Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dream - Seorang gadis dipaksa orangtuanya untuk tes keperawanan oleh orangtuanya sendiri. Ini lantaran gadis tersebut ketahuan punya pacar rahasia.
Sophia Safaraei, 18 tahun, dipaksa untuk pergi ke dokter oleh orangtunya, Ali Safaraei, 56 tahun dan Mitra Eidiani, 42 tahun. Gadis itu sampai diancam ayahnya dengan pisau karena dituduh berzina.
Tetapi, sang dokter, Helen Lucas, menolak memeriksa Sophia. Meski didesak oleh Ali dan Mitra, Helen tetap tidak mau hingga berujung pengadilan.
Dalam persidangan, dokter Helen mengatakan Mitra membawa Sophia kepadanya untuk uji keperawanan. Helen menolaknya karena alasan usia.
"Sophia menyatakan tidak mau disentuh siapapun. Saya menjelaskan padanya tidak akan menyentuhnya tanpa seizinnya dan saya tidak akan memeriksa kecuali dia mau," kata Helen, dikutip dari Mirror, Jumat 21 Agustus 2018.
Helen kemudian mengatakan Mitra tidak senang dengan keputusannya. Wanita itu mengatakan Helen tidak mengerti budayanya, lalu memanggil suaminya yang menunggu di luar.
"Dia memberitahu saya suaminya sangat keras, tidak seperti dirinya yang liberal, dan akan memaksa saya melakukan tes keperawanan," kata Helen.
Beberapa saat kemudian, Ali masuk. Dia dan Mitra terus berusaha memaksa Helen untuk mengetes putri mereka.
"Saya tegaskan kembali posisi hukum. Saya tidak bisa memeriksa Sophia tanpa seizinnya dan mereka sebagai orangtua tidak memiliki otoritas atas gadis itu dan saya untuk menuntut dijalankannya pemeriksaan," tegas Helen.
Ali sempat mengancam akan melaporkan Helen ke polisi. Dia pun balik bertanya kepada Ali pidana apa yang sudah dia lakukan.
"Mitra terus memaksa agar Sophia diperiksa. Dia tidak memberikan kebebasan kepada Sophia atas dirinya sendiri," ucap Helen.
Dalam keadaan penuh tegang, kata Helen, Sophia menangis tersedu-sedu. Gadis itu meminta orangtua tenang untuk tenang beberapa saat.
Helen sempat terlibat perbincangan secara pribadi dengan Sophia tanpa kedua orangtuanya. Sophia pun menceritakan kepadanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Dia mengatakan orangtuanya telah mengambil ponselnya dan akan mengantar jemput dia ke sekolah, dan dia terpaksa berhenti bekerja paruh waktu, sehingga tidak punya kesempatan untuk bertemu kekasihnya," kata Helen.
Juri kemudian mendengar keterangan Sophia kepada polisi yang dibacakan di persidangan. Kepada polisi, Sophia mengaku berasal dari keluarga Muslim yang sangat ketat.
"Itu lebih kepada cara mereka dibesarkan daripada saya. Lebih banyak budaya daripada ajaran agama," demikian keterangan Sophia.
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran

Teori Lipstik: Mengapa Penjualan Lipstik Mewah Bisa Meningkat Saat Ekonomi Memburuk?

Suka Camilan Gurih Dan Renyah? Ini Pilihan Untuk Temani Aktivitas Sehari-hari