Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Festival Kebudayaan Hong Kong, Tari Naga Api Tai Hang (Foto: Hong Kong Tourism Board)
Dream - Tai Hang dahulu hanyalah sebuah perkampungan masyarakat Cina Hakka, yang kebanyakan mencari nafkah sebagai petani atau nelayan. Pada akhir abad ke-19, sebuah wabah penyakit yang mematikan menyerang perkampungan ini dan mengambil nyawa banyak penduduk desa.
Menurut cerita rakyat yang beredar, Buddha berkata kepada ketua adat desa untuk melakukan Tari Naga Api (Fire Dragon Dance) dan membakar petasan untuk menghentikan wabah tersebut. Nasihat tersebut diikuti dan zat belerang dari petasan serta hio yang dibakar terbukti ampuh menghentikan wabah penyakit.
Tradisi ini kemudian bertumbuh menjadi acara sembahyang untuk memohon kesehatan dan kemakmuran bagi penduduk desa yang dilakukan setiap tahun. Pada tahun ini, acara akan diselenggarakan dari tanggal 3-6 Oktober.

Dengan posisi menghadap ke depan dan tangan terjulur lurus, Chan Tak-fai mencoba memperagakan gerakan-gerakan Tari Naga Api kepada sekelompok " Tai-Hangers" di sebuah lahan parkir kendaraan. Pria berusia 70 tahun ini sangat bersemangat mengajari setiap gerakan dan langkah tarian secara mendetail, dengan harapan agar para peserta yang umumnya berusia muda dapat mengingat setiap langkah tersebut, sebab kelangsungan tradisi Hong Kong ini berada di pundak mereka.
" Mereka yang menghabiskan masa kecil di Tai Hang pasti mengetahui bahwa partisipasi dalam Tari Naga Api adalah suatu kehormatan besar," ujar Chan.
" Jika Anda belum pernah ikut serta dalam tradisi ini, Anda bukanlah seorang Tai-Hanger yang sejati," katanya, dikutip dari keterangan pers tertulis, Jumat 15 September 2017.
Chan sangat antusias dalam melestarikan tarian tradisional ini. Sejak tahun 1880, tradisi unik ini telah berlangsung berkat kerja keras para penduduk Tai Hang. Festival ini telah menjadi salah satu atraksi utama dalam Warisan Budaya Hong Kong dan bahkan terdaftar sebagai budaya nasional pada tahun 2011.
Hari ini, Tai Hang bukan lagi sebuah perkampungan penduduk. Tai Hang telah bertransformasi menjadi sebuah kawasan modern, dengan berbagai restoran kekinian serta apartemen mewah.

Sebagian besar penduduk aslinya telah pergi meninggalkan Tai Hang. Walau demikian, tradisi Tari Naga Api tetap hidup dan banyak penduduk asli kampung Tai Hang datang kembali pada hari spesial ini untuk ikut serta dalam tradisi tersebut atau sekadar menyaksikan keindahan tarian.
Salah satunya adalah Alan Fok Chun-fung, 21 tahun. Saat masih anak-anak, Alan sangat terpukau dengan keindahan " ular naga" sepanjang 220 kaki yang terbuat dari bambu, jerami dan batang hio. Ular naga tersebut mampu menjadikan jalan-jalan sekitar kampung Tai Hang menjadi terang benderang.
" Saya tinggal di lantai atas, jadi saya bisa melihat dengan leluasa Tari Naga Api," ujar Fok, sembari mengenang masa kecilnya di Wun Sha Street, salah satu lokasi diselenggarakannya tarian.
" Saya sangat terkesima dengan keindahan dan gerakan Naga Api. Ibu saya bahkan menyarankan agar saya turut ambil bagian."
Fok ambil bagian dalam tarian tersebut untuk pertama kalinya saat berumur 14 tahun. Semangat para generasi muda ternyata sangat menyentuh Pang Man-kan, seorang bapak berusia 81 tahun yang telah ambil bagian dalam tradisi ini sejak masih remaja dan saat ini berperan sebagai konsultan setelah pensiun.

" Saya senang sekali melihat banyaknya orang muda yang turut ambil bagian. Bahkan orang-orang asing yang tinggal di sini juga ikut serta dan kami menyambut mereka dengan tangan terbuka," ujar Pang.
Mengendalikan Naga Api bukan hal yang mudah. Naga itu sendiri atas 32 bagian dengan berat lebih kurang 100 kilogram, bagian kepala memiliki berat 48 kilogram. Namun berat tersebut tidak lantas mematikan semangat Fok. Walaupun para orang-orang tua sangat peduli akan kelestarian tradisi ini, para generasi muda memiliki sudut pandang yang berbeda.
" Sejarah dan tradisi memang penting, namun bagi kami yang paling penting adalah rasa menjadi bagian dari komunitas ini," ujar Fok.
Nah, Sahabat Dream Travel tertarik juga untuk menyaksikan Tari Naga Api Tai Hang 2017? Acara ini digelar selama 3-6 Oktober (4 malam) pada pukul 20.15 sampai 22.30 waktu setempat. Lokasinya di Wun Sha Street, Tai Hang. Informasi selengkapnya bisa kamu lihat di www.discoverhongkong.com.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya