Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan waktu Subuh ditambah delapan menit dari jadwal resmi yang diterbitkan Kementerian Agama. Hal ini mempertimbangkan aspek ketinggian matahari untuk menentukan waktu Subuh secara presisi.
Ketua Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syamsul Anwar, menjelaskan penentuan awal Subuh ini didasarkan pada telaah Alquran, Hadis, maupun realitas objektif di alam.
Para ulama Muhammadiyah telah melakukan pembahasan mengenai titik ketinggian matahari di bawah ufuk saat fajar dalam Musyawarah Nasional Tarjih ke-13 pada 2020 lalu.
"Mengapa Majelis Tarjih mengangkat persoalan ini karena banyaknya pertanyaan, bukan hanya di Indonesia melainkan juga di berbagai belahan dunia," ujar Syamsul, dikutip dari Muhammadiyah.or.id.
Syamsul mencontohkan kasus para pemuda di Maroko yang sengaja menyantap makanan di bulan Ramadan ketika azan Subuh berkumandang.
"Sebagai sikap protes bahwa jadwal resmi masih terlalu pagi," kata dia.
Di Indonesia, terang Syamsul, waktu Subuh mulai dipersoalkan ketika ada pendakwah asal Timur Tengah berkunjung. Pendakwah tersebut heran lantaran azan Subuh di Indonesia dikumandangkan padahal langit masih gelap.
Hal ini kemudian berkembang menjadi perdebatan para ahli. Sementara Majelis Tarjih menyumbangkan parameter terbit fajar yaitu ketinggian matahari di bawah ufuk sekitar -18 derajat.
Keputusan ini mengoreksi terbit fajar yang sebelumnya menggunakan parameter ketinggian matahari pada posisi -20 derajat di bawah ufuk. Artinya, jadwal Subuh yang selama ini digunakan terlalu cepat sekitar delapan menit.
Syamsul juga mengatakan pandangan ini didukung oleh mayoritas ulama pakar astronomi sejauh yang bisa diakses Muhammadiyah. Selain itu, kriteria awal Subuh dengan ketinggian matahari -18 derajat juga digunakan di sejumlah negara seperti Malaysia, Turki, Inggris, Prancis, Australia, dan Nigeria.
Advertisement

Berawal dari Penyakit Misterius dan Mayat Membusuk, Begini Sejarah Mitos Vampir yang Mendunia

3 Jenis Makanan yang Sebaiknya Dihindari Sebelum Olahraga, Menurut Ahli Gizi

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

Sering Minum Boba? Ini 5 Dampaknya bagi Tubuh, dari Gula Darah hingga Asupan Antioksidan

Kenapa Ada Orang Suka Sayur Pahit, tetapi Ada yang Tak Tahan Bau Ketumbar? Ini Penjelasan Sains

Sering Tersengat Listrik Saat Memegang Gagang Pintu? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya

Cuma 10 Menit Olahraga Sehari Bisa Bikin Tidur Lebih Nyenyak, Ini Temuan Peneliti