Mengejutkan! Virus Corona Tetap Hidup di Paru-paru Korban yang Meninggal

Reporter : Sugiono
Rabu, 25 Maret 2020 18:20
Mengejutkan! Virus Corona Tetap Hidup di Paru-paru Korban yang Meninggal
Alasan inilah yang membuat pihak keluarga tak diizinkan mengurus jenazah anggota yang meninggal karena Covid-19.

Dream - Disebabkan ayahnya meninggal karena Covid-19, netizen Malaysia bernama Luqman Idris tak sempat melihat wajah orang yang sangat dihormati itu.

Jangankan melihat wajah untuk terakhir kali, mengurus jenazah ayahnya saja keluarganya tak diizinkan oleh rumah sakit.

Luqman dan keluarganya hanya bisa melihat proses pemakaman ayahnya yang sudah dimasukkan ke dalam peti dari jarak cukup jauh.

Tidak ada keluarga dan pelayat yang mengantar hingga ke lihat lahat. Hanya empat petugas medis dengan Alat Pelindung Diri yang memakamkan korban Covid-19.

Sebenarnya ada alasan khusus rumah sakit tidak mengizinkan keluarga menguburkan sendiri anggotanya yang meninggal akibat Covid-19.

Itu karena adanya temuan mengejutkan oleh pakar penyakit menular di Beijing, China, setelah melakukan post-mortem pada 29 pasien Covid-19.

Para pakar dari Peking University International Hospital mengatakan virus corona yang menyebabkan Covid-19 tetap hidup di paru-paru korban bahkan setelah pasien meninggal dunia.

Hasil temuan lainnya dari autopsi juga menunjukkan adanya kerusakan parah pada sistem kekebalan tubuh pasien yang dilakukan virus corona.

Yang lebih mengerikan lagi, infeksi Covid-19 tidak hanya menyebabkan perubahan patologis yang parah di paru-paru. Tetapi juga merusak bronkiolus, yang membuat pasien lebih sulit untuk bernapas.

Karena fakta virus tetap hidup di tubuh orang yang meninggal inilah yang membuat pihak rumah sakit bersikap waspada.

Mereka melarang keluarga mengurus jenazah salah satu anggota yang meninggal karena tidak ingin virus yang masih hidup itu menular.

Sumber: World of Buzz

1 dari 8 halaman

Penampakan Paru-Paru Pasien Pengidap Virus Corona... Astagfirullah

Dream - Kian hari kabar tentang penyebaran virus corona semakin mengkhawatirkan. Beruntung jumlahnya orang terinfeksi virus bernama resmi Covid-19 ini kembali melonjak setelah sempat menyentuh angka 15 ribu orang sehari pada 13 Februari 2020 yang lalu.

Angka itu merupakan jumlah kasus terbanyak yang dilaporkan China dalam satu hari semenjak wabah virus corona merebak pada Desember 2019.

Komisi Kesehatan Hubei juga melaporkan tambahan jumlah kasus korban virus corona yang meninggal mencapai 242 pada hari yang sama.

Peningkatan jumlah yang dramatis itu karena pemerintah Provinsi Hubei telah mengubah cara mendiagnosis pasien virus Covid-2019.

2 dari 8 halaman

Deteksi Virus Corona Pakai CT Scan

Selama ini pemerintah China hanya mengandalkan tes darah, yang persediaannya terbatas dan dapat memakan waktu berhari-hari untuk memberikan hasil.

Sekarang, pemerintah Provinsi Hubei mulai menggunakan teknik computed tomography (CT) scan untuk mengetahui seseorang terjangkit virus corona.

Dalam ilmu kedokteran Radiologi, teknik yang digunakan oleh pemerintah Provinsi Hubei ini dikenal dengan istilah Ground-glass opacity (GGO).

Dengan metode baru ini, dokter dapat dengan cepat mendiagnosis dan melakukan perawatan terhadap warga yang terjangkit virus Covid-2019.

3 dari 8 halaman

Paru-Paru yang Normal

Meskipun hasilnya kurang begitu akurat dibandingkan dengan tes darah, tapi para dokter di Wuhan tetap menggunakan teknik GGO ini.

Alasannya adalah mereka sudah kehabisan persediaan peralatan medis untuk melakukan pengujian terhadap orang yang diduga tertular virus.

Pasien yang didiagnosis melalui CT scan akan menunjukkan tanda-tanda terjangkit virus corona di paru-parunya dalam bentuk bercak-bercak ground-glass.

Seperti diketahui, paru-paru normal atau sehat akan tampak berwarna hitam saat dilakukan pemindaian. Jika ada satu atau dua bercak putih kecil, maka itu adalah hal yang wajar.

  Kondisi paru-paru yang normal akan berwarna hitam saat dilakukan pemindaian CT scan.© Shutterstock

 

4 dari 8 halaman

Penampakan Paru-paru Pengidap Virus Corona

Namun jika mereka terjangkit virus corona, akan muncul bercak-bercak putih di paru-parunya dalam jumlah besar.

  JIka terjangkit virus corona, maka paru-parunya dipenuhi bercak putih yang meluas hingga ke bagian tepi.© Weifang Kong and Prachi P. Agarwal

Bercak-bercak itu sebenarnya adalah cairan di ruang paru-paru.

Menurut Paras Lakhani, ahli radiologi di Universitas Thomas Jefferson, bercak-bercak putih pada paru-paru pasien belum tentu akibat terjangkit virus Covid-2019.

" Tanda-tanda putih itu bisa menunjukkan semua jenis infeksi - bakteri, virus, atau kadang-kadang penyakit tidak menular. Bercak-bercak itu bisa saja akibat vaping," kata Lakhani.

Tetapi, lanjut Paras, bercak-bercak yang meluas hingga ke tepi paru-paru pasien patut dicurigai.

  Jika bercak putih meluas hingga ke tepi paru paru, maka patut dicurigai.© Junqiang Lei, Junfeng Li, Xun Li, and Xiaolong Qi

" Bercak putih di area seperti itu tidak umum. Kita pernah melihatnya pada pasien yang terjangkit virus SARS dan juga virus MERS. Ingat, SARS dan MERS juga termasuk dalam keluarga virus corona," tambah Paras.

Sumber: Business Insider

5 dari 8 halaman

Taruh Bawang Merah Dikupas di Ruangan Bisa Tangkal Corona, Cek Faktanya!

Dream - Tidak hanya melalui media sosial dan berita online, kabar tentang cara menangani Covid-19 juga menyebar di aplikasi pesan WhatsApp.

Salah satu tips cara mengobati Covid-19 yang sekarang viral adalah yang dibagikan akun Facebook Mbah Juminten Haha Hihi, pada 23 Maret 2020.

Dalam postingan yang kemudian disebarkan melalui WhatsApp itu menyebut bahwa bawang merah bisa mencegah virus corona. Bahkan tidak perlu dimakan.

Berikut adalah isi pesan yang mengatakan bawang merah bisa menyembuhkan penyakit akibat infeksi virus corona yang disebut Covid-19.

" Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.*PENEMUAN DOKTER DI CHINA UNTUK MENANGKAL KUMAN, BAKTERI, DAN VIRUS DI RUMAH KITA*Saat ini wabah virus Corona semakin meluas ke seluruh dunia. Di Indonesia saja makin hari makin bertambah. Ada sebuah kejadian menarik di China. Ketika epidemi virus Corona merebak di banyak tempat di dunia, ada sebuah keluarga yang sama sekali tak tersentuh oleh virus Corona. Ada seorang dokter yang heran akan hal ini dan ia mengunjungi keluarga tersebut. Dokter ini mendapati bahwa keluarga ini tiap hari menaruh bawang merah yang telah dikupas di mangkok dan meletakkannya di setiap kamar di rumah itu.

