Kala Investigasi John Carreyrou Jungkalkan Elizabeth Holmes dan Theranos

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 24 Januari 2022 16:49
Kala Investigasi John Carreyrou Jungkalkan Elizabeth Holmes dan Theranos
Ia dua kali meraih penghargaan Pulitzer Prize.

Dream - Pertengahan Desember 2014, di dalam sebuah kereta bawah tanah, seorang pria tampak serius membaca artikel di majalah The New Yorker, sebuah majalah mingguan cukup berpengaruh. Pria itu membaca dengan penuh minat. Saat itu ia tengah berada dalam perjalanan pulang dari tempat kerjanya di tengah kota Manhatan ke tempat tinggal dia di Brooklyn, New York.

Pria itu adalah Jhon Carreyou, wartawan harian The Wall Street Journal. Di majalah itu, ia tertarik membaca profil Elizabeth Holmes, CEO Theranos di artikel berjudul: “ Blood, Simpler.” Ia tertarik karena saat itu Holmes masih berumur 30 tahun. Tapi sudah disebut majalah-majalah besar macam Fortune dan Forbes  sebagai miliarder wanita termuda dunia.

Nilai perusahaan rintisan atau startup Theranos menurut majalah itu senilai U$ 9 miliar atau Rp 128 triliun. Sebagai pemilik separuh saham Theranos, Elizabeth Holmes diperkirakan memiliki harta U$ 4,5 miliar atau Rp 64 triliun. Faktanya, yang menarik, Theranos, untuk waktu yang singkat, adalah perusahaan rintisan swasta paling berharga di Silicon Valley, Bahkan lebih berharga daripada Uber, Airbnb, atau Spotify.

Meski cerita profil itu menarik,  Carreyou langsung curiga karena seluruh keangkuhan di inti cerita itu. Disebut bahwa Holmes adalah seorang putus sekolah atau drop out dari Universitas Stanford. Holmes bermimpi  merevolusi sudut yang sangat teknis dari ilmu kedokteran, yaitu diagnosa darah yang diambil dari setetes kecil di ujung jari untuk melacak ratusan penyakit, mulai dari kanker sampai diabetes. “ Itu sepertinya tidak benar bagi saya,” kata Jhon Carreyou dalam wawancara eksklusifnya dengan The Verge.

John Carreyrou adalah jurnalis keturunan Prancis-Amerika. John Carreyrou lahir dari ayah seorang jurnalis Prancis Gérard Carreyrou dan seorang ibu Amerika. Ia dibesarkan di Paris. Carreyrou lulus dari Duke University pada tahun 1994 dengan gelar B.A. dalam ilmu politik dan pemerintahan.

Setelah lulus, ia bergabung dengan Dow Jones Newswires. Pada tahun 1999, ia bergabung dengan The Wall Street Journal Europe di Brussel. Pada tahun 2001, ia pindah ke Paris untuk meliput bisnis Prancis dan topik lain seperti terorisme. Pada tahun 2003, ia diangkat sebagai wakil kepala biro untuk Eropa Selatan. Dia meliput politik dan bisnis di Prancis, Spanyol, dan Portugal.

Pada tahun 2008, ia menjadi wakil kepala biro dan kemudian kepala biro dari biro kesehatan dan sains harian The Wall Street Journal di New York. Selama bekerja sebagai jurnalis, dia sudah mendapat dua kali penghargaan Pulizer Prize, penghargaan tertinggi bagi jurnalis Amerika.

Pada saat itu dia telah meliput masalah obat-obatan dan industri farmasi selama lebih dari 10 tahun. Melakukan banyak laporan investigasi tentang perawatan kesehatan dan obat-obatan,  Carreyrou jadi tahu persis bahwa sains itu sulit dan butuh waktu lama. Dan itu tidak seperti pengkodean komputer ketika orang-orang seperti Mark Zuckerberg dan Bill Gates belajar cara membuat kode komputer ketika mereka duduk di sekolah menengah, di ruang bawah tanah orang tua mereka.

“ Obat tidak seperti itu, Anda tidak bisa belajar sendiri obat di ruang bawah tanah orang tua Anda. Jadi saya curiga tentang itu. Tetapi  jujur, ketika saya turun dari kereta bawah tanah dan sampai di rumah, saya melupakan cerita itu,” ujarnya.

Namun, beberapa minggu kemudian dia mendapat petunjuk dari seorang ahli patologi di Midwest, yang telah membaca cerita Elizabeth Holmes di majalah yang sama. Ahli itu bahkan lebih curiga karena dia tahu banyak tentang tes darah.

Si ahli patologi itu tidak percaya gagasan bahwa Holmes telah menciptakan penemuan hebat ini yang dapat melakukan semua tes ini dengan setetes darah dari ujung jari. Apalagi  melakukan tes darah untuk mengetahui ratusan jenis penyakit dari sampel darah yang hanya sedikit yang didapat dari ujung jari. Karena sampel darah yang sedikit akan segera habis untuk menguji ratusan penyakit seperti yang diklaim Holmes.

Maka,  Carreyou pun mulai menggali dari sana. Itulah awal dari semuanya. Semakin dalam dia menggali, semakin dia mencium sebuah skandal besar.

Ia menemui mantan karyawan Theranos yang keluar karena tak tahan dengan penipuan yang dilakukan Theranos. Mantan karyawan itu adalah Erika Cheung dan Tyler Shultz. Mereka menjadi pembongkar rahasia perusahaan atau whistleblowers.

Para mantan karyawan itu bersaksi ke Carreyou dan memberikan salinan dokumen tentang penipuan yang dilakukan Theranos dan Elizabeth Holmes. Mereka menyebut Edison, alat yang digagas Holmes untuk melakukan tes darah untuk ratusan penyakit dari sampel darah sedikit yang diambil dari ujung jari, tidak berjalan.

Alih-alih menggunakan Edison, Theranos menggunakan mesin tes darah yang tersedia di pasaran yang dibuat oleh Siemens AG. Dan untuk itu, darah yang diambil bukan sedikit dari ujung jari, tetapi lebih banyak dan  diambil dari urat vena di lengan.

Maka, pada 16 Oktober 2015, terbit tulisan John Carreyrou di halaman satu koran The Wall Street Journal berjudul “ ”Hot Startup Theranos Has Struggled With Its Blood-Test Technology.”

Di berita itu disebutkan Theranos dibangun di sekitar fobia jarum yang dialami Holmes. Holmes kerap mengaku dalam berbagai penampilan publik bahwa dia terobsesi menciptakan mesin yang bisa mendeteksi banyak penyakit dari sampel darah sedikit yang diambil dari ujung jari pasien. Dia menghindari jarum suntik besar yang digunakan oleh laboratorium tradisional karena akan membuat pasien enggan untuk melakukan tes darah. Menurut Holmes, penemuan itu akan mengarah pada diagnosis penyakit lebih awal dan bisa menyelamatkan nyawa.

Theranos tertarik menciptakan alat tes darah karena selama ini tes darah dikuasai dua perusahaan besar, yakni Quest Diagnostics Inc. dan Laboratory Corp. of America Holdings. Kedua perusahaan laboratrium itu mendominasi industri tes darah di Amerika Serikat senilai U$ 75 miliar atau Rp 1.084 triliun per tahun.

Di situs web Theranos Inc., pendiri perusahaan Elizabeth Holmes mengacungkan botol kecil, sebesar 1 inci, untuk menunjukkan bagaimana “ kemajuan terobosan Theranos telah memungkinkan untuk memproses berbagai tes laboratorium dengan cepat dari beberapa tetes darah.”

Perusahaan Theranos menawarkan lebih dari 240 tes, mulai dari kolesterol hingga kanker prostat. Ia mengklaim teknologinya dapat bekerja hanya dengan tusukan jari. Pada saat itu investor telah menggelontorkan lebih dari U$ 400 juta atau Rp 5,7 triliun ke Theranos. Valuasi perusahaan Theranos saat itu senilai U$ 9 miliar atau Rp 128 triliun dan saham mayoritasnya lebih dari setengahnya dimiliki Holmes. Saat itu Holmes masih berusia 31 tahun dan selalu menggunakan baju turtleneck hitam  seperti yang biasa digunakan salah satu pendiri Apple Inc., Steve Jobs.

Dalam tulisan itu, menurut Phyllis Gardner, seorang profesor sekolah kedokteran Universitas Stanford yang sempat didatangi Elizabath Holmes untuk berkonsultasi di awal karirnya, teknologi itu tidak mungkin dilakukan. “ Dia masih muda dengan hanya pelatihan teknik dasar dan tidak memiliki pelatihan medis,” kata Dr. Gardner.

Dr  Phyllis Gardner MD© Twitter

(Dr Phyllis Gardner, MD (Twitter))


Pada tahun 2005, Holmes mempekerjakan Ian Gibbons, seorang ahli biokimia Inggris yang telah meneliti sistem untuk menangani dan memproses sejumlah kecil cairan.

Pada Mei 2013, Dr. Gibbons bunuh diri. Karena kemajuan mesin Edison yang digunakan untuk mendeteksi penyakit dari sedikit darah telah gagal “ Dr. Gibbons memberi tahu saya bahwa tidak ada yang berhasil,” kata jandanya, Rochelle.

Setelah janda Dr. Gibbons berbicara dengan reporter Journal, seorang pengacara yang mewakili Theranos mengiriminya surat yang mengancam akan menuntutnya jika dia terus membuat " pernyataan palsu" tentang Holmes dan mengungkapkan informasi rahasia.

