JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Virus Corona Wuhan (2019-nCoV) telah menyebar ke 25 negara di dunia. Hingga hari ini, 4 Februari 2020 terdapat 20.626 kasus dengan kematian mencapai angka 426 orang.
Laju penularan virus Corona dinilai lebih tinggi dibandingkan dengan virus flu burung. Penularan juga akan sangat berisiko jika melakukan kontak langsung dengan orang yang terjangkit virus.
" Laju transmisi penularannya berskala 1:2, 1 orang yang terindikasi berpotensi menularkan 2 orang lainnya dan berpangkat, jadi jika ada 2 orang yang terindikasi, maka akan berpotensi menular ke 4 orang lainnya dan seterusnya," ujar dr. Raden Rara Diah, spesialis paru di acara Media Briefing Virus Corona Rumah Sakit Universitas Indonesia, Depok, pada hari Selasa, 4 Februari 2020.
Dokter yang juga menjalani praktik di RS Pondok Indah dan RS Persahabatan tersebut juga mensosialisasikan alur deteksi virus corona yang telah ditetapkan oleh WHO (World Health Organization) di seluruh dunia.
" Yang pertama itu kan sudah dipasang thermal scanner di bandara-bandara" , ujarnya.
Thermal Scanner mampu merekam suhu berbagai objek yang melintasi perangkatnya dengan warna-warna yang berbeda. Apabila ada seseorang yang demam, akan muncul warna kuning, oranye atau merah yang berarti memiliki suhu tubuh tinggi.
Bukan hanya suhu tubuh, riwayat perjalanan juga sangat penting untuk dilihat. Jangan mengabaikan jika demam muncul setelah melakukan perjalanan ke negara yang terdapat kasus corona.

" Orang yang dengan riwayat perjalanan ke China, dia tidak ada sakit tetapi ia melapor ke fasilitas kesehatan, kita akan melakukan pemeriksaan dan akan diminta pemantauan dengan cara diisolasi terlebih dahulu" , kata dr. Diah.
Orang yang diisolasi diharuskan berada di rumah dan tidak boleh berpergian. Pengawasan juga akan dilakukan oleh dinas kesehatan baik lewat telepon atau pun secara langsung dan dipantau gejala serta perkembangannya secara berkelanjutan.
" Akan diberi edukasi jika ada gejala yang memberat misalkan jadi batuk, jadi sesak, maka dimungkinkan ia harus ke rumah sakit rujukan" , ungkap dr. Diah.

Jika sudah memiliki gejala, orang yang terindikasi akan langsung diantar oleh petugas kesehatan dengan ambulance karena tidak bisa diantar oleh sembarang orang demi menghindari perpindahan virusnya. Para petugas kesehatan yang menangani juga akan menggunakan pakaian khusus.
Laporan: Raissa Anjanique Nathania
Dream - Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Universitas Indonesia (UI), Raden Rara Diah Handayani, mengatakan, pemerintah Indonesia siap mengantisipasi novel coronavirus (2019-nCoV) yang berasal dari Wuhan, China.
Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya manusia (SDM) dan fasilitas kesehatan yang baik dalam mengantisipasi virus corona.

" Kalau menangani wabah seperti ini (virus corona) kan ada sistem rujukan, maksudnya itu yang dipersiapkan pemerintah. Misalnya pemerintah telah menyiapkan thermal detector di bandara atau pintu-pintu masuk Indonesia seluruhnya. Itu bukti kesiapan," ujar Diah dikutip dari Merdeka.com, Selasa 4 Februari 2020.
Menurutnya, antisipasi yang baik juga dilakukan oleh Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto. Sebab, dia mau turun langsung ke lapangan memimpin komando untuk mengantisipasi datangnya virus corona.
" Bahkan Menteri Kesehatan (Terawan Agus Putranto) langsung mengawasi langsung beberapa RS yang dijadikan pusat rujukan," kata dia.
RS UI, tambah dia, juga sudah bersiap apabila menjadi rujukan merawat pasien suspect virus corona. Diah memastikan, fasilitas kesehatan dan SDM di RS UI siap mengantisipasi itu semua.
" Kami langsung mempersiapkan seperti standby petugas. Ada tidak ada kasus kita standby ya. Alat-alat dipersiapkan berapa, jumlah tempat tidur yang dibutuhkan kira-kira berapa, sampai mesin bantu napas berapa yang diperlukan. Jadi kesiapan sampai seperti itu," ujar dia.
(Sumber: Merdeka.com/ Supriatin)
Dream - Warga di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau akhirnya menerima keputusan pemerintah yang menjadikan daerahnya sebagai lokasi karantina WNI yang dievakuasi dari Wuhan, China. Di balik keputusan tersebut, ternyata ada peran Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto.
Dokter yang juga pensiunan TNI berpangkat jenderal bintang dua itu meyakinkan warga Natuna dengan masuk ke dalam pesawat dan mempertaruhkan dirinya jika sampai ada penumpang WNI tersebut yang terpapar virus corona.
" Kalau saya bilang menjamin kan repot," ujar Terawan dikutip dari Liputan6.com, Selasa 4 Februari 2020.
Saat pesawat datang pertama kali ke Natuna, Terawan yang kala itu berada di garda terdepan memutuskan masuk ke dalam pesawat. Di kabin, Menkes sempat menyapa seluruh warga Wuhan yang baru tiba di Tanah Air.
" Nah, itu artinya saya menjaminkan," jelas Terawan.
Menurut Terawan, penanganan evakuasi dan mengkarantina WNI dari Wuhan di Natuna merupakan kesepakatan bersama yang diperintahkan Menko Polhukam. Dia bahkan menyebut program pemulangan tersebut sebagai operasi kilat.
" Ini adalah operasi cepat kilat dan harus tepat, tidak boleh meleset sedikit pun," kata dia.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
