Geger Tulisan Minta Tolong di Kertas Najwa Shihab Saat Talkshow UU Cipta Kerja

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Sabtu, 10 Oktober 2020 16:45
Geger Tulisan Minta Tolong di Kertas Najwa Shihab Saat Talkshow UU Cipta Kerja
Warganet ramai membahas Najwa Shihab yang dikabarkan minta tolong di kertas. Akhirnya terungkap maksud dari tulisan itu.

Dream – Najwa Shihab kembali menjadi buah bibir di dunia maya. Kali ini, warganet dihebohkan dengan informassi adanya tulisan minta tolong di selembar kertas yang dipegang oleh Najwa. Kertas itu terlihat saat Najwa tengah membawakan talshow bertema UU Cipta Kerja. 

Informasi itu pertama kali beredar viral di media sosial dan platform TikTok. Salah satunya dibuat seorang warganet berakun @adeladwis1, Sabtu 10 Oktober 2020. Dalam video, terlihat wanita yang akrab dipanggil Nana, memegang selembar kertas.

Saat diperbesar, selembar kertas itu berisi coretan tangan yang berbunyi, “ Tolong saya. Tolong saya segera, please.”

Unggahanya langsung membuat netizen lain penasaran. Terlebih sosok Najwa jadi perhatian setelah melakukan wawancara dengan bangku kosong yang diibaratkan tengah diduduki Menteri Kesehatan.

“ Eh, serius, aku merinding banget karna cuma Mbak Najwa Shihab yang berani speak up dengan lantang. Please, kalo memang ini bener, aku butuh the power of Twitter buat bantu sebarin,” tulis warganet itu.

Dia tak mau kejadian orang-orang hilang seperti dulu kembali terulang. Dikatakan bahwa Najwa terlihat gugup.

“ Keliatan banget kayak gugup. Biasanya selalu bikin snapgram, sekarang nggak ada sama sekali. Benar atau tidaknya mari kita doakan semoga Mbak Nana sehat-sehat terus,” tulis @adeladwis1.

1 dari 8 halaman

Jawaban Najwa

Melihat unggahan ini, Najwa memberikan jawaban melalui akun Instagram Stories @najwashihab. Dia mengaku banyak mendapatkan pesan tentang kebenaran kabar itu.

“ Banyal banget yang kirim pesan soal Mata Najwa eps ‘Mereka-reka Cipta Kerja’ Rabu lalu. Debat substansi sampai komentar mic mati. Terima kasih banyak teman-teman yang sudah nonton. Dan ternyata, ada juga, ya, yang sempat ramai, soal kertas dan coret-coretan yang saya bawa saat LIVE malam itu. Saya dapat banyak banget DM, mention-an di Twitter juga di Tik Tok soal ini,” tulis Najwa.

Najwa Shihab tentang minta tolong (1)© Akun Instagram @najwashihab

(Foto: Instagram @najwashihab)

2 dari 8 halaman

Begini Kondisinya

Najwa mengungkapkan kondisinya. Dia mengaku baik-baik saja dan berterima kasih kepada warganet yang memperhatikannya.

“ Terima kasih banyak adek-adek. Alhamdulillah, I’m okay,” tulis dia.

 

3 dari 8 halaman

Terus Belajar

Najwa juga berharap warganet juga peduli dengan isu-isu yang penting. Dia mengajak warganet untuk terus belajar dan berani mengambil sikap.

“ I hope semua juga sehat-sehat dan terus peduli dengan isu-isu penting. Terus belajar, berdiskusi, dan berani ambil sikap,” kata dia. 

Najwa Shihab tentang minta tolong (2)© Akun Instagram @najwashihab

(Foto: Instagram @najwashihab)

4 dari 8 halaman

Di unggahan stories terbarnya, akhirnya Najwa menjelaskan tentang tulisan minta tolong yang terlihat di kertas tersebut. Menurut Najwa, tulisan itu bukan dia yang membuatnya. Malahan Najwa tak menyadari jika ada coretan tersebut di atas kertas.

" Saya malah nggak ngeh kalau ada coret2an di kertas itu sampai jadi rame di medsos," tulis Najwa yang memberikan emoticon tertawa gelisah.

Najwa sekali legai menjelaskan jika kalimat minta tolong itu bukan tulisannya. Dia mengatakan kertas yang dipakainya adalah kertas bekas yang dipakai untuk mencetak bahan-bahan draft RUU Cipta Kerja.

Najwa Shihab Kertas Minta Tolong© Instagram @najwashihab

(Foto: Instagram @najwashihab)

 

 

5 dari 8 halaman

Respons Najwa Shihab Tanggapi Aduan Wawancara Bangku Kosong Menkes Terawan

Dream - Najwa Shihab dilaporkan ke polisi setelah aksinya mewawancarai 'bangku kosong' yang seolah-olah diduduki Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto dalam program Mata Najwa.

Laporan tersebut disampaikan Ketua Umum Relawan Jokowi Bersatu, Silvia Devi Soembarto, yang  menilai aksi Najwa Shihab sebagai tindakan cyber bullying.

 

© MEN

 

Menjawab tuduhan dan pelaporkan yang dibuat Silvia, Najwa Shihab memberkan respons melalui akun instagram pribadinya @najwashihab, Selasa 6 Oktober 2020.

Dalam penjelasannya, Najwa mengaku belum mengetahui dasar pelaporan dan pasal yang dituduhkan kepada dirinya.

“ Saya baru mengetahui soal pelaporan ini dari teman-teman media. Saya belum tahu persis apa dasar pelaporan termasuk pasal yang dituduhkan,” tulis Najwa.

