Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an
Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya
Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya
Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang
Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Kuil Bab Dan Taman Bahai Di Haifa, Israel (Shutterstock.com)
Dream - Baha'i tengah menjadi bahan perbincangan setelah viral video ucapan Selamat Hari Raya Naw Ruz dari Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Video itu diunggah saluran YouTube Bahai Indonesia.
Baha'i sebenarnya bukan agama baru di Indonesia. Hanya saja, keberadaan agama ini tidak diakui secara tegas dalam peraturan perundang-undangan.
Dalam situs resminya, Bahai.id, agama ini masuk ke Indonesia dibawa oleh Jamal Effendi, seseorang yang diutus oleh pendiri Baha'i, Baha'ullah. Jamal bersama Sayyid Mustafa Rumi melakukan perjalanan darat dari India menuju ke kawasan timur meliputi Sri Langka, Burma (sekarang Myanmar), dan Penang.
Sekitar 1884-1885, keduanya meninggalkan usaha dagang di Burma untuk kembali ke India. Beberapa tahun kemudian, mereka bepergian ke Dacca (saat ini Dhaka, Bangladesh) lalu ke Bombay dan tinggal di sana selama tiga pekan.
Kemudian, mereka menuju Madras lalu berlayar ke Singapura. Sesampai di Singapura, keduanya meminta izin menuju Jawa lalu melanjutkan perjalanan hingga tiba di Batavia (sekarang Jakarta) dan tinggal di Kampung Arab Pakhojan.
Pemerintah Kolonial Hindia Belanda waktu itu hanya mengizinkan keduanya bepergian ke kota-kota pelabuhan. Mereka pun mengikuti ketentuan tersebut lalu bepergian ke Surabaya.
Perjalanan mereka berlanjut ke Bali dan Lombok. Keduanya sempat bertemu dengan Raja setempat melalui perantara Kepala Bea Cukai Hindia Belanda.
Perjalanan mereka berlanjut ke Makassar, lalu menuju Parepare. Di tempat ini, keduanya disambut Raja Fatta Arongmatua Aron Rafan dan putrinya, Fatta Sima Tana.
Dari Parepare, mereka melanjutkan perjalanan menuju Sedendring, Padalia, dan Fammana. Hingga akhirnya berlabuh di Bone.
Selama di Bone, keduanya sempat diminta bantuan oleh Raja untuk menyiapkan buku panduan administrasi kerajaan. Ketika buku selesai disusun, Sayyid Mustafa Rumi mengatakan kepada Raja buku tersebut ditulis sejalan dengan ajaran-ajaran Baha'i.
Karena waktu berkunjung yang diberikan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda selama 4 bulan hampir habis, keduanya meninggalkan Sulawesi menuju Surabaya. Setelah itu, mereka ke Batavia dan berlanjut ke Singapura.
Melalui jalan darat, mereka kembali menuju India. Melewati rute yang dulu pernah dilewati saat menuju Indonesia.
Advertisement

Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang

5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya

Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya


6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya