Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Mengalami Pelecehan Seksual. (Source: Shutterstock)
Dream - Seiring dengan bertambahnya pasien Covid-19, ternyata kasus pelecehan seksual terhadap perempuan juga meningkat. Apalagi, kekerasan di ruang publik seringkali dinormalisasi.
Berdasarkan sebuah penelitian, sebanyak 82 persen orang Indonesia pernah mengalami pelecehan seksual di ruang publik. Hal tersebut termasuk pandangan kurang pantas dan cat calling.
Pelecehan seksual semakin jadi dengan banyaknya orang yang tidak melakukan apapun ketika melihat kejadian tersebut.
"Sebanyak 51 persen orang tidak melakukan apa-apa ketika melihat pelecehan seksual. Menurut 91 persen responden, hal ini disebabkan tidak adanya pelatihan yang cukup untuk melawan pelecehan seksual di tempat umum," ungkap Maria Adina, Brand General Manager L'oreal Paris dalam konferensi pers Stand Up Melawan Pelecehan di Publik, Senin 8 Maret 2021.
Di saat yang sama, sebanyak 72 persen responden beranggapan bahwa kondisinya akan lebih baik jika intervensi dari orang lain.
Adanya intervensi dari pihak ketiga ketika terdapat pelecehan seksual juga diakui Co-Director Hollaback Jakarta, Anindya Restuviani, dapat menjadi solusi terhadap situasi tersebut.
"Itu lebih baik daripada memikirkan apa yang harus dan tidak seharusnya dilakukan oleh korban yang pada akhirnya akan menyalahkan korban. Sedangkan, kita sendiri punya kekuatan untuk memperbaiki situasi tersebut," kata perempuan yang akrab disapa Vivi itu.
Sebagai pihak ketiga, seseorang tidak perlu melakukan kekerasan apapun atau membawa benda tajam. Berikut 5 hal yang bisa dilakukan untuk mengintervensi kejadian pelecehan seksual.
Dialihkan: "Cari cara untuk mendistraksi pelaku dan korban untuk mengintervensi keadaan. Misalnya, kamu bapak-bapak tanya jalan ke orang yang sedang diikuti supaya nggak diikuti lagi," tuturnya.
Dilaporkan: Hal ini seringkali menjadi solusi yang ingin dilakukan seseorang. Namun, biasanya orang berpikir bahwa pelaporan hanya bisa dilakukan pada pihak otoritas.
Padahal, hal ini bisa dilakukan pada orang asing. "Misalnya, ada perempuan yang didekati pelaku di kereta. Coba tanya ke orang sekitarmu, 'bener nggak sih, dia dilecehkan?'".
Didokumentasikan: "Cara ini agak tricky dan frontal, ya. Yang pasti, kita harus dapat persetujuan dari korban. Jadi, hasil dokumentasinya dikembalikan pada korban. Biar dia yang menentukan apa yang harus dilakukan," ujarnya.
Jangan sembarangan mengunggah hasil dokumentasi pelecehan seksual dan kamu pun harus berhati-hati dengan hal tersebut. "Takutnya, malah jadi victim blaming di media sosial".
Ditegur: Jika cukup berani dan percaya diri dengan keamanan korban maupun diri sendiri, kamu bisa menegur pelakunya. Lakukanlah dengan cara cepat dan tegas agar tidak terjadi eskalasi.
Ditenangkan: Saksi pelecehan seksual seringkali fokus pada pelaku sampai lupa rasanya jadi korban. "Coba tenangkan korban dan tanyakan apakah dia baik-baik saja. Tanyakan juga apa yang bisa kita lakukan? Perlu ditemani atau tidak," tutup Vivi.
Advertisement

Mengapa Ada Pusar Bodong dan Pusar Masuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Deforestasi Amazon Brasil Turun ke Level Terendah, Ini 5 Pelajaran yang Bisa Ditiru Indonesia

Cuma 10 Menit Olahraga Sehari Bisa Bikin Tidur Lebih Nyenyak, Ini Temuan Peneliti

Sering Tersengat Listrik Saat Memegang Gagang Pintu? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya


Kenapa Ada Orang Suka Sayur Pahit, tetapi Ada yang Tak Tahan Bau Ketumbar? Ini Penjelasan Sains

Sering Tersengat Listrik Saat Memegang Gagang Pintu? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya