MUI: Shaf Sholat Kembali Dirapatkan, Pengajian Bisa Digelar

Reporter : Okti Nur Alifia
Kamis, 10 Maret 2022 16:00
MUI: Shaf Sholat Kembali Dirapatkan, Pengajian Bisa Digelar
Shalat berjamaah tidak lagi perlu menerapkan aturan jaga jarak.

Dream - Berbagai aturan protokol kesehatan (prokes) Covid-19 telah dilonggarkan dalam aktivitas publik. Begitu pula aktivitas ibadah sholat berjamaah yang kini dapat dilaksanakan dengan merapatkan shaf, tanpa berjarak.

“ Sholat jemaah kembali pada aturan semula, dirapatkan. Merapatkan shaf saat berjamaah dengan tetap menjaga kesehatan”, ujar Ketua Bidang Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh, Rabu 9 Maret 2022.

Sholat berjamaah tidak lagi perlu menerapkan aturan menjaga jarak, didasarkan dengan kondisi Covid-19 yang semakin membaik. 

“ Fatwa tentang kebolehan perenggangan shaf ketika sholat, itu merupakan rukhshah atau dispensasi karena ada udzur mencegah penularan wabah,” kata Niam. 

“ Dengan melandainya kasus serta adanya pelonggaran aktifitas sosial, termasuk aturan jaga jarak di dalam aktifitas publik, maka udzur yang menjadi dasar adanya dispensasi sudah hilang,” lanjut Niam.

1 dari 1 halaman

Pengajian Dapat Dilaksanakan

Niam menjelaskan, demikian juga aktivitas pengajian di masjid dan perkantoran dapat kembali dilaksanakan dengan tetap disiplin menjaga kesehataan.

Umat muslim pun diminta mengoptimalkan persiapan pelaksanaan ibadah Ramadhan yang akan berlangsung sebulan lagi dengan khusyuk dan semarak. Tentunya  tetap dengan kedisiplinan dalam menjaga kesehatan.

“ Sebentar lagi kita akan memasuki Ramadhan, untuk itu umat Islam perlu mempersiapkan diri lahir batin sebaik-baiknya. Ramadhan sebagai momentum untuk meningkatkan ibadah dan syiar keagamaan serta membangun solidaritas sosial. Kita optimalkan syiar tetapi tetap waspada dan disiplin menjaga kesehatan,” kata Niam.

Diketahui, pelonggaran aturan prokes yang sudah diterapkan seperti penumpang KRL rute perjalanan Jabodetabek dan Yogyakarta-Solo yang tak lagi duduk berjarak. 

Serta Pelaku Perjalanan Dalam Negeri (PPDN) yang tidak wajib menunjukkan hasil negatif rapid test antigen bagi yang sudah vaksin dosis kedua atau ketiga (booster).

Sumber: mui.or.id

 

Beri Komentar