Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora, Asrorun Ni'am Sholeh, Bersama Para Santri Se-Jawa Tengah (istimewa)
Dream - Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora, Asrorun Ni’am Sholeh, mengatakan pesantren memiliki sejarah panjang dalam aspek kemandirian ekonomi. Dia pun mendorong para santri agar semakin bersemangat untuk berwirausaha.
" Santri sejati harus mandiri secara ekonomi," ujar Ni'am dalam keterangan tertulis yang diterima Dream, Kamis 29 Juli 2018.
Ni'am mengingatkan mandiri secara ekonomi membuat seseorang terhormat. Dia mengungkapkan contoh nyata yaitu para kiai.
" Kemandirian ekonomi membuat seseorang terhormat, dan itu yang menyebabkan para kiai di daerah-daerah di Indonesia sangat dihormati,"
Pesan tersebut disampaikan Ni'am kepada para santri dari 24 pesantren se-Jawa Tengah. Dia mengingatkan tentang sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang awalnya dibentuk untuk menghimpun para saudagar.
" Sejarah kewirausahaan merupakan sejarah awal dari organisasi santri dan ulama. Muhammadiyah pun demikian, Kiai Ahmad Dahlan adalah pedagang batik yang memiliki komitmen ke-Islaman tinggi," kata Ni'am
" Karenanya, predikat santri harus punya komitmen kewirausahaan," ucap dia melanjutkan
Mantan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ini berujar santri dan pesantren berpotensi besar untuk mandiri secara ekonomi. Bahkan, kata dia, banyak pesantren di daerah yang justru menolak dana bantuan dari pemerintah.
" Karena khawatir adanya ketergantungan yang mempengaruhi independensi pesantren," kata dia.
Lebih lanjut, kata Ni'am, para santri harus bisa mengembangkan religipreneur sebagai metode wirausaha kaum santri yang dilandasi ilmu agama.
" Jiwa kewirausahaan yang dilandasi oleh norma dan nilai keagamaan akan melahirkan wirausaha yang tangguh tetapi tetap memiliki kepedulian sosial," ujar dia.
Kepedulian sosial tersebut termanifestasi dalam rukun Islam keempat, zakat. " Dalam kekayaan, ada zakat sebagai manifestasi tanggung jawab sosial," tegas Ni'am.
(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya