Ketahui Perbedaan Gejala Virus Corona dan Flu Biasa

Reporter : Mutia Nugraheni
Selasa, 3 Maret 2020 18:36
Ketahui Perbedaan Gejala Virus Corona dan Flu Biasa
"Banyak dari mereka yang terkena virus baru ini, awalnya tidak menunjukkan gejala".

Dream - Ditemukannya dua orang Indonesia yang terjangkit virus corona (Covid-19), membuat masyarakat jadi lebih waspada. Penting bagi kita untuk mengetahui gejala corona.

Terutama jika memiliki riwayat perjalanan ke negara dengan kasus corona atau kontak langsung dengan mereka yang positif corono. Lalu apa saja gejala corona dan apa bedanya dengan flu biasa?

Untuk gejala infeksi corona virus meliputi demam, batuk, napas cepat yang tidak normal (sesak), dahak kental (dapat berwarna kekuningan sampai kehijauan). Pada mereka yang diduga memiliki gejala virus corona, diperlukan pemeriksan x ray pada paru-paru guna melihat seseorang terjangkit pneumonia atau tidak.

" Banyak dari mereka yang terkena virus baru ini, awalnya tidak menunjukkan gejala," kata Robert Koch Institute (RKI), sebuah badan pengendalian dan pencegahan penyakit pemerintah Jerman, yang dikutip melalui laman DW.

 

1 dari 6 halaman

Gejala Virus Influenza

Sementara itu, influenza merupakan jenis virus yang biasanya menyerang manusia secara musiman, yakni virus influenza A H3N2, dengan masa inkubasi virus satu sampai empat hari dan penyebarannya yang melalui droplet (percikan bersin atau air liur).

Batuk, Jangan Sepelekan Begitu Saja© Dream

Gejala influenza biasanya ditandai dengan deman, batuk, ingus yang meler (pilek), bersin, sakit tenggorokan, muntah, diare dan nyeri otot. Untuk flu ringan gejalanya ditandai dengan batuk, hidung tersumbat, bersin, dan tenggorokan sakit serta tidak nyaman.

Untuk menangkal berbagai informasi bohong yang terkair dengan penyakit virus corona, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah membuka hotline di nomor 0215210411 dan 081212123119. Ingat, jangan panik!

2 dari 6 halaman

Tes Ini yang Menentukan Seseorang Terkena Virus Corona atau Tidak

Dream - Kekhawatiran masyarakat meningkat setelah pemerintah Indonesia mengumumkan ada dua orang warganegara Indonesia (WNI) yang positif terkena corona pada 2 Maret 2020. Terutama pada warga sekitar rumah pasien dan yang pernah berinteraksi dengan mereka.

Penting untuk tidak panik dengan adanya dua kasus tersebut. Untuk menentukan seseorang positif corona atau tidak, ada sebuah prosedur standar yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO).

Seperti apa prosedurnya? Dokter Jaka Pradipta, seorang spesialis paru, menjabarkan fakta-fakta penting seputar panduan penentuan corona positif di Indonesia di akun Twitternya.

" Tidak semua pasien batuk pilek kita periksakan #COVID19indonesia, pasien yang diperiksakan harus sesuai dengan indikasi guideline WHO, yaitu pasien dengan kategori pengawasan," tulisnya.

Jaka juga melampirkan tabel pengawasan. Siapa saja mereka yang harus diawasi ketat dan berisiko tinggi terkena corona (Covid-19).

Tabel Pengawasan Corona© Twitter

 

3 dari 6 halaman

Risiko Perjalanan

Mereka yang masuk kategori dalam label tersebut akan dipantau selama 14 hari. Diminta beristirahat di rumah, minum obat dan melaporkan ke puskesmas. Bila tak ada gejala yang muncul maka pasien dinyatakan sehat.

