Kurangi Risiko Tertular Virus Corona, Ganti Lensa Kontak dengan Kacamata

Reporter : Sugiono
Kamis, 26 Maret 2020 19:46
Kurangi Risiko Tertular Virus Corona, Ganti Lensa Kontak dengan Kacamata
Penting dilakukan. Karena setiap kali memasang dan melepas lensa kontak, kita pasti akan menyentuh mata.

Dream - Tindakan pencegahan penularan virus corona Covid-19 menjadi prioritas warga karena jumlah pasien yang positif terinfeksi terus meningkat. Di Indonesia, kasus infeksi telah mencapai 893, 78 orang diantaranya meninggal dunia.

Pemerintah pun sudah berusaha maksimal melalui sosialisasi pencegahan virus corona dengan anjuran untuk menjaga jarak dan mengurangi kegiatan di luar rumah.

Sementara itu para ahli dari National Health Services (NHS) di Inggris menyarankan untuk membatasi menyentuh wajah, terutama area mulut dan hidung.

Tidak menyentuh mata juga menjadi salah satu cara menghindari penularan virus corona, termasuk mengurangi penggunaan lensa kontak.

Hal ini penting dilakukan. Karena setiap kali memasang dan melepas lensa kontak, kita pasti akan menyentuh mata.

Selain itu, kita terkadang juga perlu memperbaiki posisi lensa kontak sehingga beberapa kali memaksa kita untuk menyentuh mata.

Karena itu, bagi Sahabat Dream yang hobi memakai lensa kontak, sebaiknya mengurangi penggunaannya untuk mencegah penularan virus corona.

Jika perlu, kamu bisa mengganti lensa kontak dengan kacamata. Penggunaan kacamata memiliki beberapa keuntungan.

Selain tidak perlu sampai menyentuh mata, penggunaan kacamata juga bisa mengurangi iritasi sekaligus memperbaiki penampilan kamu secara keseluruhan.

" Mengganti lensa kontak dengan kacamata dapat mengurangi iritasi, dan memaksa kita berhenti sejenak sebelum menyentuh mata kita," ujar Dr. Sonal Tulsi dari American Academy of Ophthalmology.

Memakai kacamata juga bisa memberi perlindungan tambahan pada mata. Terutama dari droplet atau percikan cairan pernapasan orang yang batuk atau bersin.

Namun perlu diperhatikan bahwa fungsi perlindungan kacamata dari virus corona ini sangat terbatas.

Karena itu kamu perlu menjaga jarak aman ketika berinteraksi dengan orang lain di tengah wabah Covid-19 ini.

Sumber: Stylo.id

1 dari 9 halaman

Virus Corona Covid-19 Hasil Rekayasa dan Bocor dari Laboratorium, Cek Faktanya!

Dream - Di tengah merebaknya virus corona baru yang menyebabkan wabah COVID-19 ke seluruh dunia, banyak informasi salah tersebar di tengah masyarakat.

Salah satu informasi salah yang banyak beredar di media sosial adalah bahwa virus ini, yang disebut SARS-CoV-2, diciptakan di sebuah laboratorium di Wuhan, China.

Virus tersebut kemudian bocor dari laboratorium di Wuhan dan menyebar ke seluruh dunia hingga menjadi pandemik seperti sekarang ini.

Karena itulah Wuhan dianggap sebagai pusat penyebaran virus corona baru yang telah menginfeksi ratusan ribu orang di seluruh dunia.

Namun menurut penelitian terbaru, SARS-CoV-2 bukanlah sebuah produk laboratorium atau virus yang dimanipulasi untuk tujuan tertentu.

2 dari 9 halaman

Sekelompok peneliti membandingkan genom virus corona baru ini dengan enam virus corona lain yang diketahui menginfeksi manusia, yaitu SARS, MERS, HKU1, NL63, OC43 and 229E.

Kristian Andersen, seorang profesor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research, bersama rekan-rekannya meneliti contoh genetik dari spike protein atau lonjakan protein yang menonjol dari permukaan virus corona. Virus corona menggunakan lonjakan ini untuk menempel pada dinding luar sel inangnya dan kemudian memasuki sel-sel itu.

Para ilmuwan kemudian fokus pada pengurutan genetik dua fitur utama dari lonjakan protein ini, yaitu domain pengikat reseptor (RBD), sejenis pengait yang menempel pada sel inang; dan tapak pembelah, sebuah molekul yang memungkinkan virus untuk membuka dan memasuki dinding sel manusia dan hewan.

3 dari 9 halaman

Hasil analisis menunjukkan bahwa RBD virus corona ini telah berevolusi untuk menargetkan reseptor di dinding sel manusia yang disebut ACE2. Reseptor ini terlibat dalam pengaturan tekanan darah manusia.

RBD tersebut begitu efektif menempel pada sel manusia sehingga para peneliti mengatakan bahwa virus corona adalah hasil seleksi alam dan bukan rekayasa genetika.

Berikut penjelasan Kristian mengapa virus corona baru adalah seleksi alam dan bukan hasil rekayasa genetika.

4 dari 9 halaman

SARS-CoV-2 sangat erat kaitannya dengan virus yang menyebabkan sindrom pernafasan akut yang parah (SARS), yang menyebar di seluruh dunia hampir 20 tahun yang lalu.

Para ilmuwan telah mempelajari bagaimana SARS-CoV (penyebab SARS) berbeda dari SARS-CoV-2 (penyebab COVID-19) - dengan beberapa perubahan dalam kode genetik.

Dalam simulasi komputer, mutasi pada SARS-CoV-2 tidak bekerja dengan baik dalam membantu virus menempel dan menembus sel manusia.

Jika para ilmuwan sengaja merekayasa dan menciptakan virus ini, mereka tidak akan memilih mutasi gagal yang disarankan simulasi komputer tersebut.

Jadi, alam lebih pintar daripada para ilmuwan. Virus SARS-CoV-2 menemukan cara yang lebih baik untuk bermutasi - dan benar-benar berbeda - dari apa pun yang bisa diciptakan oleh para ilmuwan melalui simulasi komputer.

5 dari 9 halaman

Bagaimana dengan teori konspirasi yang menyebut virus SARS-CoV-2 bocor dari laboratorium dan kemudian menyebar?

Keseluruhan struktur molekul virus SARS-CoV-2 berbeda dari virus corona yang dikenal sebelumnya. Virus SARS-CoV-2 lebih mirip virus yang ditemukan pada kelelawar dan trenggiling.

Ilmuwan masih belum terlalu banyak mempelajari virus pada kedua hewan yang diduga jadi perantara ini. Selain itu, virus pada kedua binatang itu tidak pernah diketahui bisa menyebabkan bahaya pada manusia.

" Jika seseorang berusaha merekayasa virus corona baru sebagai patogen, mereka harus membuatnya dari tulang punggung virus yang diketahui menyebabkan penyakit," kata Andersen.

" Kedua fitur virus ini, yaitu mutasi pada bagian RBD dari spike protein dan tulang punggungnya yang berbeda, mengesampingkan adanya laboratorium sebagai kemungkinan asal dari SARS-CoV-2," tambahnya.

Sumber: LiveScience.com

6 dari 9 halaman

Ketahui Beda Batuk Biasa dan Batuk Karena Virus Corona

Dream - Virus corona atau Covid-19 telah menjadi pandemi di hampir sebagian negara-negara di dunia. Penyebarannya yang cepat dan meluas membuat orang-orang waspada.

Masih banyak yang kurang begitu paham dengan gejala-gejala jika seseorang terserang virus corona. Nah, salah satu gejala orang terjangkit virus corona atau Covid-19 adalah batuk.

Tetapi batuk yang dipicu oleh virus corona berbeda dengan batuk biasa yang disebabkan oleh virus influenza atau biasa disebut dengan flu.

Memang, gejala Covid-19 ini hampir mirip dengan gejala flu biasa yang dibarengi dengan demam, sakit kepala dan batuk.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut perbedaan gejala batuk akibat virus influenza dan virus corona yang perlu kamu ketahui.

7 dari 9 halaman

Batuk Biasa Karena Flu

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat, batuk akibat virus influenza sering terjadi secara tiba-tiba.

Penderita biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu yang relatif singkat. Biasanya kurang dari dua minggu.

Batuk karena virus flu ini juga akan disertai dengan pilek dan bersin-bersin. Sementara penderita Covid-19 tidak mengalami kondisi tersebut.

Kesimpulannya, jika seseorang batuk disertai pilek dan bersin-bersin, maka kemungkinan dia hanya menderita sakit flu biasa.

8 dari 9 halaman

Batuk Akibat Covid-19

Sementara itu batuk pada orang positif Covid-19 berbeda dari batuk pada penderita flu.

Dilansir The Sun, Dr Sarah Jarvis, dokter dan Direktur Klinik di Patientaccess.com mengungkapkan bahwa orang positif Covid-19 akan mengalami batuk kering yang terus menerus.

Dr Sarah kemudian memberikan ciri-ciri dari batuk kering terus menerus yang kemungkinan menjadi gejala bagi orang terjangkit virus corona.

Ciri pertama adalah penderita belum pernah mengalami batuk kering terus menerus sebelumnya. Artinya, itu bukan batuk yang biasa dirasakan, seperti orang merokok kemudian batuk-batuk.

Batuk kering ini akan terjadi setidaknya selama setengah hari. Ciri lainnya, batuk ini terjadi terus menerus. Bukan sesekali seperti orang berdehem atau ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokan.

9 dari 9 halaman

Tetap Perlu Waspada

Sesuai namanya, batuk kering adalah jenis batuk yang tidak disertai dahak. Batuk kering sangat mengganggu. Biasanya disertai dengan rasa gatal di tenggorokan.

Jadi, meski tidak selalu positif Covid-19, penderita batu kering sebaiknya waspada. Karena batuk kering ini lebih berpotensi menjadi gejala Covid-19 dibandingkan dengan batuk yang disertai dahak.

Dilansir Vox.com, selain demam, gejala Covid-19 yang paling umum adalah batuk kering dan sesak napas. Gejala-gejala ini terlihat pada hampir 90 persen orang positif Covid-19.

Beri Komentar
Wajah Tegar BCL Saat Antarkan Jenazah Ashraf Sinclair