Vaksin (Foto: Shutterstock)
Dream - Pemerintah China masih berupaya mengatasi virus corona jenis baru (2019-nCov). Kabar terbaru, vaksin anti HIV/AIDS dapat digunakan untuk menghentikan penyebaran penyakit di dalam tubuh.
Percobaan ini berawal dari pemakaian vaksin anti HIV/AIDS, yakni kombinasi lopinavir dan ritonavir pada pasien SARS. Faktanya, belum ada uji klinis yang membuktikan efektifitas vaksin tersebut terhadap corona.
" Ada beberapa percobaan menggunakan obat anti HIV/AIDS sebagai pengobatan anti virus corona. Tetapi ini masih dalam penelitian, belum bisa dikatakan benar atau salah," kata dr. Raden Rara Diah Handayani, SP.P(K), pakar Pulmonologist Rumah Sakit Universitas Indonesia di Depok, Selasa 4 Februari 2020.
Menurut dr. Diah, belum ditemukan dengan pasti bagaimana obat anti HIV/AIDS bisa memutus rantai penyakit dari virus corona. Saat ini penelitiannya masih dalam tahap pengerjaan.
" Bukan kita yang tidak mampu, tapi seluruh dunia juga belum ada yang menemukan," ujarnya.
Belum ada vaksin atau pengobatan spesifik untuk 2019-nCov, namun gejala yang disebabkan oleh virus tersebut masih dapat diobati.
Corona memiliki risiko kematian lebih rendah dibandingkan wabah lain seperti SARS dan flu burung.

" Kasus per hari ini ada 20,626 dengan kematian 426 jiwa dan yang sembuh mencapai 653 orang," ujar dr. Diah.
Pengobatan corona harus didasarkan pada kondisi klinis pasien. Jika terduga masih menunjukkan gejala awal, pasien akan mendapat terapi suportif.

Pemberian makanan sehat juga dilakukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh dalam melawan virus. Selama masa perawatan, pasien ditempatkan di ruang isolasi demi mencegah penularan ke orang lain.
" Pantau suhu badan, rontgen paru-paru, diperiksa virusnya masih ada atau tidak. Kalau dua kali berturut-turut dinyatakan negatif kita nyatakan dia sembuh dan dipulangkan," ungkap dr. Diah
Dream - Kolaborasi ilmuwan dari Universitas Airlangga Surabaya dan Kobe University, Jepang menjadi salah satu kabar gembira di tengah gempuran virus Corona Wuhan (2019-nCoV).
Kerja sama penelitian itu menghasilkan alat yang mampu mengidentifikasi pasien yang diduga terjangkit virus Corona Wuhan.

" Masyarakat bisa memanfaatkan lembaga kami untuk mengkonfirmasi ada atau tidaknya virus. Identifikasinya tidak lama, hanya dalam hitungan jam, tetapi mekanisme sudah sesuai dengan standar kesehatan dunia WHO (World Health Organization)," kata Rektor Unair, Prof Mohammad Nasih, diakses dari laman resmi Unair, Selasa, 4 Februari 2020.
Nasih mengatakan, penelitian bersama Unair dan Kobe University telah menemukan reaktan virus Corona Wuhan. Selain di Unair, reaktan ini juga telah dimiliki Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Balitbangkes.
Nasih mengatakan, akurasi reaktan ini mencapai 99 persen. Sebab, ada parameter reagen yang berasal dari parameter positif tertular virus.
" Pemeriksaannya dari dahak, kalau memang hasilnya sama dengan parameter yang positif maka akan dilakukan penanganan khusus," ujar dia.
Dengan identifikasi secara spesifik ini, Nasih berharap ke depannya dapat menghasilkan riset penanganan dan pencegahan akan virus ini.
" Obatnya masih susah karena kami belum mengetahui jenis mutasi virus ini seperti apa," kata dia.
Dia mengakui kemampuan Unair dalam menemukan reaktan ini tak lepas dari akses Kobe University dan relasi di Jerman, dalam mengakses data dan gen virus corona dari bank virus.
Dream - Wabah virus corona banyak menyisakan kisah sedih, khususnya bagi warga China.
Bukan hanya semakin banyak orang yang terinfeksi, namun juga tak sedikit dari mereka yang terpaksa berpisah dengan orang tercinta karena harus menjalani pengobatan di dalam ruang isolasi.
Salah satunya seperti kisah pasangan berikut ini. Kisahnya mampu membuat banyak orang bercucuran air mata. Laman World Of Buzz memberitakan sebuah video yang tersebar di media sosial yang menguras emosi warganet.
Video itu memperlihatkan pasangan suami istri yang diperkirakan berusia 80 tahun. Keduanya dinyatakan positif terkena virus corona.
Dalam video mereka terlihat berpegangan tangan dan menangis diantara kedua kasur yang memisahkan mereka.
Terdengar suara lemah dari sang suami berbicara dengan penuh kasih. Sementara sang istri dengan lemah terus menggengam tangan suaminya.
Seperti diketahui, coronavirus atau virus corona dikenal sangat sulit dikalahkan.
Terutama bagi mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti orang tua misalnya.
Karena itu, pasangan ini pun mencoba untuk ikhlas dan menerima kenyataan bahwa mereka mungkin tidak akan bertemu lagi.
Pertemuan itu adalah pertemuan terakhir mereka setelah hampir seumur hidup menjalani kasih bersama.
Banyak dari warganet yang mengirimkan doa untuk kesembuhan pasangan ini, dan berharap mereka dapat bertemu lagi.
Berikut videonya:
What does a couple mean? Two elderly patients of #coronavirus in their 80s said goodbye in ICU, this could be the last time to meet and greet ???????????? pic.twitter.com/GBBC2etvV9
— ?? Jiang Wei (@juliojiangwei) February 2, 2020