Theranos memang tak segan mengintimidasi narasumber Journal. Theranos juga mengitimidasi narasumber yang mengeluhkan hasil Theranos berbeda jauh dengan tes darah di laboratrium lain.  Setelah orang-orang itu berbicara kepada Journal, Theranos mengunjungi beberapa dari mereka dan meminta mereka untuk menandatangani pernyataan yang telah disiapkan yang menyatakan bahwa Journal salah mengartikan komentar mereka. Dua setuju dan satu menolak.

Tak hanya itu taktik Holmes mengintimdasi narasumber. Ia sendiri selama lima bulan menolak diwawancara The Wall Street Journal untuk tulisan ini.

Bahkan, dia sempat mengirim email ke Rupert Murdoch dari News Corp yang merupakan salah satu pemilik The Wall Street Journal untuk menghentikan pemberitaan itu.  Apalagi Rupert Murdoch ikut menanam modal di Theranos sebesar U$ 125 juta atau Rp 1,7 triliun. Tapi Murdoch menolak. Dan cerita itu tetap terbit.

Menurut CNBC edisi 30 November 2021, pada hari pertama persidangannya saat menghadapi pertanyaan dari jaksa penuntut, Elizabeth Holmes mengakui bahwa dia mencoba membuat Rupert Murdoch dari News Corp. untuk membunuh cerita John Carreyrou yang sedang dipersiapkan untuk diterbitkan The Wall Street Journal tentang perusahaannya di tahun 2015.

" Anda secara pribadi pergi ke pemilik The Wall Street Journal untuk mencoba menghentikan cerita itu?," tanya Jaksa Robert Leach ke Holmes.

" Ya," jawab Holmes.

Artikel dari John Carreyrou akhirnya diterbitkan pada 16 Oktober 2015.  Dan artikel itu membuka pintu investigasi yang akhirnya menyebabkan tutupnya Theranos pada 2018 dan dakwaan Holmes atas tuduhan penipuan kriminal.

Sebagai investor Theranos, Holmes mengaku memiliki jalur langsung ke Rupert Murdoch. Jaksa Leach lalu menunjukkan kepada juri sebuah email yang dikirim Holmes ke taipan media itu pada bulan September 2015. Di dalamnya, Holmes merujuk Gerard Baker, yang saat itu menjadi pemimpin redaksi Journal.

" Seperti yang saya pikirkan tentang ini, saya pikir jika saya berada di posisi Anda. Saya ingin tahu kita berada di lingkaran yang sama," tulis Holmes. “ Kami sangat berharap Gerard akan bertemu dengan tim kami.”

Holmes mengatakan kepada juri, " Itu adalah bagian dari upaya saya untuk membuat Tuan Murdoch memastikan rahasia dagang kami tidak dipublikasikan."

Holmes mengakui dia " sangat khawatir" tentang cerita The Wall Street Journal.

Di mimbar, Holmes juga ditanya tentang ancamannya terhadap mantan karyawan Threanos yaitu Tyler Shultz dan Erika Cheung, yang menjadi pelapor. Cheung bersaksi sebagai saksi jaksa bahwa dia diikuti oleh penyelidik swasta dan diancam dengan gugatan hukum setelah keluar dari Theranos.

Holmes mengakui bahwa dia menyewa Boies Schiller Flexner, firma hukum David Boies, setelah dia mengetahui bahwa Cheung sedang berbicara dengan Carreyrou. Holmes mengatakan dia berusaha mencegah Cheung mengungkapkan rahasia dagang perusahaan.

" Saya tidak berpikir dia benar tentang isu-isu spesifik yang dia angkat," kata Holmes.

" Anda tahu hari ini bahwa nona Cheung benar, bukankah itu adil?" tanya Jaksa Leach.

" Ya," kata Holmes. Ia juga memberi tahu juri bahwa cara dia menangani investigasi The Wall Street Journal adalah " bencana."

Pada akhirnya, cerita liputan investigasi John Carreyrou telah terbukti menumbangkan korporasi raksasa Theranos senilai Rp 128 triliun.

Jhon Carreyou lalu menerbitkan buku pada Mei 2018 untuk mendokumentasikan skandal Theranos dan Elizabeth Holmes dengan judul " Bad Blood: Secrets and Lies in a Silicon Valley Startup" . Buku itu menjadi buku terlaris internasional. Dan sekarang akan difilmkan.

Sayangnya, John Carreyrou kini tidak lagi bekerja di The Wall Street Journal. Dia mengundurkan diri tahun 2019 karena perusahaan tempat dia bekerja melarangnya menerima honor saat jadi pembicara. Meski itu jadi pembicara bukunya sendiri. Ironis.

Meski begitu, kisah ini menunjukkan liputan investigasi tak pernah mati. Bahkan berhasil menjungkalkan raksasa perusahaan rintisan atau startup Rp 128 triliun di tengah demam perusahaan rintisan. Karena, seperti kata pepatah, kebenaran yang terlalu indah, memang sudah selayaknya dipertanyakan. (eha)

Sumber: The Wall Street Journal, The Verge, CNBC
 

Beri Komentar