Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Pixabay)
Dream – Marrakesh, Maroko terkenal dengan pertunjukan ular, pendongeng, dan turis yang berdatangan dari berbagai negara. Namun, akibat pembatasan wilayah yang diberlakukan, membuat industri pariwisata Marrakesh terhenti.
Salah satu situs warisan dunia UNESCO abad ke-11 ini pun hampir kosong. Kota ini nampaknya tengah menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sebelum pandemi covid-19, bahkan untuk sekedar makan saja, pengunjung harus antre terlebih dahulu.
Marrakesh biasanya dipadati orang-orang yang berkumpul di alun-alun Jamaa El Fna. Selain itu, kota ini juga dipenuhi oleh para musisi, penjual souvenir, hingga para peramal.
Maroko sendiri telah mengkonfirmasi lebih dari 86 ribu kasus Covid-19. 1.500 di antaranya meninggal dunia.
© Ilustrasi (Foto: Pixabay)
Dulunya di berbagai gang sempit yang mengarah ke Jamaa El Fna dipadati kios-kios yang menjual berbagai souvenir hingga rempah-rempah khas Marrakesh. Kini hanya beberapa saja kios yang masih buka.
“ Sebagian besar pedagang telah menutup toko mereka, yang lain buka hanya untuk menghabiskan waktu karena tidak ada yang dapat dilakukan di rumah. Sedangkan lainnyasama sekali tidak membuka tokonya,” kata Mohamed Challah, salah seorang penjual jubah kaftan.
Setelah pembatasan wilayah mulai dilonggarkan, mereka berharap industri pariwisata dapat kembali normal meskipun hanya didatangi oleh pengunjung domestik.
© Ilustrasi (Foto: Pixabay)
Namun, secara tiba-tiba pengumuman mengejutkan terkait kembali di berlakukannya pembatasan wilayah di Marrakesh telah memupus harapan mereka.
Marrakesh dan Casablanca adalah dua kota yang paling banyak mengalami kasus penyebaran Covid-19.
Namun pihak berwenang masih terus berupaya untuk menjaga perekonomian tetap berjalan.
Seperti semua pemerintah, pihak berwenang harus mempertimbangkan tindakan penguncian terhadap kebutuhan untuk menjaga perekonomian tetap hidup.
Ditengah keputuasaan tersebut, beberapa kalangan masyarakat mulai melakukan protes dijalanan. Mereka meminta bantuan pemerintah untuk membantu mereka tetap hidup ditengah krisis ekonomi.
“ Virus corona bukanlah yang membunuh kami. Tetapi kelaparan yang akan lebih dulu melakukannya,” bunyi spanduk yang dibawa oleh para demonstran.
(Sumber: arabnews.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya