Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Pixabay)
Dream - Taiwan berencana mengubah simbol yang tertera pada sampul paspornya. Ini lantaran simbol yang ada membuat Taiwan lebih dikenali sebagai China.
Legislator Partai Progresif Demokratik, Chung Chia-Pin, megajukan tiga proposal desain untuk sampul paspor yang direvisi. Hal itu ia sampaikan pada pertemuan Luar Negeri Legislatif Yuan dan Komite Pertahanan Nasional di Taipei.
Proposal tersebut sebagai tanggapan atas perdebatan terkait penekanan nama “ Taiwan” dan tidak menekankan nama “ China” dalam kata-kata di sampul paspor.
© Foto: taipeitimes.com
Usulan pertama Chung adalah desain paspor tidak menggunakan bahasa Inggris sama sekali. Untuk menjaga keutuhan desain keseluruhan paspor saat ini.
Kedua, mengganti lambang nasional dengan peta pulau utama Taiwan dan menuliskan kata-kata " Paspor Taiwan" dalam huruf besar di bagian atas dan " Republik China" dalam huruf yang lebih kecil di bagian bawah. Baik dalam bahasa China dan Inggris.
Ketiga, mengganti lambang nasional dengan gambar secangkir segelas bubble tea dan hanya memiliki kata " Taiwan Passport" dalam bahasa China dan Inggris.
Selama pertemuan yang dihadiri oleh pejabat dari Kementerian Luar Negeri, Chung mengatakan penggunaan kata " China" pada paspor telah menyebabkan masalah bagi orang Taiwan yang bepergian ke luar negeri. Karena mereka telah dianggap sebagai warga negara Tiongkok.
© Ilustrasi (Foto: Pexels)
Chung mengatakan tidak perlu memiliki nama negara tertulis dalam bahasa Inggris atau simbol nasional di sampul paspor.
Ia mengutip contoh-contoh dari negara-negara seperti Jerman dan Swiss, yang memiliki bahasa Inggris hanya untuk kata " paspor”. Juga Perancis, yang sama sekali tidak memiliki bahasa Inggris di sampul paspornya.
Dari 156 negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris di seluruh dunia, 71 tidak menggunakan bahasa Inggris untuk nama negara mereka di sampul paspor. Chung menambahkan bahwa paspor paling awal hanya memiliki karakter China di sampulnya.
“ Mengubah desain paspor akan membutuhkan konsensus publik,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Hsu Szu-chien.
Menanggapi usulan Chung, Direktur Jenderal biro Phoebe Yeh mengatakan kementerian masih memiliki 600 ribu paspor yang tersisa dari tahun lalu. Karena orang-orang tidak bepergian akibat pandemi covid-19.
(Sumber: taipeitimes.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya