Soal Kabar Penghapusan Materi Perang di Buku Sejarah Islam, Ini Kata Kemenag

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Senin, 16 September 2019 15:02
Soal Kabar Penghapusan Materi Perang di Buku Sejarah Islam, Ini Kata Kemenag
Kemenag akan menonjolkan sejarah peradaban Islam.

Dream - Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Ahmad Umar, mengatakan, Kementerian Agama tidak akan menghilangkan materi perang dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA).

" Perang adalah bagian dari fakta sejarah umat Islam. Tidak benar kalau itu akan dihapus," ujar Ahmad dalam keterangan tertulisnya, Senin 16 September 2019.

Menurut Ahmad Umar, dalam melakukan review kurikulum, Kemenag melakukan beberapa kajian, seperti pendidikan sejarah Islam itu harus membentuk karakter yang dapat membekali muatan kognitif dan psikomotorik siswa.

" Review lebih untuk menonjolkan bagaimana setiap fakta sejarah itu menjadi tonggak pembangunan peradaban," kata dia.

 Buku Sejarah Kebudayaan Islam (Foto NU Online)

Buku Sejarah Kebudayaan Islam (Foto NU Online)

Selain itu, Kemenag juga harus memberikan fakta sejarah yang lengkap dalam rangka penguatan visi pendidikan. Dengan dasar itulah, materi perang dalam buku SKI tidak akan sepenuhnya dihapus.

" Kalau sebelumnya peperangannya yang dijadikan tonggak sejarah, ke depan, tonggak pendidikan sejarah kebudayaan Islam adalah lebih menitikberatkan pada pembangunan peradaban dan kebudayaan Islam," ucap dia.

Nantinya, buku SKI akan lebih menitikberatkan pada nilai-nilai kejayaan Islam dan cara Rasulullah SAW menyebarkan Islam dengan cara yang santun.

1 dari 5 halaman

Mulai Tahun Depan Buku Sejarah Islam Tak Memuat Materi Perang

Dream - Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama akan membuat buku sejarah kebudayaan Islam (SKI), tanpa memasukkan cerita peperangan yang dilakukan Rasullah SAW. Buku SKI tersebut rencananya akan mulai terbit tahun depan.

" Dilakukan untuk tahun yang akan datang. Sengaja dilakukan seperti itu agar Islam itu (dikenal) tidak hanya perang," ujar Direktur Kurikulum Sarana Prasarana Kesiswaan dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah, Ahmad Umar di kantornya, Jakarta, Jumay 13 September 2019.

Dalam buku SKI itu, nantinya akan berisi pengajaran mengenai kejayaan Islam yang disebarkan oleh Rasullah SAW hanya dalam kurun waktu 22 tahun saja.

" Kita angkat bukan sisi perangnya tapi perjuangan-perjuangan Rasulullah dan sirah nabaiyah, dalam membawa Islam yang damai, Islam yang menyejukkan, Islam yang tidak keras. Intinya itu," kata dia.

Ahmad menjelaskan, Kemenag membuat perlombaan dalam menyusun materi buku SKI tanpa materi perang itu. Nantinya, Kemenag akan melakukan uji publik terlebih dahulu sebelum disebar ke madrasah-madrasah.

" Ini baru kita proses dan ini melalui lomba, kita lombakan supaya kompetitif, harus guru agama, harus guru umum karena konten science dan guru yang nanti membimbing. Ini upaya kami untuk menumbuhkan generasi yang humanis toleran yang bisa peduli terhadap lingkungan," ucap dia.

Buku SKI tanpa materi perang itu nantinya akan diterapkan di semua level yakni Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).

2 dari 5 halaman

Melacak Jejak Sejarah Islam Uzbekistan di TMII

Dream - Negara sempalan Uni Soviet, Uzbekistan menyimpan daya tarik kesejarahan. Di negara ini, sejumlah ulama ahli bidang filsafat, kedokteran, dan matematika.

Kepala Bidang Bayt Al-Quran LPMQ Kementerian Agama (Kemenag) Nani Sutiati, Uzbekistan melahirkan ulama yang ahli di bidang ilmu pengetahuan, baik filsafat, kedokteran, maupun matematika. Nani menyebut sejumlah nama, antara lain, Ibnu Sina dan al-Khawarizmi.

Sementara dalam bidang tasawuf, Uzbekistan melahirkan al-Kalabazi, penulis kitab tasawuf terkenal. Negeri di kawasan Asia Tengah ini juga melahirkan banyak tarekat, yang paling terkenal adalah Tarekat an-Naqsyabandiyah.

“ Uzbekistan terkenal dengan kota-kota tuanya, di antaranya Samarkand, Tashkent, Tirmiz, Khiva dan lain-lain,” kata Nani, Rabu, 6 Februari 2019.

 Acara diskusi Uzbekistan-Indonesia

Di Nusantara, kata Nani, jejak ulama Uzbekistan juga terlihat pada masa islamisasi Nusantara, sekitar abad ke-14 Masehi. Di Jawa, tokoh islamisasi yang mahsyur berasal Samarkand, yaitu Syekh Asmorokondi (as-Samarqandi) yang dimakamkan di Tuban, Jawa Timur.

Beberapa berita menyebutkan, Syekh Asmorokondi merupakan sesepuh para wali di Jawa, ayah dari Sunan Ampel.

Selain itu, diceritakan Syekh Jumadil Kubro, yang disebutkan sebagai ayahnya Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak, juga berasal dari Uzbekistan.

Tetapi, hingga saat ini, tidak banyak ditemukan sumber-sumber sejarah tentang kedua tokoh tersebut kecuali dari bukti arkeologis berupa nisan makamnya yang saat ini sangat ramai diziarahi.

Untuk menggali jejak sejarah Islam di Uzbekistan itu, Kemenag dan Kementerian Pariwisata Uzbekistan rencananya akan menggelar pameran foto bertajuk Uzbekistan Negeri Para Imam di Bayt Alquran dan Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah, 7 hingga 17 Februari 2019. Nani mengatakan, pameran digelar dalam rangka memperingati satu tahun bebas visa WNI ke Uzbekistan.

“ Pameran dibuka Kamis, 7 Februari 2019 pukul 09.00 WIB oleh Duta Besar Uzbekistan, Dr Ulugbek Rozukulov, bersama Prof Dr ES Margianti SE, MM, Rektor Universitas Gunadarma, dan Prof Abd Rahman Mas’ud, Ph.D., Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI,” kata dia.

Nani mengatakan, pameran dan seminar yang baru pertama kali diselenggarakan di Indonesia ini diharapkan akan membuka wawasan masyarakat Indonesia tentang negeri di Asia Tengah dengan banyak peninggalan peradaban Islam.

[crosslink_1]

3 dari 5 halaman

Napak Tilas Sejarah Islam di Eropa Ditemani Dewi Sandra, Mau?

Dream - Tren produk halal di dunia semakin marak. Hal ini didukung dengan meningkatnya minat wanita terhadap kosmetik. Adanya sertifikasi halal membuat wanita semakin bebas berekspresi.

Berdasarkan survey Nielsen, penetrasi makeup di 2018 mencapai 56,4 persen dengan total belanja US$ 6,1 juta untuk produk kosmetik halal. Fenomena itu membuka kesempatan besar bagi produsen kosmetik halal, salah satunya Wardah Cosmetics.

Guna meningkatkan minat masyarakat terhadap kosmetik halal, Wardah kembali meluncurkan kampanye 'Halal dari Awal'. Kegiatan ini sekaligus mendorong perkembangan industri kecantikan dalam negeri.

"Sebagai pelopor kosmetik halal, kami ingin agar perempuan indonesia dapat merasakan ketenangan dan kenyamanan dalam memakai produk makeup baik ketika beraktivitas maupun beribadah," tutur Sabrina, Brand Manger Wardah Cosmetics di Jakarta, Selasa 22 Januari 2019.

Sebagai bagian dari kampanye, Wardah Cosmetics menghadirkan 'Europe Halal Trip'. Peserta berkesempatan menyusuri jejak sejarah Islam di Eropa. Tak sendiri, kamu bakal jalan-jalan bersama aktris cantik Dewi Sandra.

"Kami ajak perempuan Indonesia untuk menambah pengetahuan tentang Islam di Eropa, salah satunya Kota Alhambra di Spanyol yang lagi populer," ujarnya.

      View this post on Instagram

Ladies, Wardah Travel In Style Europe Halal Trip mengajakmu untuk menelusuri jejak Islam di Eropa bersama @dewisandra! Yuk, segera ikuti dan menangkan hadiahnya. Caranya sangat mudah : 1. Beli produk Wardah apa saja dan simpan struknya 2. Upload foto bersama produk Wardah di akun Instagrammu 3. Ceritakan alasanmu saat memulai menggunakan produk Wardah 4. Sertakan hashtag #SaatnyaMemulai #HalalDariAwal 5. Registrasi data diri kamu melalui www.wardahbeauty.com/tis. Info lebih lengkapnya klik link pada bio. #SaatnyaMemulai #HalalDariAwal

A post shared by Official Page Wardah Cosmetics (@wardahbeauty) on 

Sahabat Dream juga bisa ikutan, loh. Beli produk wardah dan unggah fotonya di Instagram. Jangan lupa tag @wardahbeauty lalu sertakan hashtag #SaatnyaMemulai dan #HalalDariAwal.

Semoga beruntung!

(ism)

4 dari 5 halaman

Buku Islam Laris di Perancis Usai Tragedi Charlie Hebdo

Dream - Tragedi penembakan ke kantor majalah satir Perancis, Charlie Hebdo, ternyata memicu tumbuhnya minat mempelajari Islam. Dalam beberapa bulan usai tragedi tersebut, buku-buku bertema Islam terjual laris, mirip dengan fenomena usai tragedi 11 September di Amerika Serikat.

Persatuan toko buku Perancis mencatat kenaikan penjualan buku-buku Islam. Dalam kuartal pertama tahun 2015, peningkatan angka penjualan buku-buku tersebut mencapai tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan ini juga dialami majalah filsafat 'Philosophie'. Ini lantaran majalah tersebut memiliki suplemen khusus yang membahas Alquran.

" Sekarang kenaikan penjualannya cenderung bertahan lebih lama karena Islam akan terus menimbulkan masalah geo-politik," ujar pemilik Penerbit Al Bouraq, Mansour, dikutip Dream.co.id dari dailymail.co.uk, Senin, 6 April 2015.

Al Bouraq merupakan penerbit yang fokus menerbitkan buku-buku Islam dan Timur Tengah. Penerbit ini mencatatkan peningkatan penjualan sebesar 30 persen usai tragedi Charlie Hebdo.

Meski demikian, Mansour mengingatkan orang-orang yang membaca Alquran tanpa 'ditemani' dan menarik kesimpulan sendiri tentang ayat-ayat suci tersebut. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari adanya kesalahan pemahaman dalam membaca ayat-ayat Alquran.

Saran ini menyusul munculnya kelompok militan ISIS yang telah mengklaim mewakili Islam. Padahal, pada praktiknya mereka begitu jauh dari ajaran Islam yang penuh damai.

 

5 dari 5 halaman

Peningkatan Penjualan Karena

Menurut penerbit Hebdo Livres, jumlah buku yang diterbitkan di Perancis tahun lalu dua kali lebih banyak yang didedikasikan untuk Islam daripada Kristen.

Pada pameran buku terbesar di Perancis pada bulan Maret lalu, buku yang paling laris adalah 'A Christian Reads The Koran' yang merupakan cetak ulang dari penerbit Le Cerf yang terbit pertama kali pada tahun 1984.

Peningkatan penjualan ini terjadi menyusul semakin banyaknya warga Perancis yang ingin memahami Islam. Selama ini, Islam selalu dipandang sebagai agama penyebar teror.

Pengetahuan ini diserap oleh sebagian warga Perancis tanpa merujuk pada sumber aslinya. Atas hal itu, mereka ingin mencari jawaban tentang asumsi tersebut dengan membacanya dari sumber utama ajaran Islam, Alquran.

" Seorang wanita Katolik datang untuk membeli salinan Alquran, karena dia ingin memahami sendiri apakah Islam adalah agama kekerasan atau bukan," kata Yvon Gilabert, pemilik kedai buku di Nantes.

Di samping itu, terdapat pula sebagian warga Perancis yang ingin mengetahui pelbagai interpretasi Islam terkait masalah sosial. Salah satunya mengenai ekstrimisme.

" Saya rasa kita perlu tahu bagaimana agama melihat ekstrimisme di masa lampau, agar kita dapat melihat sendiri tentang apa yang ditawarkan agama itu," ujar Patrice Besnard, pelanggan buku-buku agama di Paris.

Beri Komentar
Representasi Feminisme Versi Barli Asmara