Di Balik 8 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo
Kepuasan Publik Setelah Dua Tahun Prabowo-Gibran
Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
Anak Sakit (Foto: Shutterstock)
Dream - Kasus yang terjadi pada bocah bernama Katelyn Pohlan pada 2012 lalu menguak fakta baru seputar efek dari penyakit infeksi anak. Awalnya anak berusia 7 tahun mengeluhkan sakit perut dan demam tinggi.
Saat diperiksa dokter, diktehaui kalau ia terjangkit strep throat yaitu sakit tenggorokan yang diakibatkan oleh infeksi bakteri Streptococcus. Namun keesokan harinya dirinya bukan merasa lemas tapi berhalusinasi.
Menangis tanpa henti, mengatakan seperti melihat laba-laba di mana pun dan loncat-loncat selama berjam-jam. Melihat kondisi Katelyn, dokter mendiagnosis kalau bocah tersebut mengalami yang disebut pediatric acute-onset neuropsychiatric syndrome atau sering disebu PANS.
Penyakit ini cukup langka dan kontroversial. Gangguan kejiwaan ini diyakini terjadi ketika mikroba yang menyebabkan infeksi bisa karena bakteri streptococcus, cacar air, penyakit Lyme, atau radang paru memicu gejala gangguan kejiwaan yang aneh dan tiba-tiba.
© Dream
Kondisi ini pertama kali diketahui hampir 30 tahun yang lalu, tetapi para dokter masih memperdebatkan bukti dan bagaimana mengidentifikasinya. Karena kurangnya penelitian, tidak ada yang tahu pasti berapa banyak anak yang menderita penyakit PANS, tetapi diperkirakan gangguan tersebut mempengaruhi satu dari 200 anak setiap tahun.
Panduan diagnostik resmi pertama untuk PANS diterbitkan dalam Journal of Child and Adolescent Psychopharmacology pada tahun 2015, dan standar perawatan diikuti pada tahun 2017. Langkah-langkah ini sangat penting untuk anak-anak seperti Katelyn, yang hingga saat ini mungkin sudah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun tanpa diagnosis.
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan PANS mengalami peradangan pada basal ganglia, bagian otak yang memproses informasi dan memutuskan apa yang harus dilakukan. Area otak tersebut juga memainkan peran dalam memori dan penalaran, dan memberitahu otot-otot kapan dan bagaimana bergerak.
© Dream
Ketika bakteri memasuki tubuh, antibodi muncul dalam aliran darah untuk melawannya. Tetapi beberapa ilmuwan percaya bahwa pada anak-anak tertentu, antibodi jahat menetes melalui pembatas darah di otak dan bereaksi dengan sel ganglia basal. Kondisi ini membuat fungsi otak menjadi rusak.
“ Ini benar-benar seolah-olah otak anak terbakar,” kata psikiater Kiki Chang, M.D., penulis utama pedoman diagnostik.
Para ahli menduga bahwa reaksi ini hanya terjadi dengan beberapa strain bakteri dan hanya pada anak-anak yang sistem kekebalannya bereaksi berlebihan terhadap strain tersebut.
Sumber: Parents