Akhirnya dokter ini mengambil salah satu mangkok yang ada bawang merah kupasan itu dan dengan metoda bakteriologis dokter ini mendapati seluruh permukaan bawang itu penuh virus dan kuman yang sudah in-aktif.

Bawang merah itu ternyata menyedot virus dan kuman lalu memfokuskannya masuk dalam intra sel, lalu dicerna dalam vakuola dan membunuhnya.

Bukan hanya virus saja, tapi juga bakteri, kuman, semuanya terkumpul di situ dalam keadaan sudah in-aktif atau mati.

Kemudian dokter ini juga melihat ada beberapa toko di China juga memasang bawang merah di sekitar tokonya juga terbebas dari serangan epidemi dan mendapati karyawannya lebih sehat.

Akhirnya dokter ini mendapatkan kesimpulan : Jadi tempatkanlah beberapa butir bawang merah yang telah dikupas dalam sebuah mangkuk, tempatkan di kamar tidur dan ruang keluarga.

Ganti setiap hari, maka Anda akan terbebas dari segala virus dan bakteri termasuk virus Corona.

Akhirnya dokter ini membuat percobaan : Dia memiliki pasien seorang penderita radang paru berat atau pneumonia dan sedang menjalani pengobatan. Maka dokter ini mengambil beberapa bawang merah, lalu dia kupas dan dimasukkan dalam mangkuk lalu ditaruh di samping ranjang pasien semalaman.

Mula mula dia sendiri merasa aneh. Bahkan teman teman dokter seprofesinya mengira dia sedang mempraktekkan ilmu sihir.

Keesokan paginya alangkah terkejutnya dokter ini karena ternyata bawang merah itu telah berubah warna jadi kehitaman. Dan ketika bawang merah itu diambil dan diteliti di laboratorium ternyata bawang merah itu telah penuh dengan kuman dan bakteri.

Setiap hari dokter ini memasang bawang merah dan jika sudah menghitam lalu dibuang dan diganti dengan yang baru.

Ternyata pasien dokter ini lebih cepat sembuh.

Nah ayo mulai sekarang kita pasang bawang merah yang sudah dikupas. Masukkan dalam mangkuk dan taruh di kamar, ruang tamu, gudang, dan setiap sudut sudut ruangan. Semoga virus, kuman dan bakteri yang ada di rumah Anda akan diserap habis oleh bawang merah.

Sebarkan berita ini kepada teman, saudara, kerabat, agar mereka juga bisa mencegah virus Corona.

_Semoga jika orang sudah mengetahui rahasia ini harga bawang merah tidak naik ????_"

Yang menjadi pertanyaan besar bagi warga masyarakat adalah benarkah bawang merah bisa mengatasi Covid-19? Apakah sudah teruji secara klinis?

 

 

6 dari 8 halaman

Begini Fakta Sebenarnya

Setelah melakukan penelusuran tentang klaim bawang merah bisa mengatasi segala macam serangan virus, bahkan virus corona sekali pun, didapatkan fakta yang cukup mengejutkan.

Menggunakan Google Search, penelusuran mengarah pada sebuah artikel yang dimuat situs resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) kominfo.go.id.

Ternyata, kabar bahwa bawang merah bisa menyembuhkan Covid-19 adalah hoaks belaka. Hal itu dijelaskan di artikel berjudul '[HOAKS] Manfaat Bawang Merah Dapat Menyerap Virus' yang diunggah Kominfo tanggal 15 Februari 2020.

Hoaks, Manfaat Bawang Merah Dapat Menyerap Virus

" Informasi tersebut hanyalah mitos seperti yang dijelaskan oleh salah satu sumber National Onion Association (NOA). Sebuah organisasi yang mewakili petani, pedagang, eksporter, dan importer bawang merah di Amerika Serikat yang ada sejak 1913.