" Inilah jawaban kenapa 200 WNI yang dipulangkan dari wuhan tidak ada yang diperiksakan spesimennya, karena mereka tidak bergejala dan masuk kedalam kategori pemantauan saja.. jadi alasannya bukan karena harga reagen yang mahal ya (headline media) #COVID19indonesia,"  ungkap dr. Jaka.

 

4 dari 6 halaman

Penampakan Tes Spesimen Pasien Corona

Pemeriksaan bakal berlanjut apabila gejala tak mereda, berupa tes spesimen. Caranya dengan apusan tenggorokan atau dengan dahak. Dahak diambil menggunakan alat khusus untuk diteliti di laboratorium.

Pemeriksaan spesimen pasien suspect corona© Twitter

" Bila negatif, diulang kembali 24 jam berikutnya, bila hasilnya kembali negatif maka pasien bisa dikeluarkan dari pengawasan," tulis dr. Jaka.

Untuk pemeriksaan spesimen tersebut hanya dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Balitbangkes Kemenkes). Bagi pasien yang positif langsung dirawat dan diisolasi di RS Sulianto Saroso.

5 dari 6 halaman

Perokok Termasuk yang Paling Rentan Terpapar Corona

Dream - Wabah virus corona sudah sampai Indonesia. Menerapkan pola hidup sehat harus dilakukan sekarang juga. Menjaga sistem kekebalan tubuh adalah kunci utama agar terhindar dari virus bernama resmi Covid-19 ini.

Penting diketahui ada empat kelompok yang sangat rentan terkena virus yang berasal dari China ini. Siapa saja mereka? Pertama adalah mereka yang berusia lanjut, tepatnya di atas 40 tahun.

© Dream

" Tampaknya ada ambang batas ini, di bawah 35 kita melihat nol kasus. Seiring bertambahnya usia dari 40-an ke 80-an, kami melihat peningkatan kematian," kata Michael Mina, MD, PhD, asisten profesor epidemiologi di Harvard T.H. Chan School of Public Health, dikutip dari WebMD.

Sebuah studi yang diterbitkan di The Journal of American Medical Association (JAMA) yang memeriksa 45.000 kasus pertama di Cina menemukan bahwa 80% kasus corona termasuk ringan. Sebanyak 20% lainnya yang didiagnosis memiliki gejala sedang, berat, atau kritis, termasuk sulit bernapas, radang paru-paru, dan kegagalan organ.

 

6 dari 6 halaman

Berisiko Kematian Tinggi Pada Manula

Sejauh ini paparan virus yang terjadi pada anak usia 1-9 hanya 1% dan tidak ada kematian, menurut penelitian JAMA. Sementara 1% lainnya berusia 10-19.

Penelitian menemukan orang-orang di usia 70-an yang terkena virus, 8% meninggal dunia. Hampir 15% dari mereka yang berusia 80 tahun ke atas juga meninggal dunia.

" Seseorang berusia 80-an memiliki risiko yang cukup tinggi untuk tidak meninggalkan rumah sakit jika dirawat karena COVID-19," kata Mina.

Kaum Pria dan Perokok

Kelompok kedua yang paling berisiko terkena Corona adalah kaum pria. Data awal menunjukkan bahwa pria menyumbang lebih dari setengah kasus corona di China. Hal itu menurut Chinese Center for Disease Control and Prevention.

Pria yang terinfeksi meninggal dua kali lebih sering daripada wanita yang terinfeksi. Kelompok ketiga adalah perokok. Beberapa ahli mengatakan kepada The New York Times, bahwa hal itu bisa jadi karena pria Cina lebih mungkin menjadi perokok daripada wanita.

Kelompok keempat adalah mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung, diabetes, atau masalah paru-paru. " Virus Covid-19 dibandingkan dengan pneumonia virus, cenderung memiliki efek yang lebih buruk pada orang yang sudah memiliki sistem kekebalan yang lemah dan bisa memicu kematian," kata Jeanne Marrazzo, MD, direktur Division of Infectious Diseases di University of Alabama di Birmingham School of Medicine.

Beri Komentar