Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Kasus beredarnya vaksin palsu menggegerkan masyarakat Indonesia. Praktik ini tidak terendus selama 13 tahun sejak pertama kali beredar pada 2003 lalu.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPOM Teuku Bahdar Johan Hamid menyatakan permintaan maaf lantaran vaksin palsu luput dari pengawasan. Meski begitu, dia tetap berkilah bahwa pengawasan yang dilakukan BPOM sudah maksimal.
" Kami bersalah, tapi kami telah melakukan apa yang sudah kami bisa. Kami mohon maaf atas apa yang terjadi," kata Bahdar di akhir konferensi pers yang digelar di kantor BPOM, Jakarta Pusat, Selasa, 28 Juni 2016.
Menurut dia, selama ini pengawasan yang dilakukan BPOM terkait obat dan vaksin sudah sesuai kewenangan. Sebab, BPOM selama ini hanya bisa mengawasi sarana resmi.
" Kami telah melakukan razia di sarana-sarana resmi," ucap dia.
Hanya saja, kata Bahdar, selama ini kewenangan untuk merazia lokasi non resmi menjadi kendala lantaran BPOM harus menggandeng aparat kepolisian. Terbatasnya kewenangan itu juga termasuk dalam pengawasan pada proses pengadaan.
" BPOM tidak ikut dan tidak dilibatkan pada pengadaan obat karena pengaturan yang dilakukan antara Kemenkes," kata dia.
BPOM, kata Bahdar, sebetulnya telah melakukan pengawasan berlapis. Distributor yang punya izin akan diawasi secara berkala.
Dia menduga, munculnya vaksin palsu ini memang karena adanya permintaan dari pihak klinik.
" Ada pelakunya, karena kemungkinan ada permintaan. Diduga juga pelaku tergiur karena motif uang dan bisa juga terkait jaringan teroris. Tapi, sementara ini Bareskrim menemukan motifnya (pemalsuan vaksin) karena uang," ujar dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya