Update Covid-19: Kasus Positif Baru Turun ke Angka 18.872

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 25 Juni 2021 18:07
Update Covid-19: Kasus Positif Baru Turun ke Angka 18.872
Penambahan kasus positif sangat tinggi sejak kemarin.

Dream - Penambahan kasus Covid-19 hari ini (Jumat, 25 Juni 2021) sedikit melegakan. Setelah kemarin sempat menembus di atas 20 ribuan, kasus baru kali ini sedikti bergerak turun meski masih dengan jumlah yang masih tinggi.

Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 per 25 Juni 2021 yang dilaporkan melalui akun Facebook mencatat kenaikan kasus harian terjadi sebanyak 18.872 kasus. Jumlah keseluruhan pasien positif Covid-19 di segala kondisi kini sebanyak 2.072.867 kasus.

Kasus aktif harian mengalami peningkatan sangat tinggi. Hari ini tercatat sebanyak 9.893 kasus aktif sehingga total pasien yang masih menjalani perawatan maupun isolasi sebanyak 181.435 kasus.

Data pasien sembuh harian tercatat sebanyak 8.557 kasus. Total pasien sembuh kini sebanyak 1.835.061 kasus.

Sedangkan pasien meninggal hari ini tercatat 422 kasus. Total kasus kematian akibat Covid-19 menjadi 56.371 kasus.

 

1 dari 4 halaman

Capaian Vaksinasi

Capaian vaksinasi saat ini sebanyak 40.349.049 jiwa. Angka ini didominasi penerima suntikan dosis vaksin pertama.

Hari ini tercatat sebanyak 552.594 jiwa menerima suntikan dosis pertama. Jumlah penerima dosis pertama vaksin secara keseluruhan mencapai 25.482.036 jiwa.

Sedangkan sebanyak 142.834 jiwa menerima suntikan dosis kedua hari ini. Dengan demikian, total penerima suntikan dosis kedua vaksin Covid-19 kini sudah sebanyak 12.912.623 jiwa.

2 dari 4 halaman

Covid-19 Melonjak, Pengajuan Uji Klinis Obat Herbal Lokal di BPOM Meningkat

Dream - Kembali meningkatnya kasus Covid-19 membuat masyarakat semakin menjaga stamina tubuhnya dengan mengonsumsi obat herbal. Kondisi ini diakui telah mendorong pemesanan Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) mengalami peningkatan tinggi.  

Arianti Anaya, Plt Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes menjelaskan, peningkatan kasus Covid-19 semakin menyadarkan masyarakat untuk mengonsumsi imunomodulator yang diproduksi dari tanaman-tanaman obat asli Indonesia.

" Kalau pandemi ini berkepanjangan, tentu akan lebih bagus mengonsumsi obat herbal yang bahan bakunya dari dalam negeri," ujar Arianti dalam webinar Dialog Nasional bertema Kiprah 17 Tahun Obat Modern Asli Indonesia Fitofarmaka, Kamis, 24 Juni 2021.

 

3 dari 4 halaman

Indonesia Banyak Tanaman Obat

herbal© dream

Menurut Arinati, Indonesia memiliki banyak tanaman obat yang bisa diolah dan dikonsumsi. Khasiatnya dari tanaman tersebut sudah bisa dibuktikan dan tak kalah dengan obat kimia.

" Di Indonesia banyak tanaman obat, ada jumlah 15671, ini merupakan resep-resep kesehatan yang digunakan untuk obat," katanya juga.

Banyaknya obat herbal di Indonesia menjadi salah satu cara meningkatkan ekonomi para petani. Karena bahan baku yang didapat bersal dari negara sendiri.

" Ini juga meningkatkan ekonomi kita, dari hulu hingga hilir mendorong petani-petani kita," ucap dia.

4 dari 4 halaman

Permintaan Obat Modern Lokal Meningkat

Salah satu obat herbal yang sudah bersertifikat BPOM adalah Stimuno buatan PT Dexa Medica. Produk kesehatan ini sudah menggunakan obat-obatan herbal yang diambil dari dalam negeri.

" Stimuno bekerja merangsang tubuh memproduksi lebih banyak antibodi dan mengaktifkan sistem kekebalan tubuh agar daya tahan tubuh bekerja optimal," kata Direktur Pengembangan Bisnis dan Saintifik Dexa Medica Raymond Tjandrawinata.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik Badan POM, Reri Indriani, menambahkan sejak pandemi Covid-19 menyebar di Indonesia tahun lalu, permintaan obat modern asli Indonesia (OMAI) fitofarmaka imunomodulator meningkat signifikan.

Hal tersebut didorong oleh keinginan masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya terhadap serangan penyakit.

" Ada peningkatan pengajuan berkas 35-40% untuk OMAI ini selama pandemi. Tugas Badan POM adalah mengawalnya mulai dari uji pra klinis, uji klinis dan memastikan semua proses produksinya memenuhi standar yang berlaku. Namun, kami kemudian membuat kebijakan relaksasi untuk mempercepat waktu perizinannya sehingga bisa cepat diproduksi dan dikonsumsi masyarakat," kata Reri.(Sah)

 

Beri Komentar