Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Sampah Medis (Shutterstock.com)
Dream - Penggunaan sampah di masyarakat saat ini terus meningkat. Parahnya, plastik menjadi jenis sampah yang mendominasi dan mengganggu kelestarian lingkungan.
Untuk mengurangi dampak buruk sampah, Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) bersama Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Kementerian Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengusung Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (GRADASI) berbasis masjid.
Kampanye gerakan tersebut bertujuan untuk mengurangi pencemaran sampah plastik. Caranya mengajak masyarakat terutama umat muslim agar melakukan sedekah di masjid.
"Mudah-mudahan ini menjadi hal yang sangat baik, sehingga bisa membangun Gerakan partisipasi publik yang baik di masyarakat,” ujar Direktur Pengelolaan Sampah KLHK, Novrizal Tahar.
Sampah-sampah yang ditampung yaitu sampah yang bernilai ekonomis. Nantinya sampah dikirim ke pengepul ataupun bank sampah, untuk dijual dan hasilnya disumbangkan untuk kegiatan masjid, atau program-program lainnya.
Gerakan ini diharapkan juga dapat menanamkan nilai-nilai kebaikan untuk selalu bersedekah yang tidak harus selalu dengan uang. Serta meningkatkan solidaritas masyarakat terhadap lingkungan, dan membiasakan perilaku memilah sampah untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan sekaligus mendorong peningkatan taraf ekonomi.
“Target supaya kita bisa mewujudkan pengelolaan sampah 100 persen pada tahun 2025 nanti, dan kekuatan modal sosial yang dimiliki oleh Indonesia," kata Novrizal.
Saat ini, Indonesia merupakan negara nomor 2 penyumbang sampah laut terbesar di dunia. Selain itu, juga menempati nomor 2 pembuang sampah organik terbesar dunia setelah Arab Saudi.
Fakta ini menjadi faktor pendorong perbaikan dalam pengelolaan sampah. Jika tidak, maka sampah-sampah tersebut dapat membahayakan kehidupan.
"Sampah mikroplastik yang dibuang ke sungai akan tergerus menjadi nano plastik yang akan mencemari perairan laut yang nantinya dimakan ikan, dan juga garam kita juga akan tercemar,” kata Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (PLH SDA) MUI, Hayu Prabowo.
Hayu menegaskan pengelolaan sampah harus melibatkan berbagai pihak dan dibutuhkan kerja sama yang kuat. Ini agar perairan kita tetap terjaga dari potensi pencemaran sampah.
Guna mendukung upaya kampanye itu, dirilis pula Buku Panduan dan Khutbah "Tata Kelola Sampah Menurut Ajaran Islam" sebagai pedoman untuk pengelolaan sampah sesuai dengan perspektif Islam.
Reporter : Radhika Nada
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


WNI Diduga Tewas saat Jadi Tentara Rusia, Apakah Kewarganegaraan Indonesia Bisa Hilang?



Starvision Rilis Trailer dan Poster Dewi Siluman Ular, Angkat Kisah Pernikahan Manusia dengan Jin

Harga Rumah Makin Tak Terjangkau, Mengapa Terus Melonjak Dibanding Pendapatan?

Hobi Membuat Kue Ternyata Punya 7 Manfaat bagi Kesehatan, Bukan Sekadar Mengisi Waktu Luang

El Niño Diprediksi Menguat, Harga Beras Dunia Terancam Melonjak dan Jutaan Orang Bisa Terdampak