5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Vaksin Booster
Dream - Varian Covid-19 Omicron semakin merebak penyebarannya di Indonesia, khususnya di DKI Jakarta. Lima wilayah di Jakarta masuk kategori zona merah Omicron.
Karakteristik Omicron adalah lebih menular. Salah satu perlindungan penting untuk mengurangi risiko penularan Omicron adalah dengan vaksinasi booster. Pemerintah akhirnya memutuskan untuk memberikan vaksin Covid-19 booster setengah dosis.
Kelompok lansia dan yang berisiko, mendapat prioritas untuk vaksin booster. Lewat aplikasi PeduliLindungi, mereka yang mendapat tiket vaksin booster bisa langsung mendapatkannya di layanan kesehatan publik.
Nantinya setiap warga Indonesia juga akan mendapat vaksin booster. Nah, ada hal-hal yang harus diperhatikan sebelum dan sesudah vaksin booster Covid-19.
Dokter RA Adaninggar, SpPD (spesialis penyakit dalam) memberikan penjelasan. Menurutnya, hal pertama yang penting dilakukan adalah melakukan check-up, terutama mereka yang memiliki penyakit bawaan (komorbid).
" Bila memiliki penyakit komorbid sebelumnya, kontrol dan konsultasi ke dokter untuk mengetahui kondisi komorbidnya apakah dalam kondisi stabil/ terkontrol/ remisi dan layak vaksin. Bila ada riwayat alergi terhadap vaksin tertentu sebelumnya konsultasikan ke dokter sebelum vaksinasi booster terkait jenis vaksin yang akan diberikan," ungkap dr. Ning, sapaan akrabnya, lewat akun Instagramnya @drningz.
Sebelum vaksin booster, sebenarnya tak perlu melakukan swab test baik antigen dan PCR. Pemeriksaan swab, bisa dilakukan jika mengalami gejala Covid-19, seperti batuk, sesak atau demam. Bila hasilnya negatif, booster bisa langsung dilakukan.
Untuk mendapatkan vaksin booster, tubuh memang harus dalam kondisi fit. Pastikan sebelum mendapatkan vaksin booster, tidur cukup dan jaga vitalitas.
Setelah vaksin, bisa beraktivitas seperti biasa. Bila ada keluhan seperti demam, nyeri, bisa mengonsumsi pereda nyeri dan istirahat. Ingat, tetap jalani protokol kesehatan. Jangan sampai lengah!
Laporan: Anzila Riskia Putri
Dream - Menyebarnya varian Covid-19 di Indonesia membuat pemerintah memutuskan untuk memberikan vaksin booster secara gratis. Untuk mereka yang sudah mendapat vaksin dosis penuh dan sudah berjarak minimal 6 bulan dari vaksin kedua, booster vaksin Covid-19 bakal diberikan setengah dosis melalui suntikan
Dikutip dari KlikDokter.com, Kementerian Kesehatan RI mengeluarkan tata laksana vaksin booster yang diatur dalam Surat Edaran Nomor HK.02.02/II/252/2022. Dalam edaran tersebut dijelaskan kelompak masyarakat yang boleh dan tidak diperbolehkan menerima vaksin ketiga.
Pemberian vaksin booster memang bertujuan membentuk antibodi yang prima untuk melawan infeksi virus corona, tetapi tidak semua orang bisa mendapatkannya.
- Orang yang sedang sakit ringan seperti demam atau flu dengan suhu tubuh di atas 37,5 derajat Celsius. Pemberian vaksin perlu ditunda hingga suhu tubuh orang tersebut kembali normal dan telah benar-benar pulih dari penyakitnya.
- Orang dengan tekanan darah lebih dari 140/90 saat skrining vaksin. Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan kembali setelah 5-10 menit. Apabila, tekanan darah masih tinggi, maka pemberian vaksin perlu ditunda.
- Wanita dengan usia kehamilan kurang dari 4 bulan atau kurang dari usia 13 minggu.
- Ibu hamil dengan gejala preeklampsia atau kondisi tekanan darah tinggi tidak dapat menerima vaksin COVID-19 ketiga.
- Orang dengan penyakit komorbid, seperti penyakit jantung, diabetes, human immunodeficiency virus (HIV), penyakit hati, hipertiroid, dan penyakit ginjal tidak terkontrol.
- Vaksin booster tidak dapat diberikan untuk orang dengan penyakit autoimun, misalnya lupus, yang kondisinya tidak terkontrol dengan baik.
- Orang yang sedang menjalani pengobatan gangguan pembekuan darah, kelainan darah, defisiensi imun, dan penerima transfusi darah perlu menunda untuk mendapatkan vaksin booster. Penundaan dilakukan sampai mendapatkan persetujuan dari dokter yang menangani.
- Pemberian vaksin ketiga perlu ditunda untuk orang yang sedang mengonsumsi obat imunosupresan seperti kortikosteroid atau menjalani kemoterapi. Orang dengan kriteria ini dapat dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan persetujuan vaksin booster dari dokter.
- Pasien penyakit jantung atau asma dalam keadaan sesak napas tidak diperbolehkan menerima vaksin booster terlebih dahulu.
“ Orang dengan komorbid sebenarnya bisa mendapat vaksin booster, asalkan kondisinya terkontrol dan lolos skrining. Kalau penyakitnya belum atau tidak terkontrol, harus ditunda sampai kondisinya benar-benar baik. Jika perlu, pasien harus membawa surat rekomendasi dari dokter yang merawat," ujar dr. Devia Irine Putri dari KlikDokter.
Selengkapnya baca di sini.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?