Dinkes DKI Jakarta Ingatkan Hati-Hati Pakai Istilah Klaster Covid-19

Reporter : Ahmad Baiquni
Sabtu, 25 September 2021 06:01
Dinkes DKI Jakarta Ingatkan Hati-Hati Pakai Istilah Klaster Covid-19
Penetapan klaster Covid-19 butuh sejumlah kriteria.

Dream - Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengingatkan semua pihak agar berhati-hati menggunakan istilah klaster penyebaran Covid-19. Hal ini menyusul hasil survei Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi yang menyebut ada 1.303 sekolah menjadi klaster Covid-19, 25 di antaranya berada di Jakarta.

" Kita perlu berhati-hati dalam memakai istilah klaster," ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DKI Jakarta, Dwi Oktavia.

Dwi mengatakan definisi klaster ditetapkan jika terdapat minimal dua kasus. Kemudian secara epidemiologis terbukti penularannya terjadi di sekolah.

Adanya beberapa kasus di sekolah dalam satu waktu, lanjut Dwi, tidak lantas bisa memastikan  munculnya satu klaster atau tidak. Terebih mayoritas kasus yang ada saat ini berdiri sendiri, dan bukan menjadi klaster.

Dwi juga menegaskan temuan klaster sekolah yang sedang ramai jadi pemberitaan merupakan kasus sebelum dimulainya PTM terbatas. Data tersebut, kata dia, tidak sesuai dengan fakta.

" Tidak ada hubungan dengan PTM terbatas dan tidak sesuai dengan fakta yang ditemukan di lapangan," ungkap dia.

1 dari 6 halaman

Temuan Disdik DKI Jakarta Jauh Berbeda

Kepala Bagian Humas Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Taga Radja, mengatakan pihaknya telah melakukan penelusuran terkait 25 sekolah yang disebut Kemenristekdikti menjadi klaster Covid-19 selama Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas. Hasilnya, hanya ada satu sekolah yang menjadi klaster, letaknya di Jakarta Timur.

" Saya sampaikan ya, biar menjadi pemahaman bersama, satu SD Klender 03 itu siswa satu dan satu orang," kata Taga.

Menurut dia, hanya ada dua kasus Covid-19 yang ditemukan di SD Klender 03 selama PTM Terbatas. Dua kasus tersebut sudah dilakukan pelacakan kontak erat.

" Itu sudah ditracing, enggak ada lagi penyebarannya," kata dia.

Data tersebut merupakan hasil evaluasi 22 September 2021. Pihaknya menyatakan tidak mendapatkan temuan adanya 25 klaster sekolah seperti diungkapkan Kemendikbudristek.

" Jadi kalau yang 25 itu silakan konfirmasi ke Kemendikbud, jadi kita tidak pernah merilis hal itu," kata dia, dikutip dari Liputan6.com.

2 dari 6 halaman

Kemendikbud Jelaskan Temuan 1.303 Sekolah Jadi Klaster Covid-19

Dream - Survei internal Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, mencatat sebanyak 1.303 sekolah menjadi klaster penularan Covid-19. Seluruhnya terdiri dari berbagai satuan pendidikan mulai PAUD hingga SMK.

Direktur Sekolah Dasar Ditjen PAUD Dasmen Kemendikbudristek, Sri Wahyuningsih, mengatakan hasil survei tersebut merupakan akumulasi temuan sejak 2020. Data tersebut tidak dihimpun mulai Juli 2021.

" Terkait data klaster penularan Covid-19, data 1.303 sekolah merupakan data akumulasi dari tahun 2020," ujar Sri, dikutip dari Liputan6.com..

Kemendikbud segera berkoordinasi untuk memperbarui data tersebut disesuaikan dengan perkembangan terbaru PTM terbatas. Khususnya usai terjadinya lonjakan kasus Covid-19.

" Periode setelah adanya lonjakan kasus Covid-19 pada pertengahan Juni sampai Agustus, yang memaksa beberapa sekolah untuk tutup kembali," terang dia.

Sri menambahkan, pelaksanaan opsi PTM terbatas tetap mengacu pada SKB 4 menteri. Agar temuan ini tidak terulang, Kemendikbud memperketat monitoring PTM terbatas.

" Pengawasan harus dilakukan oleh semua pihak termasuk masyarakat agar pelaksanaan PTM terbatas dapat berjalan dengan aman," kata dia.

3 dari 6 halaman

6 Fakta Munculnya Klaster Covid-19 di Sekolah Saat Pelaksanaan PTM Terbatas

Dream - Dalam beberapa hari terakhir, kasus Covid-19 di Indonesia memperlihatkan tren penurunan yang signifikan. Beberapa daerah yang sudah dinyatakan berstatus PPKM Level 3 ke bawah bahkan sudah mulai menjalankan kebijakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.

Namun pelaksanaan sekolah tatap muka ini menimbulkan dampak munculny klaster baru di beberapa tempat pendidikan. Survei internal dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemenbudristek) menemukan 2,8 persen atau 1.000 lebih sekolah menjadi klaster penyebaran Covid-19.

Hasil tersebut berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 46.500 sekolah hingga 20 September 2021 kemarin.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut fakta-fakta seputar kemunculan klaster sekolah saat PTM terbatas:

4 dari 6 halaman

1. 1.296 Sekolah Jadi Klaster Baru Covid-19

Kemendikbudristek mencatat ada 2,8 persen satuan pendidikan penyelenggara pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas yang menjadi klaster Covid-19. Hasil itu berdasarkan survei yang dilakukan pihaknya terhadap 46.500 sekolah hingga 20 September 2021.

" Kasus penularan itu kira-kira 2,8 persen yang melaporkan," kata Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD Dasmen) Kemendikbudristek, Jumeri, dikutip dari Liputan6.comJumat 24 September 2021. 

Jumlah 2,8 persen itu sama dengan 1.296 sekolah yang menyatakan ada klaster Covid-19 pada pelaksanaan PTM terbatas yang telah dilakukan.

5 dari 6 halaman

2. Jumlah Kasus di Masing-Masing Jenjang Sekolah

Dalam penjelasannya, Jumari mengatakan jumlah klaster sekolah tersebut sudah mencakup PAUD, SD, SMA, SMK dan Sekolah Luar Biasa (SLB).

Untuk jenjang pendidikan SD, dari 20.913 sekolah yang menjadi responden, 2,78 persen di antaranya atau 581 sekolah menyatakan terdapat klaster Covid-19 pada pelaksanaan PTM terbatas. Jumlah PTK yang terpapar Covid-19 ada sebanyak 3.174 orang dan jumlah peserta didik yang terpapar Covid-19 ada sebanyak 6.908 orang.

Selanjutnya jenjang pendidikan SMP, dari 7.085 sekolah yang menjadi responden, 241 sekolah di antaranya menyatakan terdapat klaster Covid-19 pada kegiatan PTM terbatas atau 3,40 persen dari keseluruhan responden di jenjang pendidikan SMP. Untuk jumlah PTK dan peserta didik yang terpapar Covid-19 ada sebanyak 1.502 orang PTK dan 2.220 orang peserta didik.

Kemudian, jenjang pendidikan dengan persentase terbesar ditemukan klaster Covid-19 adalah SMA. Dari 2.358 SMA yang menjadi responden, 107 sekolah menyatakan ada klaster pada kegiatan PTM terbatas atau 4,54 persen dari keseluruhan responden di jenjang pendidikan SMA. Ada 794 PTK dan 1.915 peserta didik yang menjadi bagian dari klaster tersebut.

Lalu, di tingkat SMK, dari total 2.267 responden, 70 di antaranya atau 3,09 persennya menyatakan terdapat klaster Covid-19 di sekolah setelah kegiatan PTM terbatas. Ada 609 PTK dan 1.594 peserta didik yang terpapar Covid-19 pada jenjang pendidikan SMK ini.

Di tingkat PAUD, dari 12.994 sekolah yang menjadi responden, 1,94 persen di antaranya atau 252 sekolah menyatakan ada klaster Covid-19 pada kegiatan PTM terbatas yang telah dilaksanakan. Dari angka tersebut, ada 953 PTK dan 2.007 peserta didik yang berstatus positif Covid-19.

Berikutnya, untuk di SLB, dari 391 sekolah yang menjadi responden, ada 13 sekolah yang menyatakan terdapat klaster Covid-19 setelah PTM terbatas dilaksanakan. Dari klaster tersebut terdapat 131 PTK dan 112 peserta didik yang berstatus positif Covid-19.

6 dari 6 halaman

3. Lebih dari 15 Ribu Siswa dan 7 Ribu Guru Positif Covid-19

Dipaparkan Jumeri, terdapat 7.287 guru dan tenaga kependidikan terkonfirmasi Covid-19 selama menggelar PTM terbatas dengan 47.005 sekolah yang mengisi survei. Dari jumlah tersebut sebanyak 1.303 sekolah menjadi klaster Covid-19 atau setara 2,77 persen.

Adapun rincian klaster Covid-19 per jenjang sekolah adalah sebagai berikut:

- PAUD : 1,91 persen ditemukan klaster Covid-19 atau setara 251 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Jumlah guru dan siswa PAUD yang terkonfirmasi Covid-19 masing-masing sebanyak 956 guru dan 2.006 peserta didik.

- SD : 2,77 persen ditemukan klaster Covid-19 pada jenjang Sekolah Dasar (SD). Angka itu sebanyak 583 SD. Jumlah guru dan siswa SD yang terkonfirmasi Covid-19 selama PTM terbatas sebanyak 3.166 guru dan 6.928 siswa.

- SMP: 3,42 persen ditemukan klaster Covid-19 pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) saat gelaran PTM terbatas. Jumlah itu setara 244 SMP. Adapun guru dan siswa SMP yang terinfeksi Covid-19 selama PTM terbatas masing-masing sebanyak 1.482 untuk guru dan 2.201 untuk siswa.

- SMA: 4,55 persen Sekolah Menengah Atas (SMA) dilaporkan menjadi klaster penularan Covid-19 selama menggelar PTM terbatas. Angka ini setara 109 SMA. Terdapat 797 guru dan 1.934 siswa SMA yang terkonfirmasi positif Covid-19.

- SMK: 3,07 persen ditemukan klaster Covid-19 pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saat pelaksanaan PTM terbatas. Jumlah ini sebanyak 71 SMK. Sementara terdapat 605 guru dan 1.590 siswa SMK yang terkonfirmasi Covid-19.

- SLB: 3,27 persen jenjang Sekolah Luar Biasa (SLB) dilaporkan telah terjadi klaster Covid-19 selama PTM terbatas. Jumlahnya sebanyak 13 SLB. Terdapat 135 guru dan 112 siswa SLB yang terkonfirmasi Covid-19.

Beri Komentar