Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengajak para ahli fikih dan falak untuk mengkaji hukum penggunaan teknologi untuk melihat hilal. Dengan kesepakatan itu diharapkan perdebatan soal penanggalan hijriah bisa diselesaikan.
" Melihat hilal adalah upaya melaksanakan prasyarat yang diperlukan untuk menentukan kapan kita mengawali dan mengakhiri bulan Ramadhan, Syawal, dan lain sebagainya. Penggunaan alat-alat teknologi itu dibenarkan atau tidak? Di sinilah para ahli ilmu falak dan ahli fikih dihadapkan pada persoalan mendasar," kata Lukman, di laman resmi Kemenag, Kamis, 10 Oktober 2019.
Pertanyaan itu dia lontarkan saat Pertemuan Pakar Falak Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura di Yogyakarta, Rabu, 9 Oktober 2019.
Dia melontarkan pertanyaan itu atas dasar analogi wukuf di Arafah saat haji. Dia mengatakan, penerapan teknologi dalam ilmu falak menjadi salah satu subtansi yang penting bagi ibadah umat Islam. Sebab, ilmu falak menjadi pondasi penentuan waktu sholat, puasa, Idul Fitri, dan Idul Adha.
" Sehingga kemaslahatan atau kebermanfaatan dari ilmu falak harus betul-betul mampu mengejawantah dalam rangka kita bisa menunaikan kewajiban keagamaan kita serta hubungan kita di antara masyarakat,” kata dia.
Lukman berharap, dalam pertemuan ini ada kesepakatan metode penentuan bulan Hijriyah.
“ Saya harap para pakar yang hadir dapat menemukan kesepakatan terkait penentuan awal bulan Hijriyah sehingga bisa dijadikan pedoman bersama demi terbangunnya kemaslahatan umat,” kata dia.
Dream - Pakar astronomi Maroko, Hicham Elaissaoui, memprediksi Maroko bakal melaksanakan puasa Ramadan 1440 H pada Selasa, 7 Mei 2019. Ini lantaran ketinggian hilal di Maroko tidak sama dengan negara-negara lainnya.
Dikutip dari Morocco World News, pada Maret lalu, lembaga sains Maroko, Moroccan Science Initiative juga membuat prediksi yang serupa. Prediksi itu menyebutkan negara-negara di kawasan Afrika Utara bakal merasakan Bulan Suci Ramadan pada 7 Mei.
Prediksi tersebut menyatakan Maroko dan Arab Saudi akan melaksanakan pemantauan hilal di dua hari yang berbeda. Saudi melaksanakan rukyatul hilal pada Sabtu sore, 4 Mei.
Sementara Maroko baru menggelar rukyatul hilal pada Minggu, 5 Mei atau sehari setelah Saudi. Sehingga Maroko dan Saudi bakal menyaksikan hilal pada hari yang berbeda.
Meski begitu, baik Maroko maupun Saudi sama-sama menetapkan awal Syaban jatuh pada Senin, 7 April 2019. Sebelum Menteri Agama Islam Maroko mengumumkan 1 Syaban jatuh, Elaissaoui membuat prediksi yang menyatakan tanggal tersebut jatuh di hari sama dengan pernyataan Menteri.
Kementerian Agama Indonesia baru melaksanakan sidang isbat 1 Ramadan 1440 H pada Minggu sore, 5 Mei 2019. Sementara ormas Islam Muhammadiyah menetapkan awal puasa jatuh pada Senin, 6 Mei 2019.
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memprediksi Ramadan tahun ini bakal dirayakan secara serentak di Indonesia.
Empat kriteria hisab yang dipakai di Indonesia menunjukkan hasil yang sama, tinggi hilal di atas 5 derajat pada Minggu sore, 5 Mei 2019.
Dream - Pejabat Penyimpan Mohor Besar Raja-Raja Malaysia menetapkan Minggu, 5 Mei 2019 sebagai waktu pemantauan hilal awal Ramadan 1440 H. Tanggal itu bertepatan dengan 29 Syaban.
Dikutip dari Siakapkeli, lembaga otoritas adat Malaysia itu menyatakan penetapan 1 Ramadan menggunakan metode rukyah dan hisab.
Metode hisab dipakai untuk memprediksi posisi hilal sementara rukyat digunakan untuk memastikan terlihat tidaknya hilal.
" Penyimpan Mohor Besar Raja-Raja akan menetapkan malam itu juga tanggal awal puasa melalui radio dan televisi," demikian pernyataan lembaga tersebut.
Sementara, pemantauan hilal dilaksanakan di 29 titik di seluruh Malaysia. Titik-titik pantauan tersebut tersebar mulai dari Johor, Melaka, Negeri Sembilan, Selangor, Perak, Pulau Pinang, Kedah, Terengganu, Kelantan, Sarawak, Sabah, Pahang, Kuala Lumpur, Labuan, Putrajaya, dan Perlis.