 

 

6 dari 8 halaman

Pelaporan Ditolak

Dari informasi yang didengarnya, lanjut Najwa, polisi telah menolak laporan Silvia. Polisi menyarankan agar Silvia untuk melaporkan kasus itu ke Dewan Pers karena Najwa Shihab berprofesi sebagai jurnalis saat membuat video tersebut.

“ Saya dengar pihak Polda Metro Jaya menolak laporan tersebut dan meminta pelapor membawa persoalan tersebut ke Dewan Pers," ujarnya.

Jika dilaporkan ke Dewan Pers, Najwa memastikan akan datang memberikan keterangan jika diperlukan. " Tentu saya siap memberikan keterangan di institusi resmi yang mempunyai kewenangan untuk itu,” jelas Najwa.

Menurut Najwa, tayangan kursi kosong diniatkan mengundang pejabat publik guna menjelaskan kebijakan-kebijakan terkait dengan penanganan pandemi Covid-19. Penjelasan itu tidak harus di Mata Najwa, bisa di mana pun.

Sejak pendemi Covid-19 meningkat, sambungnya, Menteri Terawan jarang mendapat ekspose dari semua media. Karena itu, banyak pihak yang mempertanyakan kehadiran sosok mantan Kepala RSPAD Gatot Subroto itu dalam penanganan Covid-19.

 

 

7 dari 8 halaman

Mempertanyakan Keberadaan Menkes Terawan

Menurutnya, dari waktu ke waktu semakin banyak pihak yang mempertanyakan kehadiran dan proporsi Menteri Kesehatan dalam soal penanganan pandemi.

“ Faktor-faktor itulah yang mendorong saya membuat tayangan yang muncul di kanal Youtube dan media sosial Narasi. Media massa perlu menyediakan ruang untuk mendiskusikan dan mengawasi kebijakan-kebijakan publik. Pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan juga berasal dari publik, baik para ahli/lembaga yang sejak awal concern dengan penanganan pandemi maupun warga biasa,” terang Najwa.

Tayangan dalam Mata Najwa tersebut menurut najwa sebagai bentuk usaha memerankan fungsi media sesuai UU Pers yaitu mengembangkan pendapat umum dan melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum.

Najwa menambahkan, bahwa treatment kursi kosong ini belum pernah dilakukan di Indonesia, tetapi lazim di negara yang punya sejarah kemerdekaan pers cukup Panjang. Di Amerika sudah dilakukan bahkan sejak tahun 2012, di antaranya oleh Piers Morgan di CNN dan Lawrence O’Donnell di MSNBC’s dalam program Last Word.

Pada tahun 2019 lalu di Inggris, Andrew Neil, wartawan BBC, juga menghadirkan kursi kosong yang sedianya diisi Boris Johnson, calon Perdana Menteri Inggris, yang kerap menolak undangan BBC. Hal serupa juga dilakukan Kay Burley di Sky News Ketika Ketua Partai Konservatif James Cleverly tidak hadir dalam acara yang dipandunya.

8 dari 8 halaman

Berikut Unggahan Najwa Shihab

      View this post on Instagram    

Saya baru mengetahui soal pelaporan ini dari teman-teman media. Saya belum tahu persis apa dasar pelaporan termasuk pasal yang dituduhkan. Saya dengar pihak Polda Metro Jaya menolak laporan tersebut dan meminta pelapor membawa persoalan ini ke Dewan Pers. Jika memang ada keperluan pemeriksaan, tentu saya siap memberikan keterangan di institusi resmi yang mempunyai kewenangan untuk itu. Tayangan kursi kosong diniatkan mengundang pejabat publik menjelaskan kebijakan-kebijakannya terkait penanganan pandemi. Penjelasan itu tidak harus di Mata Najwa, bisa di mana pun. Namun, kemunculan Menteri Kesehatan memang minim dari pers sejak pandemi kian meningkat, bukan hanya di Mata Najwa saja. Dan dari waktu ke waktu, makin banyak pihak yang bertanya ihwal kehadiran dan proporsi Manteri Kesehatan dalam soal penanganan pandemi. Faktor-faktor itulah yang mendorong saya membuat tayangan yang muncul di kanal Youtube dan media sosial Narasi. Media massa perlu menyediakan ruang untuk mendiskusikan dan mengawasi kebijakan-kebijakan publik. Pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan juga berasal dari publik, baik para ahli/lembaga yang sejak awal concern dengan penanganan pandemi maupun warga biasa. Itu semua adalah usaha memerankan fungsi media sesuai UU Pers yaitu “ mengembangkan pendapat umum” dan “ melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum”. Sependek ingatan saya, treatment “ kursi kosong” ini belum pernah dilakukan di Indonesia, tapi lazim di negara yang punya sejarah kemerdekaan pers cukup panjang. Di Amerika sudah dilakukan bahkan sejak tahun 2012, di antaranya oleh Piers Morgan di CNN dan Lawrence O’Donnell di MSNBC’s dalam program Last Word. Pada 2019 lalu di Inggris, Andrew Neil, wartawan BBC, juga menghadirkan kursi kosong yang sedianya diisi Boris Johnson, calon Perdana Menteri Inggris, yang kerap menolak undangan BBC. Hal serupa juga dilakukan Kay Burley di Sky News ketika Ketua Partai Konservatif James Cleverly tidak hadir dalam acara yang dipandunya. #CatatanNajwa

A post shared by Najwa Shihab (@najwashihab) on 

 

Beri Komentar