Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Kondisi serba sulit seperti sekarang membuat anak-anak sangat rentan mengalami masalah mental. Terutama anak remaja, di mana perubahan hormon membuat pikirannya menjadi kian kompleks dan punya kecenderungan memberontak, hingga bunuh diri.
Untuk di Indonesia sendiri hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018 menemukan bahwa prevalensi gangguan mental emosional remaja usia di atas 15 tahun meningkat menjadi 9,8% dari yang sebelumnya 6% di tahun 2013.
Organisasi kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat 15% anak remaja di negara berkembang berpikiran untuk bunuh diri, di mana bunuh diri merupakan penyebab kematian terbesar ketiga di dunia bagi kelompok anak usia 15-19 tahun.
Psikolog Anak, Annelia Sari Sani, S.Psi, mengungkap menjaga kesehatan mental anak sangat penting. Hal ini demi menunjang kehidupan psikologis yang sehat saat anak beranjak dewasa.
“Gangguan mental pada usia anak hingga remaja dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan mereka termasuk menyebabkan masalah pada perilaku, gangguan emosional dan sosial, gangguan perkembangan dan belajar, gangguan perilaku makan dan kesehatan, hingga gangguan relasi dengan orang tua. Tidak seperti gangguan kesehatan lainnya," ungkap Annelia, dikutip dari rilis yang diterima Dream.co.id.
© Dream
Ia juga menekankan tanda-tanda gangguan kesehatan mental, terlebih pada anak, cenderung sulit untuk dilihat. Sehingga, penting bagi orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak.
"Hal ini demi memberikan penanganan sejak dini, guna meminimalisasi risiko jangka panjang saat anak tumbuh dewasa," pesannya.
Jangan takut atau ragu untuk membawa anak berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater jika memang muncul randa stres atau depresi. Dengan berkonsultasi, kita akan mencari akar masalah dan bersama-sama mencari solusi.
“Saat kami berinteraksi dengan anak muda yang mengalami gangguan mental, stigma yang paling sering ditemui adalah rasa malu dan bingung. Mereka malu mengakui bahwa memiliki gejala-gejala gangguan mental. Saya percaya bahwa dengan membuka komunikasi dua arah secara lebih intensif dengan orang tua, maka penanganan gangguan kesehatan mental dapat dilakukan sejak dini, terlebih dengan kehadiran teknologi telemedicine seperti Halodoc yang mempermudah akses dan bantuan dari tenaga kesehatan profesional," kata Annelia.
Bisa juga mengajak anak konsul secara online. Penyedia layanan kesehatan berbasis digital, Halodoc, baru saja menggandeng 200 psikolog klinis yang tergabung dalam jaringan keanggotaan Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK) untuk memberikan layanan konsultasi secara daring melalui platform telemedicine. Langkah ini mungkin bisa dicoba.
© Dream
Dream - Orangtua cenderung ingin selalu terlibat dalam kehidupan anak. Sejak anak bayi hingga balita semua hal diurus dari yang kecil hingga besar. Orangtua kerap lupa kalau anak juga pribadi yang tumbuh dan membutuhkan privasi.
Jangan kaget saat anak beranjak dewasa, ia mulai menjauh, sulit dipahami, suka adu argumen dan makin tertutup. Remaja juga lebih suka di dalam kamar dan menghabiskan waktu dengan teman-temannya.
Menurut psikolog Roslina Verauli, remaja sebenarnya sedang butuh waktu untuk membangun identitasnya sendiri. Hal ini serupa dengan orangtua atau kakek neneknya yang butuh waktu untuk diri sendiri. Apalagi emosi remaja yang belum stabil.
"Bagi remaja, situasi-situasi yang mereka alami sehari-hari bisa membuat emosinya kembali tidak stabil. Terlebih lagi kalau lagi marah menjadi lebih marah atau kalau lagi sedih, malah menjadi lebih sedih," ujar Vera, dalam sesi webinar Peran Penting Pendidik Sebaya, dikutip dari Liputan6.com.
© Dream
Remaja juga terkait dengan masa-masa pubertas yang sedang dialami. Mereka mengalami transisi yang kompleks, bukan anak-anak lagi. Berpikiran dewasa juga belum.
"Misalnya, mereka mungkin punya masalah, lagi berantem dengan teman atau putus dengan pacarnya. Bisa juga mereka merasa gagal secara akademis. Ini kan sesuatu yang remaja itu butuh melakukan refleksi diri. Kita bisa lihat dari sisi perubahan terkait fisik perubahan, cara berpikir juga berubah," lanjut Vera.
© Dream
Vera menambahkan, yang dibutuhkan oleh remaja, terutama di usia 12 - 13 tahun, yakni kasih sayang. Kasih sayang bahwa mereka diterima dicintai tanpa syarat.
"Kalau di dunia psikologi maksudnya ada seseorang yang bersedia mendengarkan curhatan dari remaja. Ini karena mereka hanya butuh seseorang yang seolah-olah mengerti dan mau dengerin sungguh-sungguh," tambahnya.
Remaja juga butuh empati dan simpati. Simpati dan empati untuk menolong permasalahan, termasuk kesedihan yang dialami.
"Di rumah, misalnya, kalau si remaja cerita tentang apa yang dialami tapi enggak didengerin gitu kan sedih. Jadi, kita butuh orang yang menyayangi," pesan Vera,
Laporan Fitri Haryanti/ Sumber: Liputan6.com
Advertisement

Mengapa Ada Pusar Bodong dan Pusar Masuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Deforestasi Amazon Brasil Turun ke Level Terendah, Ini 5 Pelajaran yang Bisa Ditiru Indonesia

Cuma 10 Menit Olahraga Sehari Bisa Bikin Tidur Lebih Nyenyak, Ini Temuan Peneliti

Sering Tersengat Listrik Saat Memegang Gagang Pintu? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya

Apa yang Terjadi Jika Semua Hutan di Bumi Hilang? Bukan Cuma Hewan, Kehidupan Manusia Ikut Terancam

Buah Kalengan Ternyata Bisa Menyehatkan, tetapi Perhatikan 2 Hal Ini Sebelum Membelinya
