Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
Menteri BUMN Erick Thohir (Foto: Liputan6.com)
Dream - Perkembangan teknologi mengubah hidup manusia. Salah satu transisi yang sudah mulai terlihat adalah pembayaran elektronik tanpa uang tunai yang melahirkan cashless society atau masyarakat yang berbelanja secara non tunai.
Kemudahan dan kepraktisan istilah cashless seperti adanya transaksi e-banking dan m-banking, pembayaran di kafe, pusat perbelanjaan menggunakan kode QR, dan masih banyak lainnya.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir dalam diskusi ‘Menuju Masyarakat Cashless’ yang digelar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wilayah DKI Jakarta mengungkapkan fenomena cashless untuk saat ini hanya populer di kalangan masyarakat perkotaan. Hal ini bisa dimaklumi karena proses menuju masyarakat cashless baru mulai berjalan.
Erick yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) ini mengungkapkan beberapa faktor yang menyebabkan cashless society masih perlu didorong adalah tingkat pendidikan masyarakat. Rata-rata penduduk di Indonesia masih mengenyam pendidikan SD-SMP.
“ Tentu konteksnya kita masih menuju karena kalau kita lihat di demografi pendidikan bangsa kita itu kan rata-rata masih SD SMP,” kata Erick Thohir di Jakarta Pusat, Rabu, 3 Agustus 2022.
Erick mencontohkan fenomena cashless yang belum menyentuh masyarakat pedesaan itu terlihat dari fasilitas BRILink yang disediakan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. Dengan 500 ribu agen BRILink di sejumlah toko kelontong di Indonesia, Menurut Erick, meskipun melakukan transaksi ATM, masyarakat masih menggunakan uang tunai saat bertransaksi.
“ Di mana rata-rata mereka walaupun transaksi ATM tapi terima cash. Walaupun habis itu ditransfer. Tapi waktu penerimaan pertamanya masih cash," ujarnya.
Menurutnya realita yang masih ada ini harus disadari bahwa kesenjangan penggunaan transaksi nontunai antara perkotaan dan pedesaan masih ada.
" Itu realita yang kita hadapi. Memang kesenjangan antara di perkotaan dan pedesaan signifikan. Jadi masyarakat masih banyak juga menggunakan cash,” ungkap Erick.
Selain masih adanya kesenjangan, Erick juga memperingatkan era cashless yang semakin memudahkan diikuti dengan hadirnya penipuan melalui dunia digital yang semakin meningkat. Salah satu contohnya adalah pinjaman online (pinjol) yang dilakukan perusahaan ilegal dan sempat menjadi isu besar.
“ Ketika kita bicarakan cashless ini yang namanya fraud akan semakin tinggi, sistem penipuan akan makin tinggi,” katanya.
Erick bahkan menangkap potensi terjadi fraud seiring tren cashless yang meningkat juga terjadi di lembaga keuangan yang terhimpun dalam Bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
" Saya tidak mau bicara kasus per kasus karena itu masih dalam proses. Tetapi sudah ada timbul penipuan di dalam sistem digital apakah itu oknum dari luar atau oknum dari dalam.
" Ini yang memang juga saya yakin seiring, ketika cashless yang namanya penipuan juga akan makin canggih dan makin besar angkanya," pungkas Erick.
Advertisement
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28

Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane

Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama
