6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Ada kabar mengejutkan terkait tingkat kesuburan secara global di seluruh dunia. Hal ini berdasarkan riset dalam jurnal The Lancet yang memuat tentang tingkat kesuburan global dari 1950 hingga 2017.
Penelitian tersebut mengungkap kalau tingkat kesuburan warga dunia saat ini sedang menurun. Ternyata orang-orang di seluruh dunia lebih sedikit melahirkan anak ketimbang di masa lalu. Di beberapa masyarakat, hal itu bisa membawa bencana besar.
Melansir Science Alert laporan tersebut menunjukkan bahwa rata-rata perempuan di tahun 1950, melahirkan 4,7 anak selama masa hidup mereka.
Sementara, tahun lalu angka tersebut hanya berada di 2,4. Menurunnya tingkat kesuburan tersebut menunjukkan bahwa separuh negara di dunia berada di titik puncak " baby bust" . Artinya, penduduk mereka tidak lagi melahirkan jumlah anak yang dibutuhkan untuk mempertahankan populasi.
" Pada tren saat ini, akan ada sangat sedikit anak-anak dan banyak orang berusia di atas 65, itu sangat sulit untuk menopang masyarakat global," kata penulis laporan Christopher Murray pada BBC.
Dalam beberapa hal, tingkat kesuburan yang menurun memang merupakan tanda kemajuan. Ini mengartikan bahwa lebih banyak anak yang hidup sampai tahap dewasa. Sehingga, seseorang tidak perlu melahirkan sesering mungkin untuk memiliki keluarga yang diinginkan.
Selain itu, laporan ini juga menggarisbawahi peningkatan kontrasepsi, pekerjaan, dan kesempatan pendidikan yang memberikan pilihan bagi wanita selain menjadi ibu. Semua itu tidak bisa mereka miliki di tahun 1950.
Di sisi lain, menurunnya tingkat kesuburan juga bermanfaat bagi lingkungan. Pertumbuhan penduduk yang melambat dianggap memberikan waktu untuk mengatasi berbagai isu global seperti perubahan iklim dan kelaparan.
(Laporan: Giovani Dio/ Liputan6.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