Dalam sebuah artikelnya, situs tersebut menjelaskan bahwa bawang merah mentah yang dipotong dan diletakkan di ruangan, kemudian bisa menyerap kuman dan racun, hanyalah mitos.

" Tak ada bukti ilmiah bahwa bawang merah mentah yang dipotong bisa menyerap kuman atau meredakan udara dari racun," tulis artikel tersebut. Menurut tulisan itu, mitos tersebut memang sudah melegenda dan tersebar di seantero dunia."

Menurut Kominfo, kabar bawang merah bisa menangkal virus ini hanyalah mitos yang sudah lama, tapi dihidupkan kembali di tengah wabah Covid-19 yang melanda Indonesia saat ini.

7 dari 8 halaman

Tidak Terbukti Secara Ilmiah dan Klinis

Sementara itu, bukti bahwa bawang merah bisa menangkal Covid-19 hanyalah hoaks dimuat dalam artikel Spurious Health Tip – Onion on Feet to Take Away Illness yang dipublikasikan situs hoax-slayer.net pada pada 5 Juni 2018.

Menurut artikel tersebut, klaim bawang merah bisa menyerap racun, kuman, bahkan virus tidak didasarkan pada bukti ilmiah atau buki klinis. Apalagi bawang merah yang cuma diletakkan di kaki maupun dalam ruangan.

" Terminologi bahwa bawang merah adalah 'magnet untuk bakteri' sama sekali tak masuk akal. Tak ada makanan yang menarik bakteri, sebaliknya beberapa lebih mungkin untuk melipatgandakan bakteri jika terkontaminasi," kata Dr Joe Schwarcz, dari Office for Science and Society, McGill University.

Bawang merah sebenarnya punya beberapa khasiat yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Namun, untuk mendapatkan khasiat dan manfaat itu, kita harus mengonsumsi bawang merah.

Rupanya, hoaks tentang khasiat bawang merah untuk menangkal virus corona itu juga menyebar hingga ke Myanmar. Namun situs Pemerintah Inggris www.gov.uk membantahnya dalam rilis berjudul, UK aid to tackle global spread of coronavirus 'fake news' pada 12 Maret 2020.

Situs itu melaporkan salah satu berita bohong yang menyebar di Myanmar adalah menyarankan orang untuk tidur di samping bawang yang telah dipotong atau dicincang.

 

   

8 dari 8 halaman

Awal Berkembangnya Mitos

Awal berkembangnya mitos bawang merah bisa menyerap segala kuman, bakteri, dan virus dijelaskan dalam artikel berjudul Will an Onion in the Room Stop a Cold or the Flu? yang dimuat situs www.verywellhealth.com.

Mengutip pernyataan The National Onion Association, disebutkan bahwa pengobatan tradisional dengan cara menaruh bawang mentah di dalam ruangan bermula pada tahun 1500-an.

Selama wabah pes (bubonic plague) pada tahun itu, potongan bawang ditempatkan di sekitar rumah, untuk mencegah orang tertular penyakit mematikan tersebut.

Kala itu masyarakat percaya bahwa semua penyakit menyebar di udara. Awan penyakit atau miasma dipercaya masyarakat pada masa lalu sebagai penyebab penyakit yang mewabah.

Saat pandemi flu yang menewaskan jutaan orang pada 1918 lalu, juga muncul kebiasaan menaruh potongan bawang dalam ruangan.

Jadi kesimpulannya adalah klaim yang menyebut bahwa menaruh bawang merah yang telah dikupas bisa menangkal Covid-19 sama sekali tidak berdasarkan bukti ilmiah. Khasiat bawang merah tidak bisa didapat dengan hanya menaruhnya di ruangan, tetapi dengan memakannya.

Sumber: Liputan6.com

Beri Komentar
Video Kondisi Terkini WNI dari Wuhan di Natuna