Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
Anak Sakit Cacingan/ Foto: Pixabay
DREAM.CO.ID- Kasus meninggalnya seorang balita di Sukabumi, Jawa Barat, membuka mata banyak orang kalau penyakit cacingan bisa jadi mematikan. Terutama jika diketahui terlambat dan cacing sudah berkembang biak di seluruh organ tubuh.
Anak-anak bisa dikatakan usia yang paling rentan terkena cacingan terutama yang masih berusia lima tahun. Hal itu karena mereka belum bisa menjaga kebersihan dirinya dengan baik. Dikutip dari Halodoc.com, anak berusia di bawah dua tahun memiliki risiko 4,7 kali lipat lebih tinggi untuk terinfeksi.
Angkanya lebih tinggi dibandingkan anak berusia 3 hingga 5 tahun yang hanya memiliki risiko 2,6 kali lipat. Ternyata penyakit cacingan ini sering tak diketahui orangtua, sampai muncul gejala yang cukup parah. Dokter Kevin, spesialis anak dari Universitas Indonesia menjelaskan kalau penyakit cacingan biasanya disebut Askariasis dan ada proses yang cukup panjang sebelum seorang anak terinfeksi.
" Askariasis atau cacingan itu pertama berasal dari telur dulu. Telur yang belum matang, keluar dari feses manusia yang terkontaminasi dari askariasis, kemudian pada suhu dan kelembapan, terutama pada iklim yang lembab, akan mature. Jadi telur yang belum dibuahi menjadi telur yang mature dengan berisi larva. Kemudian telur yang berisi larva tersebut pada kondisi yang terkontaminasi, akan dikonsumsi oleh manusia lewat makanan dan minuman," ujar dr. Kevin dikutip dari video Youtube RS Universitas Indonesia.
Kemudian, telur tersebut akan menetas di seluruhan cerna, dan larva yang sudah menetas tersebut akan menyebar di pembuluh darah. Dari pembuluh darah akan bisa menyebar ke esofagus, terakea, sampai ke seluruhan pernapasan dan akhirnya kembali lagi ke seluruhan cerna sebagai cacing dewasa. Telur cacing itu dapat berkembang biak secara cepat di suhu udara yang lembap.
Menurut dr. Kevin, di Indonesia angka cacingan prevelensinya sekitar 28 persen dan sangat dipengaruhi kondisi lingkungan yang kotor. Kondisi sekitar rumah dan tempat main anak, jadi faktor utama.
Untuk gejala cacingan, dr. Kevin menjelaskan, gejalanya sangat luas, bukan hanya sekedar gejala saluran napas saja. " Utamanya adalah anak menjadi lesu, karena tidak nafsu makan, kemudian bisa sampai mengalami penurunan berat badan, hingga berubah menjadi gizi kurang sampai gizi buruk," kata dr. Kevin.
Nah, untuk mendeteksi adanya cacingan atau tidak pada tubuh seorang anak, memang harus dilakukan pemeriksaan tinja. Hal tersebut untuk mendeteksi adanya telur yang sudah dibuahi, atau bahkan cacing dewasa.
Jika si kecil mengalami gejala di atas, jangan tunda untuk segera memeriksakannya ke dokter untuk pemeriksaan tinja dan konsultasi ya, ayah bunda.
Advertisement
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28

Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane

Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama
