Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Malala Yousafzai, Aktivis Pejuang Hak Pendidikan Kaum Wanita Pakistan (onislam.net)
Dream - Aktivis Penerima Nobel Perdamaian tahun 2014, Malala Yousafzai, mendesak para pemimpin dunia untuk menghentikan penganiayaan terhadap minoritas muslim Rohingya di Myanmar. Dia menyatakan memihak muslim Rohingya dan meminta para pemimpin dunia melakukan hal yang sama.
" Saya menyerukan kepada pemimpin Myanmar dan dunia untuk mengambil tindakan sesegera mungkin untuk menghentikan penganiayaan terhadap minoritas muslim Rohingya," tulis Malala seperti dikutip Dream dari laman onislam.net, Rabu, 10 Juni 2015.
Di tahun 1982, muslim Rohingya dianggap imigran gelap dari Bangladesh oleh pemerintah Myanmar. Perlahan, kewarganegaraan mereka dihilangkan dan tidak diakui sebagai penduduk Myanmar. Puncaknya, pada tahun 2012 muslim Rohingya harus menghadapi tekanan dari pemerintah.
Menanggapi hal tersebut, Malala ingin hak kewarganegaraan muslim Rohingya dikembalikan. Hak muslim Rohingya harus dihargai.
" Muslim Rohingya pantas untuk mendapat kewarganegaraan di tempat mereka lahir. Dan mereka layak dihormati hak dan martabatnya sebagai warga negara," jelas Malala.
Selain menjadi penerima Hadiah Nobel Perdamaian, Malala juga menerima penghargaan Perdamaian Anak Internasional di tahun 2013 karena mempromosikan pendidikan. Dia sekarang tinggal dan bersekolah di Birmingham, Inggris.
Malala Yousafzai merupakan aktivis remaja yang memperjuangkan kesetaraan hak memperoleh pendidikan bagi gadis-gadis di Pakistan. Dia menjadi korban penembakan kelompok Taliban lantaran lantang menyuarakan hak tersebut.
Sebuah peluru sempat bersarang di kepalanya. Dia sempat mengalami kritis, namun akhirnya dapat diselamatkan.
Dalam beberapa minggu terakhir, sekitar 3.100 orang pengungsi Rohingya melarikan diri dari Myanmar. Mereka kini tersebar di Malaysia, Indonesia, dan Thailand.
Menurut perkiraan International Organization for Migration (IOM), sekitar 8.000 orang masih terapung-apung dalam kapal di Teluk Bengal dan Laut Andaman. Mereka terancam kehabisan makanan dan air minum.
Laporan: Maulana Kautsar
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya