Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto: Shutterstock
Dream - Pandemi Covid-19 berdampak besar pada perekonomian global. Tak terkecuali di bidang industri mode. Tak hanya desainer, perusahaan raksasa seperti H&M Group juga mengalami kerugian.
Dilansir dari World of Buzz, H&M akan menutup 170 toko yang tersebar di seluruh dunia. Keputusan ini dibuat usai saham H&M terus tergerus 50 persen atau senilai Rp4,7 triliun di sepajang kuartal II-2020.
Untuk mengatasi persoalan keuangan tersebut, perusahaan akan mengalihkan penjualan ke toko online.
Pandemi corona tak diragukan lagi telah membuat angka pengunjung toko merosot tajam.
" Kami melihat pandemi telah menyebabkan perubahan drastis pada perilaku customer. Pandemi mempercepat arus digitalisasi industri kita," tutur Helena Helmersson, CEO H&M Group.
Ia mengatakan, sebagian pembeli H&M kini adalah pelanggan multichannel. Jajaran direksi H&M akan berfokus pada tata cara yang lebih fleksibel dan efektif di era new normal.
Sementara itu di Malaysia, penjualan online H&M justru ditunda dalam batas waktu yang belum ditentukan. Belum ada rencana penutupan toko offline di Negeri Jiran hingga saat ini.
Tak hanya H&M, sejumlah brand raksasa lainnya juga mengalami imbas buruk dari pandemi Covid-19. Sebelumnya Esprit dan Zara juga telah melakukan penutupan sejumlah toko offline. Zara menutup 1.200 toko mereka dan beralih ke penjualan digital.
Sumber: World of Buzz
Dream - Pandemi Covid-19 berhasil mengubah banyak hal secara global. Salah satu perubahan yang paling terlihat adalah cara berbelanja.
Jika biasanya berbelanja cukup dengan datang ke toko, mencoba barang dan membelinya, kini kita harus memakai masker, mengecek suhu tubuh serta membeli sesuatu secara daring.
Sebenarnya, perubahan tersebut membuat cara berbelanja menjadi lebih praktis dan aman. Namun, perubahan tersebut membuat keberadaan virus Covid-19 kian terasa.
Dilansir dari Times of India, seorang pembeli 23 tahun, Tiara Show menyampaikan pengalaman berbelanjanya di toko American Eagle Outfitters.
Saat ingin memasuki toko, ia diwajibkan untuk memakai masker dan penataan barang pun diatur ulang agar pembeli tidak harus menyentuhnya.

Kamar ganti pun ditutup. Saat membayar barang yang dibeli, ia berdiri di depan kaca pembatas dan merobek struknya sendiri. Rak di depan toko yang biasa diisi dengan pakaian, kini menyediakan hand sanitizer, masker sekali pakaian dan pembersih sepatu.
Semua toko di Amerika telah menerapkan peraturan baru. “ Ketika masuk ke dalam toko, kami ingin Anda melihat sesuatu yang berbeda,” kata Andrew McLean, CCO American Eagle Outfitters pada Washington Post.
Beberapa toko mulai mengecek suhu badan pengunjung. Bahkan, membatasi jumlah pengunjung dengan membuat janji di setiap kunjungan.
Di toko kecantikan, tidak ada lagi layanan konsultasi maupun produk tester. Kamar mandi dan kamar ganti juga ditiadakan. Jadi, sudah siapkah kamu berbelanja di era new normal?
(Sumber: Times of India)
Dream - Pandemi Covid-19 membuat berbagai aktivitas masyarakat di luar rumah dikurangi untuk menghentikan penyebaran virus corona sekaligus mengurangi jumlah orang yang tertular.
Penyebaran virus tersebut juga memengaruhi banyak industri, termasuk fashion. Kondisi ini telah mengubah gaya berbelanja seseorang.
Kini, seseorang lebih memprioritaskan kebutuhan rumah tangga seperti bahan makanan sehari-hari dan alat mandi daripada pakaian atau aksesoris lucu.

Namun menurut pernyataan Walmart yang dilansir dari Miss Kyra, penjualan atasan dan blouse telah meningkat. Sedangkan platform fashion, Lyst menyatakan bahwa minat pasar pada lingerie dan pakaian kasual telah meningkat.
Peningkatan tersebut diperkirakan disebabkan oleh physical distancing. Kemungkinan, banyak orang tetap ingin terlihat formal selama bekerja di rumah cukup dengan memakai atasan saja.
“ Kami telah mencari tahu seputar gaya bekerja di rumah selama lockdown. Data kami membuktikan bahwa di negara seperti US, terdapat orang yang berbelanja pakaian sporty dan seksi. Minggu lalu, pembeli mencari pakaian olahraga dan baju tidur,” ungkap Katy Lubin, Vice President of Communication Lyst.
Banyak brand fashion yang tidak melayani pengiriman semasa lockdown dan meminta pembelinya memasukkan barang ke wishlist agar stoknya bisa dipersiapkan terlebih dulu.
Sedangkan brand seperti KK shape wear, Armani dan Gucci telah mengadakan donasi untuk membantu mengatasi pandemi Covid-19.
(Sumber: Miss Kyra)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya