Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Raja Ampat (Shutterstock.com)
Dream - Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, tampaknya sudah jengah dengan ulah kapal-kapal wisata. Sebabnya, kapal-kapal wisata tersebut terbukti merusak ekosistem terumbu karang.
Sekretaris Daerah Raja Ampat, Yusuf Salim, menegaskan akan ada sanksi tegas untuk kapal wisata yang melakukan pelanggaran. Sanksi tegas diperlukan untuk melindungi terumbu karang Raja Ampat agar tetap lestari.
Yusuf mengatakan tidak akan ada lagi toleransi bagi kapal pelanggar aturan. Begitu kedapatan membuat pelanggaran, pengelola kapal bisa dikenai sanksi hingga pencabutan izin operasi di Raja Ampat.

" Sedangkan bagi kapal pesiar jenis tertentu, wajib melaporkan kedatangan kepada pemerintah setempat dan mengikuti semua aturan yang berlaku di Raja Ampat," kata Yusuf, dikutip dari Liputan6.com.
Kepala Dinas Pariwisata Raja Ampat, Yusdi Lamatenggo, mengatakan kapal wisata juga diharuskan menggunakan jasa pemandu lokal yang bersertifikat. Jika tidak, maka Pemda Raja Ampat tidak akan mengeluarkan izin bagi kapal wisata untuk masuk destinasi.

Yusdi mengatakan sikap tegas perlu dijalankan agar perjalanan kapal wisata di Raja Ampat nyaman. Yang paling utama, mencegah kerusakan pada terumbu karang.
Lebih lanjut, Yusdi mengimbau seluruh stakeholder pariwisata untuk melapor ke Dinas Pariwisata apabila menemukan kapal yang masuk ke Raja Ampat tanpa ada pembantu. Sehingga, kapal tersebut bisa diproses.
Sumber: Liputan6.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya