Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Awan Mammulus (World Of Buzz)
Dream - Fakta kita jarang melirik awan memang benar adanya. Kecuali ketika awan menuntut perhatian kita untuk melihat ke arah mereka.
Baru-baru ini seorang netizen Twitter dengan akun Omed (OmedMuhammad666) mengunggah foto penampakan awan yang sangat langka muncul di Irak.
Secara detail Omed menjelaskan bentuk awan seperti gumpalan kapas yang bermunculan dalam jumlah banyak di langit sore Kota Kurdis, Irak.

Melansir dari World of Buzz, awan yang bergerombol dan berbentuk seperti kapas itu disebut Mammatus clouds. Awan jenis ini tergolong sebagai awan langka yang jarang terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Bahkan menurut penelitian, kemunculan aawan ini hanya berlangsung dalam waktu singkat sekitar 10-15 menit.
Menurut pengamatan ilmuwan, awan ini merupakan hasil perkembangan dari awan cumulonimbus, meski dapat juga ditemukan dalam lapisan altostratus ataupun cirrus.
Adapun kemunculan awan ini dipercayai oleh para ilmuwan sebagai tanda akan munculnya badai atau cuaca yang buruk.
" Hari ini di Amedi," tulis Omed dalam unggahannya.
Sontak saja, berselang dua hari, unggahan foto awan langka itu telah disukai lebih dari 6.400 Netizen dan juga sudah dibagikan kembali sebanyak 26 ribu kali.
Sementara itu, netizen Twitter secara otomatis langsung menanggapi fenomena langka kemunculan awan Mammatus Clouds ini.
" Wow, Seandainya aku bisa menyentuh awan tersebut," tutur salah seorang netizen.
Sumber: World Of Buzz
Dream - Dalam literatur falakiyah klasik, komet disebut sebagai najm dhu dhu’aba atau kawkab dhu dhu’aba. Untuk memudahkan pengucapan, boleh disebut dhu’aib atau dhanab.
Meski sedikit berbeda tulisan dan pengucapannya, semua istilah itu memiliki arti yang sama. Yaitu bintang yang berambut atau bintang yang berekor.
Namun ada pendapat yang mengatakan, benda langit ini secara simbolik disebut najm tsaqib dan ini tertulis dalam Alquran, khususnya Surat ath–Thaariq ayat 3.
Dalam Surat ath–Thaariq ayat 1-2, Allah bersumpah dengan langit dan bintang yang datang di malam hari.
Kemudian di ayat 3, Allah menyebut bintang itu cahayanya sangat terang seakan-akan menembus kegelapan malam.
Bintang tersebut diinterpretasikan sebagai bintang yang bentuknya mirip mata tombak atau jarum, salah satu ciri khas penampakan komet.
Sayangnya, banyak yang mengaitkan benda langit seperti komet dengan malapetaka buruk yang bisa menghancurkan Bumi dan isinya.
Misalnya kabar baru-baru ini yang mengatakan akan ada benda langit menabrak Bumi pada malam Jumat, 15 Ramadhan 1441 Hijriyah. Seolah-olah kiamat bakal terjadi.
Namun kabar yang sempat viral itu ternyata hanya hoax sehingga warga Muslim dianjurkan tetap fokus pada ibadah di bulan Ramadhan.
Umat manusia sebenarnya sudah lama mengenal komet dalam sejarah peradabannya. Sayangnya, selama lebih dari 2.000 tahun terakhir, komet dan benda langit lainnya sering dikaitkan dengan malapetaka buruk.
Banyak ramalan-ramalan tentang penampakan komet dan meteor yang berpotensi menghancurkan Bumi dan seluruh isinya.
Tentang banyaknya ramalan-ramalan ini, pengurus Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU), Ma'rufin Sudibyo, mengungkapkan penyebabnya.
Menurut ahli falak NU ini, biang keladi terbentuknya pemahaman ini adalah filsuf Yunani, Aristoteles. Ajarannya kemudian terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Padahal, kata Ma'rufin, catatan-catatan pengamatan komet dalam literatur falak klasik tidak memiliki ramalan-ramalan tersebut.
" Catatan-catatan pengamatan komet dalam literatur falak klasik yang membentang selama 8,5 abad, tepatnya dari tahun 57 H hingga 915 H, tidak menunjukkan kecenderungan tersebut," kata Ma'rufin.
Seperti yang diungkapkan oleh Ma'rufin, kemunculan komet yang dikaitkan dengan bencana atau malapetaka berawal dari Aristoteles.
Aristoteles mengaitkan komet Kreutz yang dilihatnya pada tahun 372 Sebelum Masehi. Hanya beberapa hari kemudian terjadi gempa besar Achaea yang menghancurkan kota Helice dan Buris.
Sejak itu Aristoteles memandang kemunculan komet sebagai tanda akan datangnya sebuah bencana atau malapetaka. Pemahaman yang salah ini terus bertahan hingga kini.
Namun, sebagai orang yang beriman, sebaiknya kita menyerahkan segala urusan yang berkaitan dengan maut dan bencana kepada Allah SWT.
Hanya Allah SWT yang tahu kapan dan bagaimana manusia itu akan meninggal dunia. Allah SWT juga yang tahu kapan kiamat itu akan tiba.
Sumber: NU.or.id
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya