Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Duh, Dua Indeks Terjun Bebas.
Dream - Menutup perdagangan jelang akhir pekan, indeks syariah akhirnya tak bisa kembali ke zona positif. Aksi ambil untung para investor memanfaatkan momentum kenaikan beberapa hari menekan laju indeks.
Papan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat 13 April 2018 mencatat Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI), melemah 1,760 poin (0,93%) ke level 186,837.
Di awal sesi perdagangan, indeks ISSI sempat bergerak menguat setelah investor mendapat sentimen positif dari peningkatan prospek peringkat surat utang Indonesia oleh Moodys. ISSI dibuka menguat di level 188,723.
Namun kenaikan itu hanya berjalan sesat setelah investor memanfaatkan kenaikan tersebut untuk mencoba mengambil untung. Hingga akhir sesi penutupan, ISSI sempat menyentuh level terendah di 186,837.
Kondisi serupa juga terjadi pada indeks keping biru syariah, Jakarta Islamic Index (JII). Dengan hanya 6 penghuninya yang bergerak menguat, indeks JII ditutup melemah 11,061 poin (1,51%) ke level 721,127. Ini merupakan level terendah yang dialami indeks JII.
Hingga sesi paska-penutupan perdagangan, sebanyak 50,50 miliar saham syariah berpindah tangan dengan nilai transaksi mencapai Rp3,18 triliun. Investor asing masih melakukan aksi jual saham dengan nilai yang menurun menjadi Rp234 miliar.
Kondisi bursa regional yang variatif membuat investor beramai-ramai melepas sahamnya. Ini terlihat dari laju sebagian besar indeks sektoralnya yang terkoreksi. Ada tiga indeks yang " babak belur" yaitu industri aneka yang indeksnya melorot 2 persen, infrastruktur 1,97 persen, dan barang konsumsi 1,28 persen.
Sementara dua indeks sektoral lainnya berhasil keluar dari tekanan jual yaitu pertanian yang menguat 0,17 persen dan pertambangan 0,53 persen.
Emiten bluechip syariah yang dibidik investor adalah INCO yang harga sahamnya naik Rp120, BRPT Rp80, ADRO Rp20, ANTM Rp15, dan PTBA Rp10.
Sebaliknya, saham UNVR merosot Rp1.500, diikuti dengan ASII Rp200, LPPF Rp150, UNTR Rp100, dan TLKM Rp90.
Dari pasar uang, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS justru menguat seharian. Kurs rupiah terhadap dolar AS menguat 24 poin (0,17%) ke level Rp13.754 per dolar AS.
(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya