Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Gunung Fuji (Sumber:Pexels.com)
Dream - Akibat pandemi corona Covid-19 yang menyebar di berbagai belahan dunia, hampir semua objek wisata sementara ditutup. Keputusan ini diambil untuk mencegah penularan semakin meluas dan membuat semakin banyak korban jatuh.
Salah satu objek wisata yang ditutup adalah Gunung Fuji yang terletak di Pulau Honshu dan merupakan puncak gunung berapi raksasa setinggi 3776 meter. Sebagai gunung tertinggi di Jepang, tak heran tempat ini selalu dipenuhi pengunjung.
Ikon kota Jepang ini untuk pertama kalinya ditutup setelah 60 tahun lamanya akibat pandemi Covid-19. Semua jalur pendakian akan ditutup menyusul diberlakukannya pembatasan sosial.
Prefektur Shizuoka bertanggung jawab atas tiga dari empat rute utama ke puncak Gunung Fuji. Sejak minggu ini, semuanya akan tetap ditutup selama periode musim panas.
Penutupan ini dilakukan guna menurunkan angka kasus Covid-19 dan menghentikan penyebaran infeksi. Jika tetap dibuka, dikhawatirkan selama pendakian akan membuat langkah isolasi sosial sangat sulit dijalankan.
Selain itu, Prefektur Yamanashi membuat pengumuman serupa tentang penutupan Jalur Yoshida. Jalur Yoshida adalah rute utama keempat dan paling populer ke Gunung Fuji.
Menurut The Japan Times, penutupan ini merupakan yang pertama sejak 1960 ketika Pemerintah Prefektur Shizuoka mulai mengelola rute pendakian.
Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO ini memang menarik lebih dari 200.000 pengunjung selama musim panas tahun lalu. Jumlah kasus di Jepang masih rendah dibandingkan dengan negara-negara di Eropa, dengan total 16.285 kasus sejauh ini.
Sumber: Lonely Planet
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya