Ini Pesan Terakhir Penyelam Lion Air JT610 kepada Istri

Reporter : Ahmad Baiquni
Minggu, 4 November 2018 13:10
Ini Pesan Terakhir Penyelam Lion Air JT610 kepada Istri
Dalam pesan tersebut, Syahrul membahas mengenai takdir.

Dream - Syahrul Anto wafat saat menjalankan tugas penyelaman mencari bangkai pesawat Lion Air JT610 di Laut Karawang, pada Jumat kemarin, 2 November 2018. Sang istri, Lian Kurniawati, 39 tahun, mengaku pasrah dengan apa yang dialami Syahrul.

Lian mengingat sang suami pernah mengirimkan pesan singkat melalui aplikasi percakapan WhatsApp sebelum menyelam. Dia baru tersadar pesan itu ternyata jadi penanda sang suami pergi selama-lamanya.

" Sepertinya sudah firasat, tapi saya baru sadar sekarang," ujar Lian, dikutip dari Liputan6.com, Minggu 4 November 2018.

Dansatgas SAR, Kolonel Laut (P) Isswarto, menjelaskan Syahrul diduga meninggal akibat dekompresi. Menurut dia, Syahrul bekerja dengan tidak mengukur waktu.

" Harusnya naiknya pelan-pelan, lima meter berhenti dulu, sampai muncul (ke permukaan), dia mungkin langsung," ucap Isswarto.

Isswarto mengatakan penyelaman pada Jumat lalu seharusnya selesai pukul 16.00 WIB karena cuaca yang kurang bersahabat dan gelapnya kondisi di bawah air. Tetapi, Syahrul masih berada di bawah air hingga pukul 16.30 WIB.

" Korban dari sipil, penyelam Basarnas," ucap dia.

 

 

1 dari 3 halaman

Ini Pesannya

Dalam pesan itu, Syahrul berbicara mengenai takdir. Berikut isi pesan yang dimaksud.

" Pagi itu, satu demi satu penumpang mendekat ke pintu keberangkatan di Soekarno Hatta. Petugas check in menyambut mereka dengan senyum.

Sekitar 180 orang mendekati takdirnya. Ada yang tertinggal karena macet di jalan, ada yang pindah ke pesawat lebih awal karena ingin cepat sampai. Dan ada juga yang batal karena ada urusan lain yang tiba-tiba.

Tak ada yang tertukar. Allah menyeleksi dengan perhitungan yang tak pernah salah. Mereka ditakdirkan dalam suatu janjian berjamaah. Takdirnya seperti itu tanpa dibedakan usia, proses pembelian tiket, check in, terbang dan sampai akhir perjalanan hari ini, hanya sebuah proses untuk jalan pulang, menjumpai Allah yang tertulis di Lauhul Mahfuz.

Sebuah catatan yang tidak pernah kita lihat, tapi kita jumpai. Takdir sangatlah rapih tersusun, kehendak Allah tak terjangkau dengan akal manusia. Allahu Akbar.

Lalu, kapan giliran kita pergi? Hanya Allah yang tahu. Kesadaran iman kita berkata Bersiap setiap saat. Kapanpun dan dalam keadaan apapun. Mari kita benahi ketaqwaan kita untuk bekal pulang ke kampung abadi. Hanya itu jalan terbaik."

Sumber: Liputan6.com/Dian Kurniawan

2 dari 3 halaman

Detik-detik Mesin Pesawat Lion Air JT610 Ditemukan di Dasar Laut

Dream - Proses pencarian korban dan bangkai pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat terus dilakukan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), TNI Angkatan Laut (AL) dan tim gabungan lainnya.

Dalam pencarian hari Jumat, 2 November 2018, tim mendeteksi adanya badan, hidung, dan ekor pesawat. Meski demikian, baru roda pesawat yang bisa diangkat dari dasar laut.

Dansatgas SAR Lion Air JT610 Kolonel Laut (P) Isswarto mengatakan, tim penyelam berhasil menemukan turbin pesawat diduga milik Lion Air.

" Iya (turbin) baru ketemu, tapi pengangkatan belum karena masih berat, tinggal angkat ini," kata Isswarto.

Penemuan turbin itu direkam tim penyelam. Turbin tersebut nampak setengah terkubur lumpur.

Para petugas terlihat membawa tali dan berusaha mengikatkannya untuk diangkat ke atas permukaan laut. Tetapi, turbin itu belum bisa dilakukan karena turbin tersebut terlalu berat.

Isswarto menuturkan, saat ini tim gabungan belum menemukan bangkai pesawat dalam kondisi besar atau utuh.

" Cuma turbin sama satu roda saja yang termasuk besar," ujar dia.

3 dari 3 halaman

Tim SAR Melihat Benda Diduga Badan Pesawat Lion Air

Dream - Anggota Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) kembali membawa dua kantong jenazah berisi meterial forensik penumpang pesawat Lion Air PK-LQP. Dua kantong jenazah itu dibawa ke Dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT), Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Dua kantong jenazah itu dibawa menggunakan kapal Basarnas. Saat dua kantong jenazah itu diletakkan di Dermaga, tampak beberapa anggota Tim Disaster Victim (DVI) Polri langsung memeriksanya.

Setelah itu, dua kantong jenazah itu dimasukkan ke dalam mobil ambulans milik Palang Merah Indonesia (PMI) dan dibawa ke Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk diidentifikasi.

Di lokasi lain, Komandan Satuan Kapal Patroli Koarmada I TNI AL, Kolonel Laut (P) Salim, mengatakan, tim penyelam TNI AL sudah melihat adanya badan pesawat.

" Hari ini memasuki hari ke lima Satgas AL, SAR beserta gabungan lainya hari ini fokus pencarian pada kerangka ada potongan besar bodynose, mungkin ekornya," kata Salim di atas KRI Sikuda 863, Jumat 2 November 2018.

Beri Komentar