Kementerian Agama Indonesia akan menetapkan 1 Ramadan 1440 H dalam sidang isbat pada 5 Mei 2019. Penetapan diambil dalam sidang isbat tertutup dan keputusannya dibacakan secara terbuka melalui konferensi pers.
Dream - Kementerian Agama (Kemenag) mengundang ahli fikih dan falak dari 14 negara untuk menghadiri seminar internasional fikih falak. Seminar akan mengangkat kembali tema Peluang dan Tantangan Implementasi Kalender Global Hijriah Tunggal.
14 negara yang akan hadir antara lain, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Turki, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Maroko, Yordania, Iran, Amerika Serikat, Inggris, India, dan Irlandia.
“ Seminar Falak Internasional ini bukan hanya hajat umat Islam Indonesia saja tetapi juga dunia, makanya perlu kita perhatikan benar, teknis berjalannya acara,” ujar Dirjen Bimas Islam Kemenag Muhammadiyah Amin, dalam keterangan tertulisnya.
Amin mengatakan, seminar itu sekaligus untuk merespons hasil Konferensi Islam Internasional 2016 di Turki. Dalam konferensi itu, para ulama dan astronomi dari 60 negara yang hadir mencari kesepakatan mengenai perhitungan bulan Qomariyah dan penanggalan Hijriah Global
“ Dari sisi substansi pun, harus dipersiapkan dengan kuat. Meski pembahasan nanti sedikit banyak menanggapi hasil Konferensi Turki 2016 lalu, akan tetapi konsep andalan yang coba wakil Indonesia sodorkan dalam seminar, semoga juga bisa diterima oleh publik muslim dunia,” lanjut Amin.
Rencananya, sekitar 112 pakar ilmu falak dan astronomi Indonesia juga akan ambil bagian dari seminar ini. Kegiatan akan dimulai dengan presentasi tiga narasumber utama, yaitu Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan bahasan Fikih Kalender Hijriyah Global, dan Ketua LAPAN Thomas Jamaludin yang akan membawakan makalah berjudul Unifikasi Kalender Hijriyah Global.
Seminar akan berlangsung pada 28-30 November 2017 di Hotel Aryaduta Jakarta. (ism)
Dream - Hanya dalam beberapa hari, Ramadan akan hadir menyapa kita. Ramadan adalah bulan begitu istimewa bagi seluruh alam.
Allah SWT memberikan pahala yang berlimpah bagi mereka yang beriman. Memohon ampunan, keberkahan dan permintaan lainnya sangat tepat dilakukan ketika Ramadan.
Umat Islam perlu menyambut Ramadan dengan penuh kegembiraan. Juga dengan persiapan baik lahir dan batin.
Hal ini merupakan sunah yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW kepada para sahabatnya. Seperti tertuang dalam kitab Al Musnad karya Imam Ahmad dari Abu Hurairah RA.
" Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya tentang kedatangan bulan Ramadan seraya beliau berkata, 'Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya. Di bulan Ramadan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan seribu bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi'."
Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan atas hadis di atas, para ulama menganjurkan umat Islam untuk mengucapkan selamat menyambut Ramadan. Anjuran tersebut sebagai perwujudan kegembiraan menyambut Ramadan.
Sedangkan Imam Nawawi dalam Al Majmu' Syarh Al Muhadzdzab mengutip sebuah hadis riwayat Tirmizi dari Thalhah bin Ubaidillah.
" Sesungguhnya Nabi SAW ketika telah melihat hilal Ramadan, beliau berdoa, Allahumma ahillahu ‘alaina bil yumni wal imani was salamati wal islam. Rabbi wa rabbukallah (Ya Allah jadikanlah hilal (bulan) ini bagi kami dengan membawa keberkahan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah."
Dream - Syaban sudah memasuki hari akhir. Sebentar lagi, umat Islam menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan 1440 H.
Penetapan awal Ramadan di Indonesia menggunakan metode hisab dan rukyat. Hisab digunakan untuk memprediksi ketinggian hilal, sementara rukyat dipakai untuk memastikan hasil hisab.
Pemerintah sendiri akan menetapkan 1 Ramadan pada sidang isbat. Sidang ini digelar untuk menetapkan awal puasa setelah mempertimbangkan secara seksama hasil rukyatul hilal di sejumlah titik yang telah ditentukan.
Hilal dapat dipandang secara langsung dengan mata telanjang. Namun demikian, penggunaan alat ukur diperlukan untuk memastikan tinggi hilal apakah mencukupi kriteria atau tidak.
Rasulullah Muhammad SAW selalu membaca doa di bawah ini setiap kali menyaksikan hilal.
Advertisement
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia