Kapolri Jenderal Tito Karnavian (merdeka.com)
Dream: Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan modus yang dipakai pelaku pengeboman di tiga gereja dan Mapolresta Surabaya, Jawa Timur tergolong fenomena baru di Indonesia.
Dalam aksinya kali ini, para pelaku teror turut menyertakan anak-anak yang masih berusia belasan tahun.
" Fenomena menggunakan anak-anak juga baru pertama kali di Indonesia, anak 9-12 tahun," ujar Tito dalam konferensi pers pada Senin 14 Mei 2018.
Menurut Tito, modus para pelaku teror di Indonesia sebetulnya meniru aksi serupa yang dilakukan anggota ISIS. Kelompok teroris ini kerap menggunakan anak sebagai pengebom di Suriah dan Irak.
Keyakinan Kapolri semakin menguat karena metode teror ini tercantum dalam manual yang disusun ISIS.
" Di ISIS sudah dilakukan menggunakan anak-anak," kata Tito.
Tito mengaku prihatin dengan metode aksi bom bunuh diri yang dilakukan para teroris di Surabaya. " Itu memprihatinkan bagi kita," kata dia
Kapolri kembali menegaskan aksi teror yang terjadi dua hari terakhir tidak ada sangkut pautnya dengan agama manapun. Bom Surabaya dan Sidoarjo dilakukan oleh jaringan kelompok teror yang terhubung dengan kelompok regional dan Timur Tengah.
" Kita akan bekerja lebih keras lagi menghadapi ini," kata Tito.(Sah)
Advertisement