutan.
“ Jika kita ingin berhasil dalam mengentaskan kemiskinan, kita tidak bisa hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi saja, kecuali pertumbuhan tersebut bersifat inklusif dan berkelanjutan bagi lingkungan,” jelasnya pada Indonesia Green Infrastructure Summit 2015 di Jakarta, seperti dilansir melalui laman Kementerian Keuangan, Rabu, 10 Juni 2015.
Menurut Mantan Menteri Keuangan RI tersebut, pertumbuhan “ kotor” harus diganti dengan pertumbuhan “ hijau”. Pertumbuhan itu dekat sekali hubungannya dengan infrastruktur, yang menjadi kunci suatu negara untuk mencapat potensi maksimalnya.
Bank Dunia akan membantu negara-negara yang membutuhkan bantuan untuk mencapai potensi maksimalnya. Dengan kebutuhan akan pertumbuhan “ hijau”, Bank Dunia menyambut kesempatan untuk beralih ke proyek-proyek infrastruktur yang lebih bersih, lebih berkelanjutan dan inklusif, baik di Indonesia dan di seluruh dunia.
“ Memilih infrastruktur hijau hari ini akan membawa manfaat selama beberapa dekade ke depan. Negara-negara berkembang bisa memimpin dan melakukan lompatan dari pertumbuhan ‘kotor’ ke pertumbuhan ‘hijau’,” tandasnya. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya