Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Tocilizumab Sering Digunakan Mengobati Pasien Peradangan Sendi. (Foto: Shutterstock)
Dream- Di tengah pandemi covid-19 yang telah menelan banyak korban jiwa, perburuan untuk menemukan obat dan vaksin virus corona belum juga membuahkan hasil.
Di samping itu, banyak tahapan yang harus dilalui sebelum dapat digunakan secara massal.
Penelitian yang begitu lama dengan proses berbelit tentunya membuat bingung para medis dalam menangani dan mengobati para pasien Covid-19 yang terus bertambah.
Di tengah kondisi yang dilematis semacam ini, seorang ilmuan mengklaim jika obat radang sendi merupakan obat yang efektif untuk mengobati infeksi virus corona.
Obat bernama tocilizumab, selama ini sering digunakan untuk mengobati pasien rheumatoid arthritis atau peradangan sendi.
Dilansir dari sehatQ, pada Maret silam, seorang dokter dari Rumah Sakit Pascale di Italia menyerukan pemerintah untuk menggunakan tocilizumab dalam mengobati pasien covid-19.
Mereka bersikeras obat yang ditujukan untuk orang dengan rheumatoid arthtithis parah atau radang sendi, bisa digunakan untuk penderita Covid-19. Lantas sejauh mana efektivitas obat tersebut untuk virus corona?
Pemberian obat tocilizumab untuk pasien terpapar virus Corona ternyata banyak yang mengalami kesembuhan. Bahkan praktek ini telah berlangsung sejak awal pandemi mulai menyerang Eropa. Lalu apa sebenarnya tocilizumab itu?
Tocilizumab merupakan golongan obat injeksi yang bekerja sebagai penghambat interleukin-16 (IL-6). Tubuh memproduksi IL-6 saat mengalami peradangan.Tocilizumab bekerja dengan cara menghambat efek IL-6 pada penderita radang sendi atau rheumatoid arthritis.
Selain radang sendi, obat ini dapat digunakan untuk mengobati juvenile idiopathic arthritis poliartikular maupun sistemik. Penyakit ini adalah bentuk arthritis yang terjadi pada anak-anak, yaitu anak di bawah usia 17 tahun.

Tocilizumab sendiri memiliki efek samping, seperti infeksi pernapasan, sakit kepala, tekanan darah tinggi (hipertensi), dan peningkatan enzim hati.
Bahkan, penggunaan obat ini sering dikaitkan dengan munculnya infeksi tuberkulosis, sepsis (bakteri di dalam darah), dan infeksi jamur.Tidak hanya itu, tocilizumab dianggap tidak boleh digunakan oleh pasien yang infeksinya masih aktif karena obat ini dianggap dapat memunculkan penyakit baru pada sistem saraf.
Beberapa studi juga menunjukkan bahwa tocilizumab dapat menyebabkan turunnya sel darah putih, reaktivasi herpes zoster, dan reaksi alergi. Lantas, bagaimana cara tocilizumab bekerja dalam mengobati Covid-19?
Obat tocilizumab dipercaya dapat mengurangi reaksi berlebih dan berbahaya terhadap virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang disebut badai sitokin.
Badai sitokin ini tak hanya memacu tubuh pasien untuk melawan virus corona, tapi juga melawan sel dan jaringan tubuhnya sendiri. Dalam kasus Covid-19, badai sitokin dipercaya dapat menyebabkan komplikasi gangguan pernapasan, bahkan sampai memicu kematian.

Di Tiongkok, para peneliti mencoba memberikan tocilizumab pada 20 pasien Covid-19. Dari percobaan itu, sekitar 19 pasien berhasil keluar dari rumah sakit hanya dalam waktu 2 minggu. Namun sayangnya, studi hanya dilakukan dalam skala kecil.
Begitu pula di Italia, di mana sebuah studi menjabarkan bahwa tocilizumab dapat menurunkan kematian akibat Covid-19 sampai 39 persen. Sayangnya, studi ini masih bersifat retrospektif dan perlu studi-studi lanjutan lagi.
Meskipun banyak rumor menjanjikan mengenai obat tocilizumab dalam menyembuhkan pasien Covid-19, para peneliti dari Robert Wood Johnson University Hospital Somerset, Amerika Serikat menyatakan, tidak ada bukti kuat bahwa tocilizumab dapat menyembuhkan pasien Covid-19 yang sudah parah.
Dalam studi yang diikuti oleh 132 pasien, diketahui bahwa tocilizumab tak mengurangi angka kematian sama sekali. Perusahaan obat raksasa asal Swiss bernama Roche juga mengaku bahwa obat tocilizumab tidak berpengaruh dalam mengobati pasien Covid-19 yang sudah parah.

Dalam studinya, ditemukan bahwa tocilizumab gagal dalam mengurangi angka kematian dan tingkat keparahan virus corona. Sejauh ini, BPOM-nya Amerika Serikat, Food and Drug Administration (FDA), juga belum menyetujui penggunaan obat tocilizumab pada pasien Covid-19.
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia juga menyatakan, rumor penggunaan tocilizumab yang dipercaya dapat sembuhkan pasien Covid-19 adalah disinformasi belaka.
Mereka beranggapan, penggunaan obat tocilizumab masih belum bisa dibuktikan. Sebab, ilmuwan di Tiongkok maupun Amerika Serikat masih berusaha untuk membuktikan efektivitas obat tersebut.
Sumber : SehatQ
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya