© Pexels.com/Rodrigo Ortega
DREAM.CO.ID - Padel sedang naik daun di mana-mana, tapi banyak orang masih menyamakannya dengan tenis atau squash. Padahal ketiga olahraga raket ini punya karakter yang cukup berbeda, mulai dari sejarah, lapangan, alat pukul, hingga cara bermainnya.
Tenis punya sejarah paling panjang di antara ketiganya. Akarnya bisa ditelusuri hingga Prancis abad pertengahan, dikenal sebagai " jeu de paume" , dimainkan para biarawan sebagai permainan tangan. Permainan ini berkembang menggunakan raket pada abad keenam belas, menjadi favorit kalangan bangsawan Eropa, sebelum akhirnya lawn tennis modern terbentuk di Inggris pada akhir abad kesembilan belas.
Squash lahir belakangan, tepatnya awal abad kesembilan belas di Harrow School, Inggris. Para murid di sana memodifikasi permainan handball dan rackets lama dengan memainkan bola yang dilubangi ke tembok sekolah, cikal bakal lapangan squash modern seperti sekarang.
Padel justru yang paling muda, lahir di Meksiko pada 1960-an, lalu meledak popularitasnya di Spanyol dan Amerika Latin, sebelum menyebar pesat ke seluruh Eropa dalam satu dekade terakhir, khususnya di Spanyol, Italia, dan Inggris, menjadikannya salah satu olahraga dengan pertumbuhan tercepat di dunia saat ini.
Tenis dimainkan di lapangan terbesar di antara ketiganya, berbentuk persegi panjang luas berukuran 23,77 x 8,23 meter (melebar hingga 10,97 meter untuk pertandingan ganda), dipisahkan net di tengah. Permukaannya bisa berupa rumput, tanah liat (clay), atau aspal/hard court.
Padel dimainkan di lapangan tertutup berukuran sekitar sepertiga lapangan tenis, umumnya 20 x 10 meter, dikelilingi dinding kaca dan pagar jaring metal di bagian sisi dan belakang. Dinding ini bukan sekadar pembatas, melainkan bagian aktif dari permainan, karena bola boleh memantul dari dinding tersebut sebelum dikembalikan.
Squash punya lapangan paling kecil dan sepenuhnya tertutup, berukuran sekitar 9,75 x 6,4 meter (13,72 x 7,62 meter untuk ganda), dikelilingi empat dinding penuh tanpa net sama sekali. Bola hanya boleh dipukul ke arah dinding depan, sama sekali berbeda dari padel yang tetap memakai net dan dimainkan menyeberang net seperti tenis.
Perbedaan paling jelas terlihat pada raketnya. Tenis dan squash sama-sama memakai raket berdawai (strung racket) dengan bingkai dan senar, meski ukurannya berbeda: raket squash umumnya lebih ringan, ramping, dan bertangkai lebih panjang, dirancang untuk kecepatan dan presisi, dengan bobot sekitar 140 hingga 180 gram.
Padel justru sama sekali tidak memakai senar. Raketnya solid dan berlubang-lubang (perforated), biasanya terbuat dari carbon fiber atau fiberglass, lebih pendek dan sedikit lebih berat dibanding raket tenis, dirancang untuk memberi kontrol lebih baik dan meredam getaran saat memukul bola.
Bolanya pun berbeda. Padel memakai bola mirip bola tenis namun dengan tekanan udara yang sedikit lebih rendah (depressurized), menghasilkan pantulan yang lebih terkontrol dan lambat. Squash memakai bola karet yang jauh lebih kecil, tersedia dalam beberapa varian ditandai warna titik berbeda, mulai dari titik ganda kuning (paling lambat) hingga titik merah (paling cepat), disesuaikan tingkat kemahiran pemain, dan diatur resmi oleh World Squash Federation (WSF).
Ketiga olahraga ini punya karakter dan ritme permainan yang sangat berbeda. Tenis paling fleksibel, bisa dimainkan tunggal maupun ganda, di berbagai jenis permukaan, dengan tuntutan fisik cukup berat untuk rally panjang.
Padel dikenal sebagai olahraga sosial dan dinamis, biasanya dimainkan ganda, di lapangan kaca yang lebih kecil. Bola yang memantul dari dinding memberi banyak variasi taktis, kadang membuat rally lebih panjang dibanding tenis. Padel juga dikenal lebih ramah pemula karena raketnya lebih ringan, bolanya lebih lambat, dan lapangannya tidak seluas tenis, sekaligus memberi tekanan lebih rendah pada persendian dibanding tenis maupun squash.
Squash, sebaliknya, adalah permainan intens dan berkecepatan tinggi yang menuntut kebugaran, kelincahan, dan koordinasi mata-tangan yang kuat. Karena lapangannya paling sempit dan sepenuhnya tertutup dinding, squash memaksa perubahan arah secara cepat dan berulang, menjadikannya olahraga dengan tuntutan fisik paling berat di antara ketiganya, sekaligus paling membebani persendian.
Pilihan di antara ketiganya sebenarnya kembali pada apa yang dicari seseorang. Padel unggul soal kemudahan dipelajari dan cocok untuk kebersamaan sosial, sehingga jadi favorit keluarga, pemain lanjut usia, atau siapa pun yang ingin olahraga seru tanpa tekanan fisik berlebihan pada sendi.
Tenis menawarkan fleksibilitas terbesar dari segi format permainan dan sudah punya jaringan fasilitas paling luas di banyak negara. Sementara squash tetap jadi pilihan bagi yang mencari latihan kardio paling intens dan menantang secara fisik dalam ruang sekecil mungkin.
Ketiganya sama-sama olahraga raket yang seru, namun masing-masing punya karakter dan tantangan sendiri, jadi bukan sekadar variasi dari satu sama lain, melainkan tiga dunia olahraga dengan identitasnya masing-masing.
Advertisement

Persahabatan yang Kuat Bisa Memperkuat Kesehatan Mental dan Fisik Milik Seseorang

Fakta di Balik Kemampuan Orang Bajo Melihat Lebih Jelas saat Berada di Bawah Air

Cara Menghindari Kelelahan Mengambil Keputusan yang Kita Lakukan

Cara Agar Anak Tidak Tumbuh Menjadi Pribadi yang Manja dan Menyebalkan

Buang bin Muhammad Ali alias Ali Wallace, Asisten Alfred Russel Wallace yang Terlupakan

