6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Masyarakat Indonesia ternyata masuk dalam ketgori masyarakat dunia yang malas berjalan kaki. Akibatnya Indonesia menduduki peringkat bawah negara dengan kebiasaan berjalan pada penduduknya.
Asisten Deputi Pengelolaan Olahraga Pendidikan Kementerian Pemuda dan Olahraga, Ary Moelyadi, mengungkapkan temuan ini diperoleh dari hasil penelitian akademisi di Universitas Stanford. Dari penelitian diketahui rata-rata orang Indonesia hanya berjalan sebanyak 3.513 langkah per hari.
Jumlah langkah tersebut masih jauh dari standar minimal yang ditetapkan sebanyak 7.000 langkah per hari.
" Setiap hari harus berjalan 7.000 langkah. Hasil dari yang kita lihat bahwa rata-rata penduduk Indonesia itu langkahnya hanya 3.513 langkah per hari," ujar Ary.
Dengan data tersebut, Ary menyatakan hanya 24 persen masyarakat Indonesia yang bisa dimasukkkan dalam kategori bugar. Selain itu angka partisipasi olahraga masyarat baru 34 persen.
Dampaknya, banyak penduduk Indonesia mengalami obesitas. Tak hanya itu, risiko terkena penyakit non-menular atau degeneratif seperti jantung, diabetes, osteoporosis pada masyarakat Indonesia meningkat akibat kurangnya gerak tubuh.
Kondisi ini tidak hanya terjadi pada orang normal. Sebanyak 8,56 persen penyandang difabel juga masuk kategori kurang gerak.
Khusus untuk difabel, kondisi ini juga ditentukan dari kurangnya fasilitas olahraga. Sehingga masih banyak masyarakat difabel Indonesia yang belum mendapatkan hak untuk berolahraga.
" Kita tidak mendikotomikan. Presiden juga mengatakan kita tidak boleh membedakan antara yang normal dan yang difabel, semuanya harus sama," kata dia.
Ary pun mengungkapkan ruang publik yang tersedia di seluruh Indonesia baru 20.138 unik dari 83.931 desa atau kelurahan. Angka ini sekitar 24 persen.
Kurangnya fasilitas olahraga di ruang publik, kata Ary, berdampak pada kualitas kebugaran masyarakat Indonesia terutama pada remaja. Hanya 2,1 persen pelajar masuk kategori aktif, sedangkan pelajar bugar pada kategori baik sekali hanya 0,14 persen.
Angka kebugaran remaja yang rendah ini disebabkan 90 persen aktivitas tidak bisa dilakukan tanpa menggunakan gawai. Dia mengingatkan masyarakat perlu membiasakan diri untuk bergerak.
Setidaknya berjalan di dalam ruangan selama 45 menit hingga satu jam. Sehingga kebugaran tubuh tidak berkurang.
" Badan kita harus tetap digerakkan, badan kita harus tetap sehat, badan kita harus tetap bugar di manapun dan kapanpun itu," ucap Ary, dikutip dari Merdeka.com.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya