Dua Jalan Berbeda Bursa Saham di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo VS Jokowi
Di Balik 8 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo
Kepuasan Publik Setelah Dua Tahun Prabowo-Gibran
Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Kekuatan mental perlu diasah sejak dini. Siapa yang paling tepat mengasah mental seorang anak? Jawabannya tentu orangtua. Membesarkan anak yang kuat secara mental bukan berarti ia tidak akan menangis ketika dia sedih atau tak pernah gagal.
Mental yang kuat artinya kemampuan anak-anak untuk bangkit kembali setelah mengalami kegagalan dan kekecewaan. Tak takut menghadapi kekalahan dan semangat mencapai potensi terbesar dalam hidupnya.
Untuk membesarkan anak yang kuat secara mental, para orangtua perlu menghindari pola asuh yang salah. Apa saja?
1. Memojokkannya saat gagal
Tak dapat ranking di kelas, dapat nilai merah atau kalah dalam pertandingan. Sebuah momen yang sangat mengecewakan bagi anak. Jangan menjadi orangtua yang menyalahkan, apalagi merendahkannya. Bantu anak mencari solusi serta hikmah dari kegagalan yang dialaminya.
2. Dihantui rasa bersalah
Biasanya dialami oleh para ibu bekerja yang tak bisa 24 jam bersama anak-anak. Rasa bersalah ini akan memicu perlakuan memanjakan dan berlebihan pada anak. Tentu hal ini tak baik bagi mental anak.
Tunjukkan pada anak-anak bahwa meskipun Anda kadang-kadang merasa bersalah tapi tidak akan membiarkan emosi yang ada menghalangi untuk membuat keputusan yang bijaksana. Katakan pada anak alasan Anda melakukanya dan setiap perbuatan selalu ada konsekuensinya.
3. Mendikte pilihan anak
Dalam membuat pilihan apapun itu, pasti ada efeknya. Apakah itu pilihan pakaian, makanan, permainan atau yang bahkan yang lebih besar, seperti jurusan pendidikan. Sejak kecil anak harus dibiasakan membuat pilihan dan mengetahui konsekuensinya.
Hal ini untuk melatih mereka melakukan pertimbangan dan analisis kritis sebab akibat atas apa yang dipilihnya. Jika Anda selalu membuat pilihan untuk anak, mereka tak akan terbiasa melakukan analisis ini dan tak siap jika harus dihadapkan denga konsekuensi pahit. Mentalnya jadi kurang berkembang.
Sumber: Inc-asean
Advertisement

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Dua Jalan Berbeda Bursa Saham di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo VS Jokowi

