Dua Jalan Berbeda Bursa Saham di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo VS Jokowi
Di Balik 8 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo
Kepuasan Publik Setelah Dua Tahun Prabowo-Gibran
Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
Foto: Shutterstock
Dream - Sahabat Dream mungkin sering mendengar istilah saraf kejepit. Ketika saraf terhimpit oleh bagian sekitarnya, tubuh akan mengirim sinyal berupa rasa kebas hingga pegal dan nyeri.
Banyak cara dilakukan orang untuk mengatasi saraf kejepit, mulai dari pijat tradisional hingga massage ke tempat spa. Tak sedikit pula yang membiarkan sembuh dengan sendirinya.
Padahal kondisi ini tidak boleh diremehkan, terutama jika terjadi pada tangan yang notabene merupakan bagian tubuh paling aktif.
Saraf kejepit merupakan jenis gangguan fungsi saraf tepi (neuropati) yang terjadi akibat jeratan. Pada tangan, neuropati lebih dikenal sebagai Carpal Tunnel Syndrome (CTS).
" Di pergelangan tangan ada terowongan berisi saraf yang diapit oleh tulang dan jaringan keras. Posisi statis dan berulang dalam jangka waktu lama bisa mengakibatkan saraf terhimpit oleh jaringan di sekelilingnya," tutur Manfaluthy Hakim, Dokter Spesialis Saraf di acara Neurobion, Jakarta, kemarin.

Foto: Annisa Mutiara Asharini/Dream
Saraf yang terjepit pada awalnya menimbulkan sensasi kebas dan kesemutan. Jika dibiarkan, saraf akan mati dan kerusakannya tidak bisa dibenahi. Pasien tak dapat menerima sensori hingga kehilangan kemampuan motorik.
Penderita CTS pada umumnya ditemukan di kalangan pekerja kantor yang bekerja di hadapan laptop secara terus-menerus. Selain tangan, CTS juga dapat menyerang siku bagian dalam dan telapak tangan.
" Pasien CTS harus memakai perban khusus untuk mengurangi tekanan saraf. Dibutuhkan terapi obat dan vitamin neurotropik agar tidak semakin parah," imbuhnya. (ism)
Advertisement

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Dua Jalan Berbeda Bursa Saham di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo VS Jokowi

