Di Balik 8 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo
Kepuasan Publik Setelah Dua Tahun Prabowo-Gibran
Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
Ilustrasi
Dream - Ragu-ragu, panik, senang, sedih, kecewa, bahagia seluruh perasaan pasti akan muncul saat menjadi orangtua. Tapi satu hal pasti, yang diinginkan seluruh orangtua adalah anaknya dalam keadaan baik dan tumbuh menjadi pribadi matang dan mandiri.
Sayangnya, ada beberapa kebiasaan para orangtua yang justru kurang baik bagi pertumbuhan emosi dan psikologi anak. Misalnya, ketika Anda selalu memberi hadiah saat anak mendapat ranking 1 di sekolah. Berikut alasan dan kebiasaan buruk lain yang sering dilakukan orangtua.
1. Selalu memberi hadiah untuk prestasi yang bagus
Ini jadi salah satu hal yang seringkali dilakukan para orangtua. Alasannya, dengan memberi hadiah bisa membuat anak termotivasi agar berusaha lebih baik lagi atau setidaknya mempertahankan prestasinya. Hadiah atau imbalan sebenarnya bukan cara yang baik untuk memotivasi anak-anak.
Motivasi terbaik bagi anak adalah intrinsik, yaitu motivasi yang muncul dari dalam diri anak sendiri, misalnya karena dia memang suka pelajaran tertentu atau merasa tertantang. Penggunaan imbalan dapat menyebabkan anak bergantung pada motivasi dari luar. Jika tak ada imbalan yang dijanjikan bisa jadi anak tak termotivasi.
2. Fokus pada hasil
Hasil memang jadi hal yang paling dilihat, tapi sebelum muncul hasil ada langkah sebelumnya yaitu usaha dan kerja keras. Untuk itu jangan selalu fokus pada hasil prestasi anak, tetapi juga proses dan usahanya.
Anak tak selalu berhasil ketika pertama kali mencoba sesuatu, tapi dengan menekankan padanya kalau ada proses, ia akan mencoba dan mencoba lagi. Untuk itu cobalah memuji anak bukan hanya ketika muncul hasil, tapi ketika ia berusaha keras.
3. Selalu membuat anak sibuk
Banyak orangtua yang membuat jadwal harian anak dengan sangat padat. Sekolah dari pagi hingga sore, dilanjutkan les, lalu mengerjakan tugas dan pekerjaan rumah. Hal ini biasanya karena letakutan anak memiliki jam kososng dan bergaul dengan orang yang tidak baik atau terlalu banyak bermain.
Padahal anak juga membutuhkan waktu untuk melakukan hal yang disukainya, berisitirahat, mencari pengalaman baru dan bersenang-senang. Membuatnya selalu sibuk bisa membuatnya jenuh dan bisa memicu stres dan depresi pada nak.
4. Membantu menyelesaikan masalah
Anak-anak terutama ketika memasuki usia sekolah dasar akan menghadapi banyak tantangan dan masalah. Misalnya bertengkar dengantemannya di sekolah atau berbeda pendapat dengan gurunya. Jika anak menghadapi masalah dan menceritakannya dengan Anda, jangan langsung melibatkan diri.
Biarkan ia menyelesaikan masalahnya sendiri, karena akan melatihnya untuk mencari solusi. Cukup berikan saran dan itu pun jika ia meminta. Tak perlu berusaha aktif menyelesaikan masalahnya. Biarkan dia belajar dari masalah tersebut.
Sumber: BellyBelly