Menguap Bisa Jadi Sinyal Penyakit?

Reporter : Kusmiyati
Kamis, 21 Mei 2015 16:26
Menguap Bisa Jadi Sinyal Penyakit?
Menguap ternyata tak hanya gerakan refleks ketika seseorang merasa rasa letih atau mengantuk. Gerakan refleks ini dilakukan bisa jadi akibat kurangnya oksigen.

Dream - Menguap ternyata tak hanya gerakan refleks ketika seseorang merasa rasa letih atau mengantuk. Gerakan refleks ini dilakukan bisa jadi akibat kurangnya oksigen.

Seperti dilansir Hufftingpost, Kamis 21 Mei 2015, ada sedikit penelitian untuk mendukung salah satu dari sejumlah teori tentang mengapa seseorang menguap. Mulai dari pertanda letih atau mengantuk atau cerminan kurangnya oksigen.

" Kita tidak hanya melakukannya ketika kita lelah. Ini juga mungkin mencerminkan kekurangan oksigen," ujar Profesor di Frances Payne Bolton Sekolah Keperawatan di Case Western Reserve University dan Juru Bicara American Academy of Sleep Medicine, Michael Decker, Ph.D.

Bagian bawah lobus paru-paru biasanya tidak bekerja ketika seseorang berada di keadaan istirahat. Hal ini tidak sama saat berolahraga yang lebih banyak menggunakan lebih dari kapasitas paru-paru. Pernapasan yang terjadi membantu menjaga paru-paru agar tetap sehat.

Dalam kasus pasien operasi, beberapa pasien menurunkan fungsi paru-paru saat menderita pneumonia karena pernapasan dangkal setelah anestesi. " Menguap akan seperti respons homeostatis, tidak bernapas terlalu dalam," kata Decker.

Menguap tampaknya dapat juga terjadi peningkatan saat seseorang merasa bosan. Menurut sebuah studi tahun 1986, mahasiswa yang menguap lebih banyak ketika ditampilkan pola warna dibandingkan yang menyaksikan video selama 30 menit.

Penelitian terbaru tentang menguap menunjukkan bahwa itu terjadi untuk mendinginkan otak. Menguap dengan mulut terbuka menyebabkan dinding sinus meluas dan berkontraksi memompa udara ke otak dan menurunkan suhu," katanya dilaporkan National Geographic.

Studi ini menemukan bahwa orang lebih cenderung menguap selama musim dingin. Menguap biasanya berlangsung sekitar enam detik. Selama enam detik, denyut jantung meningkat secara signifikan.

Sebuah studi meneliti tubuh seseorang, sebelum dan sesudah menguap dan menemukan bahwa sejumlah perubahan fisiologis yang terjadi selama enam detik tidak direplikasi ketika peserta penelitian hanya diminta untuk mengambil napas dalam-dalam.

Menguap juga bisa merupakan sinyal dari penyakit. Hal ini tidak biasanya merupakan gejala pertama dari sesuatu yang serius, tapi menguap berlebihan dalam beberapa kasus sinyal ada sesuatu yang salah pada tubuh. Pola tidur yang kurang bisa jadi penyebabnya.

Menurut National Institutes of Health, pada beberapa orang, menguap berlebihan bisa menjadi reaksi yang disebabkan oleh saraf vagus yang dapat menunjukkan masalah jantung. Dalam kasus langka lainnya, menguap juga bisa menandakan sejumlah masalah otak. (Ism0

Beri Komentar
Roger Danuarta Ogah Lihat Cut Meyriska Tampil Modis