H&M Terancam Tutup 170 Toko, Termasuk di Indonesia?

Reporter : Annisa Mutiara Asharini
Selasa, 7 Juli 2020 09:12
H&M Terancam Tutup 170 Toko, Termasuk di Indonesia?
Penjualan akan beralih ke arah digital.

Dream - Pandemi Covid-19 berdampak besar pada perekonomian global. Tak terkecuali di bidang industri mode. Tak hanya desainer, perusahaan raksasa seperti H&M Group juga mengalami kerugian.

Dilansir dari World of Buzz, H&M akan menutup 170 toko yang tersebar di seluruh dunia. Keputusan ini dibuat usai saham H&M terus tergerus 50 persen atau senilai Rp4,7 triliun di sepajang kuartal II-2020. 

Untuk mengatasi persoalan keuangan tersebut, perusahaan akan mengalihkan penjualan ke toko online.

Pandemi corona tak diragukan lagi telah membuat angka pengunjung toko merosot tajam.

" Kami melihat pandemi telah menyebabkan perubahan drastis pada perilaku customer. Pandemi mempercepat arus digitalisasi industri kita," tutur Helena Helmersson, CEO H&M Group.

Ia mengatakan, sebagian pembeli H&M kini adalah pelanggan multichannel. Jajaran direksi H&M akan berfokus pada tata cara yang lebih fleksibel dan efektif di era new normal.

Sementara itu di Malaysia, penjualan online H&M justru ditunda dalam batas waktu yang belum ditentukan. Belum ada rencana penutupan toko offline di Negeri Jiran hingga saat ini.

Tak hanya H&M, sejumlah brand raksasa lainnya juga mengalami imbas buruk dari pandemi Covid-19. Sebelumnya Esprit dan Zara juga telah melakukan penutupan sejumlah toko offline. Zara menutup 1.200 toko mereka dan beralih ke penjualan digital.

Sumber: World of Buzz

1 dari 4 halaman

Beda Pengalaman Belanja di Toko Saat Pandemi

Dream - Pandemi Covid-19 berhasil mengubah banyak hal secara global. Salah satu perubahan yang paling terlihat adalah cara berbelanja.

Jika biasanya berbelanja cukup dengan datang ke toko, mencoba barang dan membelinya, kini kita harus memakai masker, mengecek suhu tubuh serta membeli sesuatu secara daring.

Sebenarnya, perubahan tersebut membuat cara berbelanja menjadi lebih praktis dan aman. Namun, perubahan tersebut membuat keberadaan virus Covid-19 kian terasa.

Dilansir dari Times of India, seorang pembeli 23 tahun, Tiara Show menyampaikan pengalaman berbelanjanya di toko American Eagle Outfitters.

 Saat ingin memasuki toko, ia diwajibkan untuk memakai masker dan penataan barang pun diatur ulang agar pembeli tidak harus menyentuhnya.

 Memakai Masker© Shutterstock.com

Kamar ganti pun ditutup. Saat membayar barang yang dibeli, ia berdiri di depan kaca pembatas dan merobek struknya sendiri. Rak di depan toko yang biasa diisi dengan pakaian, kini menyediakan hand sanitizer, masker sekali pakaian dan pembersih sepatu.

Semua toko di Amerika telah menerapkan peraturan baru. “ Ketika masuk ke dalam toko, kami ingin Anda melihat sesuatu yang berbeda,” kata  Andrew McLean, CCO American Eagle Outfitters pada Washington Post.

Beberapa toko mulai mengecek suhu badan pengunjung. Bahkan, membatasi jumlah pengunjung dengan membuat janji di setiap kunjungan.

Di toko kecantikan, tidak ada lagi layanan konsultasi maupun produk tester. Kamar mandi dan kamar ganti juga ditiadakan. Jadi, sudah siapkah kamu berbelanja di era new normal?

(Sumber: Times of India)

 

2 dari 4 halaman

Dua Jenis Pakaian Paling Banyak Dicari Selama Pandemi Covid-19

Dream - Pandemi Covid-19 membuat berbagai aktivitas masyarakat di luar rumah dikurangi untuk menghentikan penyebaran virus corona sekaligus mengurangi jumlah orang yang tertular. 

Penyebaran virus tersebut juga memengaruhi banyak industri, termasuk fashion. Kondisi ini telah mengubah gaya berbelanja seseorang.

Kini, seseorang lebih memprioritaskan kebutuhan rumah tangga seperti bahan makanan sehari-hari dan alat mandi daripada pakaian atau aksesoris lucu.

3 dari 4 halaman

Ini yang paling banyak dicari

 Lingerie© Shutterstock.com

Namun menurut pernyataan Walmart yang dilansir dari Miss Kyra, penjualan atasan dan blouse telah meningkat. Sedangkan platform fashion, Lyst menyatakan bahwa minat pasar pada lingerie dan pakaian kasual telah meningkat.

Peningkatan tersebut diperkirakan disebabkan oleh physical distancing. Kemungkinan, banyak orang tetap ingin terlihat formal selama bekerja di rumah cukup dengan memakai atasan saja.

4 dari 4 halaman

Pakaian sporty dan baju tidur

“ Kami telah mencari tahu seputar gaya bekerja di rumah selama lockdown. Data kami membuktikan bahwa di negara seperti US, terdapat orang yang berbelanja pakaian sporty dan seksi. Minggu lalu, pembeli mencari pakaian olahraga dan baju tidur,” ungkap Katy Lubin, Vice President of Communication Lyst.

Banyak brand fashion yang tidak melayani pengiriman semasa lockdown dan meminta pembelinya memasukkan barang ke wishlist agar stoknya bisa dipersiapkan terlebih dulu.

Sedangkan brand seperti KK shape wear, Armani dan Gucci telah mengadakan donasi untuk membantu mengatasi pandemi Covid-19.

(Sumber: Miss Kyra)

Beri Komentar