6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Ilustrasi Asteroid Yang Nyaris Menghantam Bumi (Foto: Pixabay.com)
Dream – Lagi-lagi Bumi menjadi sasaran asteroid yang nyaris menghantam. NASA menyebut terdapat sebuah asteroid sebesar truk trailer nyaris menghantam Bumi pada Selasa 8 September 2020.
Dilansir dari laman Daily Star, asteroid bernama 2020 PT4 melesat dengan kecepatan 12,6 kilometer per detik yang mana hampir menabrak planet yang kita huni. Asteroid sepanjang 36 meter atau sebesar dua kali lipat truk trailer itu meluncur melewati Bumi.
NASA mengatakan asteroid tersebut bergerak dengan kecepatan 45.360 kilometer per jam. Dengan kecepatan itu ia dianalogikan bisa melakukan perjalanan dari Inggris ke New York bolak balik delapan kali hanya dalam waktu satu jam saja.

Batuan luar angkasa itu melewati Bumi dengan jarak 1.883.153 kilometer. Meskipun jaraknya tampak sangat jauh, NASA telah menggambarkannya sebagai objek yang dekat dengan Bumi. Artinya ini merupakan kesempatan sempurna untuk mempelajari tata surya.
Bahkan apabila asteroid itu menghantam Bumi, maka tidak akan menjadi peristiwa yang mengancam jiwa manusia. Namun NASA telah memprediksi bahwa hal itu tidak akan terjadi.
Asteroid sebesar 36 meter itu akan mengingatkan kita pada peristiwa Chelyabinsk pada tahun 2013 lalu. Sebuah meteor sepanjang 20 meter meledak di atas langit Chelyabinsk, Rusia. Peristiwa itu berhasil memecahkan jendela rumah warga dan menyebabkan lebih dari 1.000 orang luka-luka.

Namun NASA menegaskan kembali untuk selalu mengawasi bebatuan luar angkasa itu. Meskipun asteroid besar yang menghantam Bumi kemungkinannya kecil, NASA percaya ada satu di antara 300.000 asteroid yang kemungkinan menyebabkan kerusakan regional setiap tahunnya.
Batuan luar angkasa yang menghancurkan sebagian kecil wilayah Bumi bukanlah hal yang tidak mungkin. Inilah mengapa sekarang NASA membuat rencana yang dapat membantu menyelamatkan Bumi dari gempuran asteroid.
NASA saat ini sedang mempelajari Asteroid Bennu, sebuah asteroid yang berhasil didatangi oleh pesawat luar angkasa OSIRIS-Rex yang tiba tahun lalu.

Tujuan NASA mengirimkan pesawat luar angkasa OSIRIS-Rex ke sana adalah untuk mengumpulkan informasi lebih banyak tentang batuan luar angkasa yang besarnya 500 meter itu.
Sebab NASA khawatir asteroid bisa berpotensi memusanahkan kehidupan di Bumi yang mungkin bisa menghantam planet kita dalam 120 tahun ke depan dengan jarak dekat berikutnya pada tahun 2135.
OSIRIS-Rex baru-baru ini menyelesaikan sebuah landmark utama dalam upaya mengumpulkan sampel dari asteroid Bennu.
Dengan mengumpulkan sampel dari asteroid Bennu, NASA berharap dapat membuka rahasia tata surya. Asteroid Bennu dipilih karena ia merupakan sisa pembentukan lingkungan galaksi yang terjadi sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
