Ketahui Beda Batuk Biasa dan Batuk Karena Virus Corona

Reporter : Sugiono
Kamis, 26 Maret 2020 11:32
Ketahui Beda Batuk Biasa dan Batuk Karena Virus Corona
Jangan langsung panik jika menderita batuk. Belum tentu karena virus corona.

Dream - Virus corona atau Covid-19 telah menjadi pandemi di hampir sebagian negara-negara di dunia. Penyebarannya yang cepat dan meluas membuat orang-orang waspada.

Masih banyak yang kurang begitu paham dengan gejala-gejala jika seseorang terserang virus corona. Nah, salah satu gejala orang terjangkit virus corona atau Covid-19 adalah batuk.

Tetapi batuk yang dipicu oleh virus corona berbeda dengan batuk biasa yang disebabkan oleh virus influenza atau biasa disebut dengan flu.

Memang, gejala Covid-19 ini hampir mirip dengan gejala flu biasa yang dibarengi dengan demam, sakit kepala dan batuk.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut perbedaan gejala batuk akibat virus influenza dan virus corona yang perlu kamu ketahui.

1 dari 8 halaman

Batuk Biasa Karena Flu

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat, batuk akibat virus influenza sering terjadi secara tiba-tiba.

Penderita biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu yang relatif singkat. Biasanya kurang dari dua minggu.

Batuk karena virus flu ini juga akan disertai dengan pilek dan bersin-bersin. Sementara penderita Covid-19 tidak mengalami kondisi tersebut.

Kesimpulannya, jika seseorang batuk disertai pilek dan bersin-bersin, maka kemungkinan dia hanya menderita sakit flu biasa.

2 dari 8 halaman

Batuk Akibat Covid-19

Sementara itu batuk pada orang positif Covid-19 berbeda dari batuk pada penderita flu.

Dilansir The Sun, Dr Sarah Jarvis, dokter dan Direktur Klinik di Patientaccess.com mengungkapkan bahwa orang positif Covid-19 akan mengalami batuk kering yang terus menerus.

Dr Sarah kemudian memberikan ciri-ciri dari batuk kering terus menerus yang kemungkinan menjadi gejala bagi orang terjangkit virus corona.

Ciri pertama adalah penderita belum pernah mengalami batuk kering terus menerus sebelumnya. Artinya, itu bukan batuk yang biasa dirasakan, seperti orang merokok kemudian batuk-batuk.

Batuk kering ini akan terjadi setidaknya selama setengah hari. Ciri lainnya, batuk ini terjadi terus menerus. Bukan sesekali seperti orang berdehem atau ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokan.

3 dari 8 halaman

Tetap Perlu Waspada

Sesuai namanya, batuk kering adalah jenis batuk yang tidak disertai dahak. Batuk kering sangat mengganggu. Biasanya disertai dengan rasa gatal di tenggorokan.

Jadi, meski tidak selalu positif Covid-19, penderita batu kering sebaiknya waspada. Karena batuk kering ini lebih berpotensi menjadi gejala Covid-19 dibandingkan dengan batuk yang disertai dahak.

Dilansir Vox.com, selain demam, gejala Covid-19 yang paling umum adalah batuk kering dan sesak napas. Gejala-gejala ini terlihat pada hampir 90 persen orang positif Covid-19.

4 dari 8 halaman

Mengejutkan! Virus Corona Tetap Hidup di Paru-paru Korban yang Meninggal

Dream - Disebabkan ayahnya meninggal karena Covid-19, netizen Malaysia bernama Luqman Idris tak sempat melihat wajah orang yang sangat dihormati itu.

Jangankan melihat wajah untuk terakhir kali, mengurus jenazah ayahnya saja keluarganya tak diizinkan oleh rumah sakit.

Luqman dan keluarganya hanya bisa melihat proses pemakaman ayahnya yang sudah dimasukkan ke dalam peti dari jarak cukup jauh.

Tidak ada keluarga dan pelayat yang mengantar hingga ke lihat lahat. Hanya empat petugas medis dengan Alat Pelindung Diri yang memakamkan korban Covid-19.

Sebenarnya ada alasan khusus rumah sakit tidak mengizinkan keluarga menguburkan sendiri anggotanya yang meninggal akibat Covid-19.

Itu karena adanya temuan mengejutkan oleh pakar penyakit menular di Beijing, China, setelah melakukan post-mortem pada 29 pasien Covid-19.

Para pakar dari Peking University International Hospital mengatakan virus corona yang menyebabkan Covid-19 tetap hidup di paru-paru korban bahkan setelah pasien meninggal dunia.

Hasil temuan lainnya dari autopsi juga menunjukkan adanya kerusakan parah pada sistem kekebalan tubuh pasien yang dilakukan virus corona.

Yang lebih mengerikan lagi, infeksi Covid-19 tidak hanya menyebabkan perubahan patologis yang parah di paru-paru. Tetapi juga merusak bronkiolus, yang membuat pasien lebih sulit untuk bernapas.

Karena fakta virus tetap hidup di tubuh orang yang meninggal inilah yang membuat pihak rumah sakit bersikap waspada.

Mereka melarang keluarga mengurus jenazah salah satu anggota yang meninggal karena tidak ingin virus yang masih hidup itu menular.

Sumber: World of Buzz

5 dari 8 halaman

Berapa Lama Gejala Covid-19 Terasa? Simak Penjelasannya

Dream - Virus Covid-19 bisa berakibat fatal terutama pada orangtua dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah. Dengan adanya ribuan kasus virus Corona di dunia dan penyebarannya yang cepat, memicu banyak pertanyaan tentang COVID-19 ini salah satunya berapa lama gejalanya akan terjadi.

Sebelumnya, perlu diketahui terlebih dahulu apa saja gejala dari virus corona ini. Saat ini, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) hanya menyebutkan tiga gejala, yaitu batuk, demam, dan sesak napas. Tetapi sebuah laporan dari World Health Organization-China menyebutkan gejala berikut, yaitu demam, batuk kering, kelelahan, berdahak, sesak napas, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan sakit kepala.

Jika mengalami gejala-gejala tersebut, CDC menyarankan untuk tinggal di rumah untuk menghindari kontak dengan orang lain. Tapi jika gejala memburuk segera periksa ke rumah sakit terdekat.

6 dari 8 halaman

Berapa lama gejala virus corona bertahan?

Menurut CDC, gejala virus corona ini dapat muncul antara dua hingga 14 hari setelah terpapar virus. Jika memiliki gejala yang lebih ringan seperti kebanyakan orang, CDC mengatakan kemungkinan akan mengalami gejala selama beberapa hari dan merasa lebih baik dalam seminggu atau lebih.

" Banyak orang memiliki gejala selama dua minggu bahkan beberapa lebih lama dan yang lainnya lebih singkat," kata Richard Watkins, M.D., Dokter Penyakit Menular dan Associate Professor of Internal Medicine di Northeast Ohio Medical University.

Tetapi jika memiliki kasus COVID-19 yang parah sehingga menyebabkan komplikasi seperti pneumonia, maka gejala akan bertahan lebih lama.

" Pasien yang sakit parah dan membutuhkan perawatan dan terus memiliki gejala seperti sesak napas selama enam minggu atau lebih," kata David Cennimo, M.D., ahli penyakit menular dan Assistant Professor of Medicine di Rutgers New Jersey Medical School.

 

7 dari 8 halaman

Berapa lama bisa menularkan setelah positif COVID-19?

" Dokter tidak terlalu tahu tentang ini, beberapa orang telah ditemukan mengeluarkan pecahan virus hingga empat minggu, tetapi tidak jelas apakah itu berarti mereka masih menular," ujar Dr. Watkins.

  Flu dan Batuk? Tak Perlu ke Dokter© MEN

Cennimo mengatakan, awalnya pasien diuji untuk melihat apakah virus tidak lagi terdeteksi dalam sekresi hidung mereka, tapi sekarang tidak ada yang mau melakukan banyak tes pada satu orang karena kurangnya alat uji dan bahan yang diperlukan.

8 dari 8 halaman

Perhatikan Hal Ini

Tidak ada jangka waktu yang ditentukan untuk berapa lama bisa menular. Jika tidak melakukan tes, CDC mengatakan dapat meninggalkan rumah setelah tiga hal ini terjadi:

  Menguak Efektivitas 2 Obat Pesanan Jokowi untuk 'Perang' dengan Covid-19© MEN

- Tidak mengalami demam setidaknya selama 72 jam tanpa menggunakan obat penurun demam
- Gejala telah membaik
- Setidaknya tujuh hari berlalu sejak pertama kali memiliki gejala

Jika menjalani tes, maka dapat meninggalkan rumah setelah sebagai berikut:
- Tidak lagi demam tanpa menggunakan obat penurun demam
- Menerima dua hasil tes negatif berturut-turut selama 24 jam
- Namun jika tidak yakin, jangan ragu untuk menghubungi dokter untuk memastikan.

Laporan Cindy Azari/ Sumber: Prevention

Beri Komentar
Video Polisi Tes Kandungan Sabu Cair dalam Mainan Anak-anak