Sel Kanker Bisa Mati dengan Cabai

Reporter : Ratih Wulan
Rabu, 4 Januari 2017 14:30
Sel Kanker Bisa Mati dengan Cabai
Namun ada teknik khusus untuk membuat zat pedas ini berfungsi efektif. Bukan dengan cara dimakan, dihirup, atau disuntik.

Dream - Sel-sel kanker berbahaya dapat dilawan dengan bahan yang banyak ditemukan di dapur. Ya, dengan mengonsumsi capsaicin, zat pedas di dalam cabe, ternyata bisa membantu melawan kanker payudara.

Hal ini terungkap setelah para ilmuwan menemukan capsaicin mampu membuat sel-sel kanker menghancurkan dirinya sendiri. Capsaicin dapat mengaktifkan kanal khusus yang bisa menyebabkan sel-sel kanker mati.

Tk hanya sel penyebab kanker payudara, Capsaicin juga disebut ampuh memerangi jenis kanker lainnya termasuk usus, tulang dan pankreas. Namun capsaicin menjadi tidak efektif jika dimakan, dihirup atau disuntikkan.

Peneliti menduga capsaicin hanya akan efektif jika dijadikan campuran pada obat yang dibuat untuk menghancurkan sel-sel kanker.

Para ilmuwan dari Ruhr-University di Bochum, Jerman, memperlakukan sel kanker payudara yang diambil dari sampel manusia dengan capsaicin untuk mengetahui kemampuannya dalam menghancurkan sel kanker.

Hasilnya? Capsaicin mampu menyebabkan kematian dan menghambat pertumbuhan sel kanker pada berbagai jenis kanker, seperti kanker tulang, kanker usus dan kanker pankreas.

" Ketika capsaicin mencapai sel kanker, ia menempel ke tepi sel yang dikenal sebagai membran sel dan mengaktifkan reseptor sel yang disebut TRPV1," kata dokter Lea Weber, penulis penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Breast Cancer-Targets and Therapy.

TRPV1 adalah saluran yang mengontrol zat apa saja yang bisa keluar dan masuk sel kanker, seperti kalsium dan natrium. Ketika TRPV1 diaktifkan oleh capsaicin, sel kanker akan menjadi kelebihan beban dan mulai merusak dirinya sendiri.

Karena semakin banyak sel kanker yang mati, tumor akan berhenti tumbuh.

Penelitian ini dilakukan oleh para ilmuwan dari Ruhr-University di Bochum, Jerman, Rumah Sakit Herz-Jesu-Krankenhaus Dernbach, Jerman, dan Centre of Genomics di Cologne, Jerman.

(Sah/Sumber: mirror.co.uk)

 

Beri Komentar